<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425</id><updated>2011-07-08T05:16:30.715-07:00</updated><category term='t'/><category term='LAPORAN PENDAHULUAN manarik diri'/><category term='askep GLUKOMA'/><category term='g'/><category term='l'/><category term='v'/><category term='Renungan'/><category term='askep Pneumionia'/><category term='y'/><category term='i'/><category term='r'/><category term='n'/><category term='a'/><category term='askep HERNIA NUKLEUS PULPOSUS'/><category term='w'/><category term='p'/><category term='e'/><category term='LAPORAN PENDAHULUAN  HALUSINASI'/><category term='Cerita tidak jelas'/><category term='ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GAGAL NAFAS'/><category term='LAPORAN PENDAHULUAN SINUSITIS'/><category term='ASKEP APENDISITIS'/><category term='c'/><category term='x'/><category term='m'/><category term='DEPRESI'/><category term='askep ERITRODERMA'/><category term='h'/><category term='u'/><category term='askep SINUSITIS'/><category term='j'/><category term='z'/><category term='askep Stroke Haemoragic'/><category term='k'/><category term='DIABETES MELLITUS'/><category term='LAPORAN PENDAHULUAN Resiko perilaku kekerasan'/><category term='q'/><category term='LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI'/><category term='f'/><category term='b'/><category term='askep DIARE'/><category term='d'/><category term='Asuhan Keperawatan Aids'/><category term='o'/><category term='ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN FRAKTUR CRURIS'/><category term='s'/><category term='Curhat'/><title type='text'>asuhan keperawatan den</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>48</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-4147248742225380459</id><published>2009-08-13T17:19:00.000-07:00</published><updated>2009-08-13T17:21:58.138-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Asuhan Keperawatan Aids'/><title type='text'>Aids</title><content type='html'>AIDS &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian &lt;br /&gt;AIDS atauAcquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh vurus yang disebut HIV. Dalam bahasa Indonesia dapat dialih katakana sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh Dapatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acquired : Didapat, Bukan penyakit keturunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Immune : Sistem kekebalan tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deficiency : Kekurangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syndrome : Kumpulan gejala-gejala penyakit&lt;br /&gt;Kerusakan progrwsif pada system kekebalan tubuh menyebabkan ODHA ( orang dengan HIV /AIDS ) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit. Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal.&lt;br /&gt;AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya tahan tubuh yang diakibatkan oleh factor luar ( bukan dibawa sejak lahir )&lt;br /&gt;AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). ( Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare )&lt;br /&gt;AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi ( Center for Disease Control and Prevention )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II, LAV, RAV. Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) yang berupa agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T.&lt;br /&gt;Patofisiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T 4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menurunya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur oportunistik ) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1 januari 1993, orang-orang dengan keadaan yang merupakan indicator AIDS (kategori C) dan orang yang termasuk didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita AIDS.&lt;br /&gt;Kategori Klinis A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam kategori klinis B dan C&lt;br /&gt;Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik.&lt;br /&gt;Limpanodenopati generalisata yang persisten ( PGI : Persistent Generalized Limpanodenophaty )&lt;br /&gt;Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) primer akut dengan sakit yang menyertai atau riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.&lt;br /&gt;Kategori Klinis B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup :&lt;br /&gt;Angiomatosis Baksilaris&lt;br /&gt;Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen,frekuen / responnya jelek terhadap terapi&lt;br /&gt;Displasia Serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ )&lt;br /&gt;Gejala konstitusional seperti panas ( 38,5o C ) atau diare lebih dari 1 bulan.&lt;br /&gt;Leukoplakial yang berambut&lt;br /&gt;Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda / terjadi pada lebih dari satu dermaton saraf.&lt;br /&gt;Idiopatik Trombositopenik Purpura&lt;br /&gt;Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii&lt;br /&gt;Kategori Klinis C&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup :&lt;br /&gt;Kandidiasis bronkus,trakea / paru-paru, esophagus&lt;br /&gt;Kanker serviks inpasif&lt;br /&gt;Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata&lt;br /&gt;Kriptokokosis ekstrapulmoner&lt;br /&gt;Kriptosporidosis internal kronis&lt;br /&gt;Cytomegalovirus ( bukan hati,lien, atau kelenjar limfe )&lt;br /&gt;Refinitis Cytomegalovirus ( gangguan penglihatan )&lt;br /&gt;Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) &lt;br /&gt;Herpes simpleks (ulkus kronis,bronchitis,pneumonitis / esofagitis )&lt;br /&gt;Histoplamosis diseminata / ekstrapulmoner )&lt;br /&gt;Isoproasis intestinal yang kronis&lt;br /&gt;Sarkoma Kaposi&lt;br /&gt;Limpoma Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak&lt;br /&gt;Kompleks mycobacterium avium ( M.kansasi yang diseminata / ekstrapulmoner&lt;br /&gt;M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner )&lt;br /&gt;Mycobacterium, spesies lain,diseminata / ekstrapulmoner&lt;br /&gt;Pneumonia Pneumocystic Cranii&lt;br /&gt;Pneumonia Rekuren&lt;br /&gt;Leukoenselophaty multifokal progresiva&lt;br /&gt;Septikemia salmonella yang rekuren&lt;br /&gt;Toksoplamosis otak&lt;br /&gt;Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus ( HIV) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Gejala Dan Tanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1 – 2 minggu pasien akan merasakan sakit seperti flu. Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam, keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan ruam kulit, limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk menibgitis, kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial, atipikal&lt;br /&gt;infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher, radang kelenjar getah bening, dan bercak merah ditubuh.&lt;br /&gt;Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh hasil positif.&lt;br /&gt;Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Komplikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Oral Lesi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan berat badan, keletihan dan cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Neurologik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Gastrointestinal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Respirasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Dermatologik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Sensorik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak terinfeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terpinya yaitu :&lt;br /&gt;Pengendalian Infeksi Opurtunistik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertujuan menghilangkan,mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik,nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.&lt;br /&gt;Terapi AZT (Azidotimidin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya &lt;&gt;3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 &gt; 500 mm3&lt;br /&gt;Terapi Antiviral Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– Didanosine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– Ribavirin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– Diedoxycytidine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;– Recombinant CD 4 dapat larut&lt;br /&gt;Vaksin dan Rekonstruksi Virus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.&lt;br /&gt;Pendidikan untuk menghindari alcohol dan obat terlarang, makan-makanan sehat,hindari stress,gizi yang kurang,alcohol dan obat-obatan yang mengganggu fungsi imun.&lt;br /&gt;Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Dasar Asuhan Keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengkajian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Riwayat Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Umur kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun sangat tertekan pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pada lansia, atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. Diabetes meilitus, anemia aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang kronis, keberadaan penyakit seperti ini harus dianggap sebagai factor penunjang saat mengkaji status imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi yang berhubungan dengan kelainan hospes :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi radiasi,defisiensi nutrisi,penuaan,aplasia timik,limpoma,kortikosteroid,globulin anti limfosit,disfungsi timik congenital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kerusakan imunitas humoral (Antibodi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limfositik leukemia kronis,mieloma,hipogamaglobulemia congenital,protein – liosing enteropati (peradangan usus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Sujektif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Aktifitas / Istirahat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas ( Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sirkulasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada cedera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat / sianosis, perpanjangan pengisian kapiler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Integritas dan Ego &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan, mengingkari doagnosa, putus asa,dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Eliminasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : Diare intermitten, terus – menerus, sering dengan atau tanpa kram abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal,perianal,perubahan jumlah,warna,dan karakteristik urine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Makanan / Cairan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang buruk, edema&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hygiene&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Neurosensoro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Nyeri / Kenyamanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada pleuritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan gerak,pincang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pernafasan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak pada dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya sputum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keamanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : Riwayat jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit defisiensi imun, demam berulang,berkeringat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul, pelebaran kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Seksualitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : Riwayat berprilaku seks beresiko tinggi,menurunnya libido,penggunaan pil pencegah kehamilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda : Kehamilan,herpes genetalia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Interaksi Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis,isolasi,kesepian,adanya trauma AIDS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda : Perubahan interaksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penyuluhan / Pembelajaran &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala : Kegagalan dalam perawatan,prilaku seks beresiko tinggi,penyalahgunaan obat-obatan IV,merokok,alkoholik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pemeriksaan Diagnostik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tes Laboratorium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Serologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tes antibody serum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skrining Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan ELISA. Hasil tes positif, tapi bukan merupakan diagnosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tes blot western&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sel T limfosit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penurunan jumlah total&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sel T4 helper&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator system imun (jumlah &lt;200&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- T8 ( sel supresor sitopatik )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke T4 ) mengindikasikan supresi imun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- P24 ( Protein pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV ) )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kadar Ig&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Reaksi rantai polimerase&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tes PHS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembungkus hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Histologis, pemeriksaan sitologis urine, darah, feces, cairan spina, luka, sputum, dan sekresi, untuk mengidentifikasi adanya infeksi : parasit, protozoa, jamur, bakteri, viral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Neurologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)&lt;br /&gt;Tes Lainnya&lt;br /&gt;Sinar X dada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya komplikasi lain&lt;br /&gt;Tes Fungsi Pulmonal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deteksi awal pneumonia interstisial&lt;br /&gt;Skan Gallium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia lainnya.&lt;br /&gt;Biopsis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi&lt;br /&gt;Brankoskopi / pencucian trakeobronkial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilakukan dengan biopsy pada waktu PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Tes Antibodi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut. Antibody terbentuk dalam 3 – 12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6 – 12 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan mendeteksi antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji – kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau plasma. Tes tersebut, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tes Enzym – Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Orang yang dalam darahnya terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) disebut seropositif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Western Blot Assay&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Indirect Immunoflouresence&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendeteksi protein dari pada antibody.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pelacakan Human Immunodeficiency Virus (HIV)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan langsung ada dan aktivitasnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk melacak perjalanan penyakit dan responnya. Protein tersebut disebut protein virus p24, pemerikasaan p24 antigen capture assay sangat spesifik untuk HIV – 1. tapi kadar p24 pada penderita infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) sangat rendah, pasien dengantiter p24 punya kemungkinan lebih lanjut lebih besar dari menjadi AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan ini digunakan dengan tes lainnya untuk mengevaluasi efek anti virus. Pemeriksaan kultur Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau kultur plasma kuantitatif dan viremia plasma merupakan tes tambahan yang mengukur beban virus ( viral burden )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AIDS muncul setelah benteng pertahanan tubuh yaitu sistem kekebalan alamiah melawan bibit penyakit runtuh oleh virus HIV, dengan runtuhnya/hancurnya sel-sel limfosit T karena kekurangan sel T, maka penderita mudah sekali terserang infeksi dan kanker yang sederhana sekalipun, yang untuk orang normal tidak berarti. Jadi bukan AIDS nya sendiri yang menyebabkan kematian penderita, melainkan infeksi dan kanker yang dideritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIV biasanya ditularkan melalui hubungan seks dengan orang yang mengidap virus tersebut dan terdapat kontak langsung dengan darah atau produk darah dan cairan tubuh lainnya. Pada wanita virus mungkin masuk melalui luka atau lecet pada mulut rahim/vagina. Begitu pula virus memasuki aliran darah pria jika pada genitalnya ada luka/lecet. Hubungan seks melalui anus berisiko tinggi untuk terinfeksi, namun juga vaginal dan oral. HIV juga dapat ditularkan melalui kontak langsung darah dengan darah, seperti jarum suntik (pecandu obat narkotik suntikan), transfusi darah/produk darah dan ibu hamil ke bayinya saat melahirkan. Tidak ada bukti penularan melalui kontak sehari-hari seperti berjabat tangan, mencium, gels bekas dipakai penderita, handuk atau melalui closet umum, karena virus ini sangat rapuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa inkubasi/masa laten sangat tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing orang, rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan gejala-gejala, walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel T4 semakin menururn. Semakin rendah jumlah sel T4, semakin rusak sistem kekebalan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu sistem kekebalan tubuh sudah dalam keadaan parah, seseorang yang mengidap HIV/AIDS akan mulai menampakkan gejala-gejala AIDS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-4147248742225380459?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/4147248742225380459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/08/aids.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4147248742225380459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4147248742225380459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/08/aids.html' title='Aids'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-6832979395752830159</id><published>2009-08-06T08:22:00.001-07:00</published><updated>2009-08-06T08:22:13.975-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita tidak jelas'/><title type='text'>Hayati hidup</title><content type='html'>Hidup itu indah.&lt;br /&gt;Biarpun cuma sesaat tapi berjuta rasa. Senang cuma sesaat, sedih juga sesaat, tertawa juga sesaat, menangis,tersenyum,merana,bahagia,kecewa dan lain-lain rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Semua rasa itu silih berganti mewarnai kehidupan ini, bagaikan roda yang terus berputar. Kaya, miskin, tua, muda (yang masih normal) sama rata bisa merasakannya, sungguh adil sang pencipta. Begitu banyak orang didunia ini beda rupa, karakter, juga beda cara menyikapi. Pernahkah dalam hati bertanya "aku hidup untuk apa?"&lt;br /&gt;Aku hidup untuk siapa?&lt;br /&gt;Aku hidup tujuannya apa?&lt;br /&gt;pertanyaan yg mudah di jawab tapi sulit untuk direalisasikan!!&lt;br /&gt;Aduh aku belum bisa menjawab pertanyaanku sendiri. Akankah hidupku penuh tanda tanya gak jelaz? Kapan aku bisa merubah hidupku yang monoton penuh luka putus asa? Kapan aku bisa menerima kenyataan apa yang telah terjadi sampai sekarang terus membayangi? Pertanyaan yg terakhir "kapan aku bisa menjawab pertanyaanku ini?? Akankah terjawab?!"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-6832979395752830159?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/6832979395752830159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/08/hayati-hidup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/6832979395752830159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/6832979395752830159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/08/hayati-hidup.html' title='Hayati hidup'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-3316114511770277632</id><published>2009-08-05T08:15:00.001-07:00</published><updated>2009-08-05T08:15:10.774-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Curhat'/><title type='text'>Hancur hatiku</title><content type='html'>Hari ini hari yang cukup indah buatku. Begini saudara ceritanya, panjang sekali saudara ceritanya. mulai bangun tidur sekujur tubuhku terasa gatal lalu tak garuk malah benjol semua setelah itu badanku terasa demam lalu aku tidur lagi. Setelah bangun lagi aku mandi habis itu nyuci pakaian eh sakitku malah tambah tambah parah, daripada aku susah mikirin sakit aq buka hp mo buka facebook eh malah hpku blank. Lalu aku keluar jalan-jalan sekalian servis hpku yg rusak, sesudah sampai di konter mekaniknya bilang nanti jam7 selesai mas.. Yaudh q tinggal nongkrong dulu sampai jam7 aku balik ke konter truz nunggu sampai jam9 ternyata hpku blm kelar,,mekaniknya bilang besok kelar mas gitu. Kalau besok belum kelar kontermu mo tak bakar ucapku dlm hati. Yaudh lalu aku pulang sesampai dikamar aku nyalakan komputer berniat menyetel musik rock kesukaanku untuk mengusir stres di otakku, setelah komputer nyala aku klik winamp utuk mendengarkan musik eh malah winampnya eror. Lalu aku matikan komputerku, lalu aku pergi ke dapur mo makan perutku lapar banget. Sesampai didapur gak ad makanan sama sekali aduh laper banget.. Yaudhlah mo ngrokok aj, rokokku masih bnyk. Truz nyalainnya pake apa ya, ternyata gk ad korek. Judule sungguh terlalu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-3316114511770277632?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/3316114511770277632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/08/hancur-hatiku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/3316114511770277632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/3316114511770277632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/08/hancur-hatiku.html' title='Hancur hatiku'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-3073237359946258547</id><published>2009-08-01T04:33:00.001-07:00</published><updated>2009-08-01T04:33:56.048-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Fitnah</title><content type='html'>Kalau tidak salah kawan rokib tercipta sebagai pencatat amal buruk manusia yang kelak akan diminta pertanggung jawaban.&lt;br /&gt;Banyak manusia yang tidak sadar akan adanya kawan rokib dan atit yang selalu menemani kita disetiap langkah, yang selalu mencatat amal baik kita dan amal buruk kita. Kenapa manusia malah sibuk menilai sesamanya,mencatat kekurangan dan kejelekan atau aib sesamanya bahkan ada manusia yang tega menyebarkan fitnah??? Jawab goblog!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-3073237359946258547?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/3073237359946258547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/08/fitnah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/3073237359946258547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/3073237359946258547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/08/fitnah.html' title='Fitnah'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-8153475371673458200</id><published>2009-07-26T06:53:00.001-07:00</published><updated>2009-07-26T06:53:34.452-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='a'/><title type='text'>accept</title><content type='html'>accept your self as it is&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-8153475371673458200?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/8153475371673458200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/accept.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/8153475371673458200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/8153475371673458200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/accept.html' title='accept'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-7245594605224987459</id><published>2009-07-26T06:52:00.002-07:00</published><updated>2009-07-26T06:53:03.781-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b'/><title type='text'>believe</title><content type='html'>believe towards your ability to reachess what you want in life&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-7245594605224987459?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/7245594605224987459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/believe.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/7245594605224987459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/7245594605224987459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/believe.html' title='believe'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-4062250989139221296</id><published>2009-07-26T06:52:00.001-07:00</published><updated>2009-07-26T06:52:28.077-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='c'/><title type='text'>care</title><content type='html'>care in your ability reachess what you want in life&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-4062250989139221296?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/4062250989139221296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/care.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4062250989139221296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4062250989139221296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/care.html' title='care'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-4156849556368694939</id><published>2009-07-26T06:50:00.000-07:00</published><updated>2009-07-26T06:52:00.471-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='d'/><title type='text'>dinstruct</title><content type='html'>dinstruct idea in positive matter that increase self belief&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-4156849556368694939?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/4156849556368694939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/dinstruct.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4156849556368694939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4156849556368694939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/dinstruct.html' title='dinstruct'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-3465720703382869381</id><published>2009-07-26T06:49:00.002-07:00</published><updated>2009-07-26T06:50:42.956-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='e'/><title type='text'>earn</title><content type='html'>accept appreciation that given another person permanently try to be best&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-3465720703382869381?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/3465720703382869381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/earn.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/3465720703382869381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/3465720703382869381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/earn.html' title='earn'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-698229393661647414</id><published>2009-07-26T06:49:00.001-07:00</published><updated>2009-07-26T06:49:46.401-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='f'/><title type='text'>face</title><content type='html'>face problem truly and sure&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-698229393661647414?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/698229393661647414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/face.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/698229393661647414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/698229393661647414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/face.html' title='face'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-414348751091094825</id><published>2009-07-26T06:48:00.002-07:00</published><updated>2009-07-26T06:49:10.557-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='g'/><title type='text'>go</title><content type='html'>leave from truth&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-414348751091094825?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/414348751091094825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/go.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/414348751091094825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/414348751091094825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/go.html' title='go'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-67626071620232325</id><published>2009-07-26T06:48:00.001-07:00</published><updated>2009-07-26T06:48:44.546-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='h'/><title type='text'>homework</title><content type='html'>homework important step for information collecting&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-67626071620232325?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/67626071620232325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/homework.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/67626071620232325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/67626071620232325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/homework.html' title='homework'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-3831213839547528479</id><published>2009-07-26T06:47:00.002-07:00</published><updated>2009-07-26T06:48:06.692-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='i'/><title type='text'>ignore</title><content type='html'>ignore reproach one who get in the way your road achieves aim&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-3831213839547528479?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/3831213839547528479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/ignore.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/3831213839547528479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/3831213839547528479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/ignore.html' title='ignore'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-5800163054611288452</id><published>2009-07-26T06:47:00.001-07:00</published><updated>2009-07-26T06:47:34.397-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='j'/><title type='text'>jealously</title><content type='html'>jealously can make you can not appreciate your surplus self&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-5800163054611288452?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/5800163054611288452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/jealously.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/5800163054611288452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/5800163054611288452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/jealously.html' title='jealously'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-6516817396911538442</id><published>2009-07-26T06:46:00.002-07:00</published><updated>2009-07-26T06:47:03.920-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='k'/><title type='text'>keep</title><content type='html'>then try although several times fail&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-6516817396911538442?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/6516817396911538442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/keep.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/6516817396911538442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/6516817396911538442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/keep.html' title='keep'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-9142570671668866399</id><published>2009-07-26T06:46:00.001-07:00</published><updated>2009-07-26T06:46:27.941-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='l'/><title type='text'>learn</title><content type='html'>learn from error and out for doesn't repeating it&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-9142570671668866399?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/9142570671668866399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/learn.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/9142570671668866399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/9142570671668866399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/learn.html' title='learn'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-4298953386360753826</id><published>2009-07-26T06:44:00.002-07:00</published><updated>2009-07-26T06:45:26.442-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='m'/><title type='text'>mind</title><content type='html'>look at affair self and doesn't scattered gossip about another person&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-4298953386360753826?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/4298953386360753826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/mind.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4298953386360753826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4298953386360753826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/mind.html' title='mind'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-4085445259917861537</id><published>2009-07-26T06:44:00.001-07:00</published><updated>2009-07-26T06:44:49.344-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='n'/><title type='text'>never</title><content type='html'>don't involved sex scandal, prohibitive medicine,  and alcohol&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-4085445259917861537?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/4085445259917861537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/never.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4085445259917861537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4085445259917861537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/never.html' title='never'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-9126640373554402747</id><published>2009-07-26T06:43:00.000-07:00</published><updated>2009-07-26T06:44:03.797-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='o'/><title type='text'>observe</title><content type='html'>perceive every thing at around you. look at, listen to, learn from another person.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-9126640373554402747?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/9126640373554402747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/observe.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/9126640373554402747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/9126640373554402747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/observe.html' title='observe'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-5053587881779064817</id><published>2009-07-26T06:42:00.002-07:00</published><updated>2009-07-26T06:43:28.798-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='p'/><title type='text'>patience</title><content type='html'>patient priceless strength that makes you then try&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-5053587881779064817?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/5053587881779064817/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/patience.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/5053587881779064817'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/5053587881779064817'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/patience.html' title='patience'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-1736523272165266093</id><published>2009-07-26T06:42:00.001-07:00</published><updated>2009-07-26T06:42:51.065-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='q'/><title type='text'>question</title><content type='html'>question necessary to look for true answer and science increase&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-1736523272165266093?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/1736523272165266093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/question.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/1736523272165266093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/1736523272165266093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/question.html' title='question'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-2024322435973805972</id><published>2009-07-26T06:41:00.002-07:00</published><updated>2009-07-26T06:42:16.347-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='r'/><title type='text'>respect</title><content type='html'>esteem ownself and also another person&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-2024322435973805972?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/2024322435973805972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/respect.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/2024322435973805972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/2024322435973805972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/respect.html' title='respect'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-3750289080096686992</id><published>2009-07-26T06:41:00.001-07:00</published><updated>2009-07-26T06:41:42.060-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='s'/><title type='text'>self</title><content type='html'>self confidence, selfrespect, self image, self honour will free us from moment moment tense&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-3750289080096686992?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/3750289080096686992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/self.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/3750289080096686992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/3750289080096686992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/self.html' title='self'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-2313898920215770955</id><published>2009-07-26T06:40:00.000-07:00</published><updated>2009-07-26T06:41:08.237-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='t'/><title type='text'>take</title><content type='html'>responsible in every your action&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-2313898920215770955?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/2313898920215770955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/take.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/2313898920215770955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/2313898920215770955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/take.html' title='take'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-8932525599791304560</id><published>2009-07-26T06:36:00.001-07:00</published><updated>2009-07-26T06:36:48.692-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='u'/><title type='text'>understand</title><content type='html'>comprehend that that alive fluctuates, but there's nothing can beat you&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-8932525599791304560?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/8932525599791304560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/understand.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/8932525599791304560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/8932525599791304560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/understand.html' title='understand'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-927510780585447870</id><published>2009-07-26T06:35:00.000-07:00</published><updated>2009-07-26T06:36:12.588-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='v'/><title type='text'>value</title><content type='html'>ownself value and another person, try to do best&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-927510780585447870?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/927510780585447870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/value.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/927510780585447870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/927510780585447870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/value.html' title='value'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-4399448705796339600</id><published>2009-07-26T06:34:00.000-07:00</published><updated>2009-07-26T06:35:13.550-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='w'/><title type='text'>work</title><content type='html'>work actively, don't forget to pray&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-4399448705796339600?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/4399448705796339600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/work.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4399448705796339600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4399448705796339600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/work.html' title='work'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-7029972524546264205</id><published>2009-07-26T06:33:00.002-07:00</published><updated>2009-07-26T06:34:20.687-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='x'/><title type='text'>x'tra</title><content type='html'>harder effort brings success&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-7029972524546264205?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/7029972524546264205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/xtra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/7029972524546264205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/7029972524546264205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/xtra.html' title='x&apos;tra'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-6811715872335207647</id><published>2009-07-26T06:33:00.001-07:00</published><updated>2009-07-26T06:33:39.356-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='y'/><title type='text'>you</title><content type='html'>you can make a different&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-6811715872335207647?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/6811715872335207647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/you.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/6811715872335207647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/6811715872335207647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/you.html' title='you'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-1975870579986348031</id><published>2009-07-26T06:32:00.001-07:00</published><updated>2009-07-26T06:32:57.148-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='z'/><title type='text'>zero</title><content type='html'>effort zero bring result zero also&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-1975870579986348031?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/1975870579986348031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/zero.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/1975870579986348031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/1975870579986348031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/07/zero.html' title='zero'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-5642939413042219112</id><published>2009-06-22T23:52:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T23:57:51.646-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='askep GLUKOMA'/><title type='text'>GLUKOMA</title><content type='html'>GLUKOMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. DEFINISI&lt;br /&gt;Glaukoma adalah suatu penyakit yang memberikan gambaran klinik berupa peninggian tekanan bola mata, penggaungan papil saraf optik dengan defek lapang pandangan mata.(Sidarta Ilyas,2000).&lt;br /&gt;Galukoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraokuler.( Long Barbara, 1996)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. ETIOLOGI&lt;br /&gt;Penyakit yang ditandai dengan peninggian tekanan intraokuler ini disebabkan oleh :&lt;br /&gt;- Bertambahnya produksi cairan mata oleh badan ciliary&lt;br /&gt;- Berkurangnya pengeluaran cairan mata di daerah sudut bilik mata atau di celah pupil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. KLASIFIKASI&lt;br /&gt;1. Glaukoma primer&lt;br /&gt;- Glaukoma sudut terbuka&lt;br /&gt;Merupakan sebagian besar dari glaukoma ( 90-95% ) , yang meliputi kedua mata. Timbulnya kejadian dan kelainan berkembang secara lambat. Disebut sudut terbuka karena humor aqueousmempunyai pintu terbuka ke jaringan trabekular. Pengaliran dihambat oleh perubahan degeneratif jaringan rabekular, saluran schleem, dan saluran yg berdekatan. Perubahan saraf optik juga dapat terjadi. Gejala awal biasanya tidak ada, kelainan diagnose dengan peningkatan TIO dan sudut ruang anterior normal. Peningkatan tekanan dapat dihubungkan dengan nyeri mata yang timbul.&lt;br /&gt;- Glaukoma sudut tertutup(sudut sempit)&lt;br /&gt;Disebut sudut tertutup karena ruang anterior secara anatomis menyempit sehingga iris terdorong ke depan, menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor aqueous mengalir ke saluran schlemm. Pergerakan iris ke depan dapat karena peningkatan tekanan vitreus, penambahan cairan di ruang posterior atau lensa yang mengeras karena usia tua. Gejala yang timbul dari penutupan yang tiba- tiba dan meningkatnya TIO, dapat berupa nyeri mata yang berat, penglihatan yang kabur dan terlihat hal. Penempelan iris menyebabkan dilatasi pupil, bila tidak segera ditangani akan terjadi kebutaan dan nyeri yang hebat.&lt;br /&gt;2. Glaukoma sekunder&lt;br /&gt;Dapat terjadi dari peradangan mata , perubahan pembuluh darah dan trauma . Dapat mirip dengan sudut terbuka atau tertutup tergantung pada penyebab.&lt;br /&gt;- Perubahan lensa&lt;br /&gt;- Kelainan uvea&lt;br /&gt;- Trauma&lt;br /&gt;- bedah&lt;br /&gt;3. Glaukoma kongenital&lt;br /&gt;- Primer atau infantil&lt;br /&gt;- Menyertai kelainan kongenital lainnya&lt;br /&gt;4. Glaukoma absolut&lt;br /&gt;Merupakan stadium akhir glaukoma ( sempit/ terbuka) dimana sudah terjadi kebutaan total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut .Pada glaukoma absolut kornea terlihat keruh, bilik mata dangkal, papil atrofi dengan eksvasi glaukomatosa, mata keras seperti batu dan dengan rasa sakit.sering mata dengan buta ini mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah sehingga menimbulkan penyulit berupa neovaskulisasi pada iris, keadaan ini memberikan rasa sakit sekali akibat timbulnya glaukoma hemoragik.&lt;br /&gt;Pengobatan glaukoma absolut dapat dengan memberikan sinar beta pada badan siliar, alkohol retrobulber atau melakukan pengangkatan bola mata karena mata telah tidak berfungsi dan memberikan rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan lamanya :&lt;br /&gt;1. GLAUKOMA AKUT&lt;br /&gt;a. Definisi&lt;br /&gt;Glaukoma akut adalah penyakit mata yang disebabkan oleh tekanan intraokuler yang meningkat mendadak sangat tinggi.&lt;br /&gt;b. Etiologi&lt;br /&gt;Dapat terjadi primer, yaitu timbul pada mata yang memiliki bakat bawaan berupa sudut bilik mata depan yang sempit pada kedua mata, atau secara sekunder sebagai akibat penyakit mata lain. Yang paling banyak dijumpai adalah bentuk primer, menyerang pasien usia 40 tahun atau lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Faktor Predisposisi&lt;br /&gt;Pada bentuk primer, faktor predisposisinya berupa pemakaian obat-obatan midriatik, berdiam lama di tempat gelap, dan gangguan emosional. Bentuk sekunder sering disebabkan hifema, luksasi/subluksasi lensa, katarak intumesen atau katarak hipermatur, uveitis dengan suklusio/oklusio pupil dan iris bombe, atau pasca pembedahan intraokuler.&lt;br /&gt;d. Manifestasi klinik&lt;br /&gt;1). Mata terasa sangat sakit. Rasa sakit ini mengenai sekitar mata dan daerah belakang kepala .&lt;br /&gt;2). Akibat rasa sakit yang berat terdapat gejala gastrointestinal berupa mual dan muntah , kadang-kadang dapat mengaburkan gejala glaukoma akut.&lt;br /&gt;3). Tajam penglihatan sangat menurun.&lt;br /&gt;4). Terdapat halo atau pelangi di sekitar lampu yang dilihat.&lt;br /&gt;5). Konjungtiva bulbi kemotik atau edema dengan injeksi siliar.&lt;br /&gt;6). Edema kornea berat sehingga kornea terlihat keruh.&lt;br /&gt;7). Bilik mata depan sangat dangkal dengan efek tyndal yang positif, akibat timbulnya reaksi radang uvea.&lt;br /&gt;8). Pupil lebar dengan reaksi terhadap sinar yang lambat.&lt;br /&gt;9). Pemeriksaan funduskopi sukar dilakukan karena terdapat kekeruhan media penglihatan.&lt;br /&gt;10). Tekanan bola mata sangat tinggi.&lt;br /&gt;11). Tekanan bola mata antara dua serangan dapat sangat normal.&lt;br /&gt;e. Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;Pengukuran dengan tonometri Schiotz menunjukkan peningkatan tekanan.&lt;br /&gt;Perimetri, Gonioskopi, dan Tonografi dilakukan setelah edema kornea menghilang.&lt;br /&gt;f. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;Penderita dirawat dan dipersiapkan untuk operasi. Dievaluasi tekanan intraokuler (TIO) dan keadaan mata. Bila TIO tetap tidak turun, lakukan operasi segera. Sebelumnya berikan infus manitol 20% 300-500 ml, 60 tetes/menit. Jenis operasi, iridektomi atau filtrasi, ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaab gonoskopi setelah pengobatan medikamentosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. GLAUKOMA KRONIK&lt;br /&gt;a. Definisi&lt;br /&gt;Glaukoma kronik adalah penyakit mata dengan gejala peningkatan tekanan bola mata sehingga terjadi kerusakan anatomi dan fungsi mata yang permanen.&lt;br /&gt;b. Etiologi&lt;br /&gt;Keturunan dalam keluarga, diabetes melitus, arteriosklerosis, pemakaian kortikosteroid jangka panjang, miopia tinggi dan progresif.&lt;br /&gt;c. Manifestasi klinik&lt;br /&gt;Gejala-gejala terjadi akibat peningkatan tekanan bola mata. Penyakit berkembang secara lambat namun pasti. Penampilan bola mata seperti normal dan sebagian tidak mempunyai keluhan pada stadium dini. Pada stadium lanjut keluhannya berupa pasien sering menabrak karena pandangan gelap, lebih kabur, lapang pandang sempit, hingga kebutaan permanen.&lt;br /&gt;d. Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;Pemeriksaan tekanan bola mata dengan palpasi dan tonometri menunjukkan peningkatan. Nilai dianggap abnormal 21-25 mmHg dan dianggap patologik diatas 25 mmHg.&lt;br /&gt;Pada funduskopi ditemukan cekungan papil menjadi lebih lebar dan dalam, dinding cekungan bergaung, warna memucat, dan terdapat perdarahan papil. Pemeriksaan lapang pandang menunjukkan lapang pandang menyempit, depresi bagian nasal, tangga Ronne, atau skotoma busur.&lt;br /&gt;e. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;Pasien diminta datang teratur 6 bulan sekali, dinilai tekanan bola mata dan lapang pandang. Bila lapang pandang semakin memburuk,meskipun hasil pengukuran tekanan bola mata dalam batas normal, terapi ditingkatkan. Dianjurkan berolahraga dan minum harus sedikit-sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. PATHWAY GLAUKOMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. ASUHAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1). Pengkajian&lt;br /&gt;a) Aktivitas / Istirahat :&lt;br /&gt;Perubahan aktivitas biasanya / hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan.&lt;br /&gt;b) Makanan / Cairan :&lt;br /&gt;Mual, muntah (glaukoma akut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Neurosensori :&lt;br /&gt;Gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/merasa di ruang gelap (katarak).&lt;br /&gt;Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotofobia(glaukoma akut).&lt;br /&gt;Perubahan kacamata/pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.&lt;br /&gt;Tanda :&lt;br /&gt;Papil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berawan.&lt;br /&gt;Peningkatan air mata.&lt;br /&gt;d) Nyeri / Kenyamanan :&lt;br /&gt;Ketidaknyamanan ringan/mata berair (glaukoma kronis)&lt;br /&gt;Nyeri tiba-tiba/berat menetap atau tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala (glaukoma akut).&lt;br /&gt;e) Penyuluhan / Pembelajaran&lt;br /&gt;Riwayat keluarga glaukoma, DM, gangguan sistem vaskuler.&lt;br /&gt;Riwayat stres, alergi, gangguan vasomotor (contoh: peningkatan tekanan vena), ketidakseimbangan endokrin.&lt;br /&gt;Terpajan pada radiasi, steroid/toksisitas fenotiazin.&lt;br /&gt;2). Pemeriksaan Diagnostik&lt;br /&gt;(1) Kartu mata Snellen/mesin Telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan) : Mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, aquous atau vitreus humor, kesalahan refraksi, atau penyakit syaraf atau penglihatan ke retina atau jalan optik.&lt;br /&gt;(2) Lapang penglihatan : Penurunan mungkin disebabkan CSV, massa tumor pada hipofisis/otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.&lt;br /&gt;(3) Pengukuran tonografi : Mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12-25 mmHg)&lt;br /&gt;(4) Pengukuran gonioskopi :Membantu membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glaukoma.&lt;br /&gt;(5) Tes Provokatif :digunakan dalam menentukan tipe glaukoma jika TIO normal atau hanya meningkat ringan.&lt;br /&gt;(6) Pemeriksaan oftalmoskopi:Mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan retina, dan mikroaneurisma.&lt;br /&gt;(7) Darah lengkap, LED :Menunjukkan anemia sistemik/infeksi.&lt;br /&gt;(8) EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid: Memastikan aterosklerosisi,PAK.&lt;br /&gt;(9) Tes Toleransi Glukosa :menentukan adanya DM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Diagnosa Keperawatan Dan Intervensi&lt;br /&gt;a. Nyeri b/d peningkatan tekanan intra okuler (TIO) yang ditandai dengan mual dan muntah.&lt;br /&gt;Tujuan : Nyeri hilang atau berkurang&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- pasien mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian pengontrolan nyeri&lt;br /&gt;- pasien mengatakan nyeri berkurang/hilang&lt;br /&gt;- ekspresi wajah rileks&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;- kaji tipe intensitas dan lokasi nyeri&lt;br /&gt;- kaji tingkatan skala nyeri untuk menentukan dosis analgesik&lt;br /&gt;- anjurkan istirahat ditempat tidur dalam ruangan yang tenang&lt;br /&gt;- atur sikap fowler 300 atau dalam posisi nyaman.&lt;br /&gt;- Hindari mual, muntah karena ini akan meningkatkan TIO&lt;br /&gt;- Alihkan perhatian pada hal-hal yang menyenangkan&lt;br /&gt;- Berikan analgesik sesuai anjuran&lt;br /&gt;b. Gangguan persepsi sensori : penglihatan b.d gangguan penerimaan;gangguan status organ ditandai dengan kehilangan lapang pandang progresif.&lt;br /&gt;Tujuan : Penggunaan penglihatan yang optimal&lt;br /&gt;Kriteria Hasil:&lt;br /&gt;- Pasien akan berpartisipasi dalam program pengobatan&lt;br /&gt;- Pasien akan mempertahankan lapang ketajaman penglihatan tanpa kehilangan lebih lanjut.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;- Pastikan derajat/tipe kehilangan penglihatan&lt;br /&gt;- Dorong mengekspresikan perasaan tentang kehilangan / kemungkinan kehilangan penglihatan&lt;br /&gt;- Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung tetesan, menikuti jadwal, tidak salah dosis&lt;br /&gt;- Lakukan tindakan untuk membantu pasien menanganiketerbatasan penglihatan, contoh, kurangi kekacauan,atur perabot, ingatkan memutar kepala ke subjek yang terlihat; perbaiki sinar suram dan masalah penglihatan malam.&lt;br /&gt;- Kolaborasi obat sesuai dengan indikasi&lt;br /&gt;c. Ansitas b. d faktor fisilogis, perubahan status kesehatan, adanya nyeri, kemungkinan/kenyataan kehilangan penglihatan ditandai dengan ketakutan, ragu-ragu, menyatakan masalah tentang perubahan kejadian hidup.&lt;br /&gt;Tujuan : Cemas hilang atau berkurang&lt;br /&gt;Kriteria Hasil:&lt;br /&gt;- Pasien tampak rileks dan melaporkan ansitas menurun sampai tingkat dapat diatasi.&lt;br /&gt;- Pasien menunjukkan ketrampilan pemecahan masalah&lt;br /&gt;- Pasien menggunakan sumber secara efektif&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;- Kaji tingkat ansitas, derajat pengalaman nyeri/timbul nya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi saat ini.&lt;br /&gt;- Berikan informasi yang akurat dan jujur. Diskusikan kemungkinan bahwa pengawasan dan pengobatan mencegah kehilangan penglihatan tambahan.&lt;br /&gt;- Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan.&lt;br /&gt;- Identifikasi sumber/orang yang menolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan b.d kurang terpajan/tak mengenal sumber, kurang mengingat, salah interpretasi, ditandai dengan ;pertanyaan, pernyataan salah persepsi, tak akurat mengikuti instruksi, terjadi komplikasi yang dapat dicegah.&lt;br /&gt;Tujuan : Klien mengetahui tentang kondisi,prognosis dan pengobatannya.&lt;br /&gt;Kriteria Hasil:&lt;br /&gt;- pasien menyatakan pemahaman kondisi, prognosis, dan pengobatan.&lt;br /&gt;- Mengidentifikasi hubungan antar gejala/tanda dengan proses penyakit&lt;br /&gt;- Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alasan tindakan.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;- Diskusikan perlunya menggunakan identifikasi,&lt;br /&gt;- Tunjukkan tehnik yang benar pemberian tetes mata.&lt;br /&gt;- Izinkan pasien mengulang tindakan.&lt;br /&gt;- Kaji pentingnya mempertahankan jadwal obat, contoh tetes mata. Diskusikan obat yang harus dihindari, contoh midriatik, kelebihan pemakaian steroid topikal.&lt;br /&gt;- Identifikasi efek samping/reaksi merugikan dari pengobatan (penurunan nafsu makan, mual/muntah, kelemahan,&lt;br /&gt;jantung tak teratur dll.&lt;br /&gt;- Dorong pasien membuat perubahan yang perlu untuk pola hidup&lt;br /&gt;- Dorong menghindari aktivitas,seperti mengangkat berat/men dorong, menggunakan baju ketat dan sempit.&lt;br /&gt;- Diskusikan pertimbangan diet, cairan adekuat dan makanan berserat.&lt;br /&gt;- Tekankan pemeriksaan rutin.&lt;br /&gt;- Anjurkan anggota keluarga memeriksa secara teratur tanda glaukoma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Junadi P. dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, FK-UI, 1982&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sidarta Ilyas, Ilmu Penyakit Mata, FKUI, 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Long C Barbara. Medical surgical Nursing. 1992&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Doungoes, marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan pendokumentasian perawatan pasien. Ed 3, EGC, Jakarta, 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Susan Martin Tucker, Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, Diagnosisi dan Evaluasi. Ed 5 Vol3 EGC. Jakarta 1993&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-5642939413042219112?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/5642939413042219112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/glukoma.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/5642939413042219112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/5642939413042219112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/glukoma.html' title='GLUKOMA'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-7229311451872133364</id><published>2009-06-22T23:47:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T23:51:32.875-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIABETES MELLITUS'/><title type='text'>DIABETES MELLITUS</title><content type='html'>DIABETES MELLITUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian&lt;br /&gt;Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).&lt;br /&gt;Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Klasifikasi&lt;br /&gt;Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)&lt;br /&gt;2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)&lt;br /&gt;3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya&lt;br /&gt;4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Etiologi&lt;br /&gt;1. Diabetes tipe I:&lt;br /&gt;a. Faktor genetik&lt;br /&gt;Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.&lt;br /&gt;b. Faktor-faktor imunologi&lt;br /&gt;Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.&lt;br /&gt;c. Faktor lingkungan&lt;br /&gt;Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.&lt;br /&gt;2. Diabetes Tipe II&lt;br /&gt;Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.&lt;br /&gt;Faktor-faktor resiko :&lt;br /&gt;a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)&lt;br /&gt;b. Obesitas&lt;br /&gt;c. Riwayat keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Patofisiologi/Pathways&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Tanda dan Gejala&lt;br /&gt;Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.&lt;br /&gt;Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :&lt;br /&gt;1. Katarak&lt;br /&gt;2. Glaukoma&lt;br /&gt;3. Retinopati&lt;br /&gt;4. Gatal seluruh badan&lt;br /&gt;5. Pruritus Vulvae&lt;br /&gt;6. Infeksi bakteri kulit&lt;br /&gt;7. Infeksi jamur di kulit&lt;br /&gt;8. Dermatopati&lt;br /&gt;9. Neuropati perifer&lt;br /&gt;10. Neuropati viseral&lt;br /&gt;11. Amiotropi&lt;br /&gt;12. Ulkus Neurotropik&lt;br /&gt;13. Penyakit ginjal&lt;br /&gt;14. Penyakit pembuluh darah perifer&lt;br /&gt;15. Penyakit koroner&lt;br /&gt;16. Penyakit pembuluh darah otak&lt;br /&gt;17. Hipertensi&lt;br /&gt;Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut.&lt;br /&gt;Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak.&lt;br /&gt;Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas.&lt;br /&gt;F. Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;1. Glukosa darah sewaktu&lt;br /&gt;2. Kadar glukosa darah puasa&lt;br /&gt;3. Tes toleransi glukosa&lt;br /&gt;Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl)&lt;br /&gt;Bukan DM Belum pasti DM DM&lt;br /&gt;Kadar glukosa darah sewaktu&lt;br /&gt;- Plasma vena&lt;br /&gt;- Darah kapiler&lt;br /&gt;Kadar glukosa darah puasa&lt;br /&gt;- Plasma vena&lt;br /&gt;- Darah kapiler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt; 100&lt;br /&gt;&lt;80&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;110&lt;br /&gt;&lt;90&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100-200&lt;br /&gt;80-200&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;110-120&lt;br /&gt;90-110&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;200&lt;br /&gt;&gt;200&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;126&lt;br /&gt;&gt;110&lt;br /&gt;Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :&lt;br /&gt;1. Glukosa plasma sewaktu &gt;200 mg/dl (11,1 mmol/L)&lt;br /&gt;2. Glukosa plasma puasa &gt;140 mg/dl (7,8 mmol/L)&lt;br /&gt;3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) &gt; 200 mg/dl&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.&lt;br /&gt;Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :&lt;br /&gt;1. Diet&lt;br /&gt;2. Latihan&lt;br /&gt;3. Pemantauan&lt;br /&gt;4. Terapi (jika diperlukan)&lt;br /&gt;5. Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Pengkajian&lt;br /&gt;? Riwayat Kesehatan Keluarga&lt;br /&gt;Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?&lt;br /&gt;? Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya&lt;br /&gt;Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.&lt;br /&gt;? Aktivitas/ Istirahat :&lt;br /&gt;Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;? Sirkulasi&lt;br /&gt;Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah&lt;br /&gt;? Integritas Ego&lt;br /&gt;Stress, ansietas&lt;br /&gt;? Eliminasi&lt;br /&gt;Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare&lt;br /&gt;? Makanan / Cairan&lt;br /&gt;Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.&lt;br /&gt;? Neurosensori&lt;br /&gt;Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan.&lt;br /&gt;? Nyeri / Kenyamanan&lt;br /&gt;Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat)&lt;br /&gt;? Pernapasan&lt;br /&gt;Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)&lt;br /&gt;? Keamanan&lt;br /&gt;Kulit kering, gatal, ulkus kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Masalah Keperawatan&lt;br /&gt;1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan&lt;br /&gt;2. Kekurangan volume cairan&lt;br /&gt;3. Gangguan integritas kulit&lt;br /&gt;4. Resiko terjadi injury&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J. Intervensi&lt;br /&gt;1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak.&lt;br /&gt;Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;? Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat&lt;br /&gt;? Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;? Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.&lt;br /&gt;? Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.&lt;br /&gt;? Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi.&lt;br /&gt;? Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral.&lt;br /&gt;? Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi.&lt;br /&gt;? Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala.&lt;br /&gt;? Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah.&lt;br /&gt;? Kolaborasi pemberian pengobatan insulin.&lt;br /&gt;? Kolaborasi dengan ahli diet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.&lt;br /&gt;Tujuan : kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;? Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik&lt;br /&gt;? Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul&lt;br /&gt;? Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas&lt;br /&gt;? Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa&lt;br /&gt;? Pantau masukan dan pengeluaran&lt;br /&gt;? Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung&lt;br /&gt;? Catat hal-hal seperti mual, muntah dan distensi lambung.&lt;br /&gt;? Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur&lt;br /&gt;? Kolaborasi : berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau pemeriksaan laboratorium (Ht, BUN, Na, K)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer).&lt;br /&gt;Tujuan : gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan penyembuhan.&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;? Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan discharge, frekuensi ganti balut.&lt;br /&gt;? Kaji tanda vital&lt;br /&gt;? Kaji adanya nyeri&lt;br /&gt;? Lakukan perawatan luka&lt;br /&gt;? Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi.&lt;br /&gt;? Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Resiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan&lt;br /&gt;Tujuan : pasien tidak mengalami injury&lt;br /&gt;Kriteria Hasil : pasien dapat memenuhi kebutuhannya tanpa mengalami injury&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;? Hindarkan lantai yang licin.&lt;br /&gt;? Gunakan bed yang rendah.&lt;br /&gt;? Orientasikan klien dengan ruangan.&lt;br /&gt;? Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari&lt;br /&gt;? Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani, Jakarta:EGC, 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &amp; Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arjatmo Tjokronegoro. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Cet 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-7229311451872133364?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/7229311451872133364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/diabetes-mellitus_22.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/7229311451872133364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/7229311451872133364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/diabetes-mellitus_22.html' title='DIABETES MELLITUS'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-4746535244915684334</id><published>2009-06-22T23:44:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T23:47:41.382-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DEPRESI'/><title type='text'>DEPRESI</title><content type='html'>DEPRESI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  MASALAH UTAMA Gangguan alam perasaan: depresi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  PROSES TERJADINYA MASALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa -dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depresi merupakan gangguan alam perasaan yang berat dan dimanifestasikan dengan gangguan fungsi social dan fungsi fisik yang hebat, lama dan menetap pada individu yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagai­nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedah­an, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Gangguan alam perasaan: depresi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Data subyektif:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara.Sering mengemukakan keluhan somatic seperti ; nyeri abdomen dan dada, anoreksia, sakit punggung,pusing. Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan hidup, merasa putus asa dan cenderung bunuh diri. Pasien mudah tersinggung dan ketidakmampuan untuk konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Data obyektif:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang melengkung dan bila duduk dengan sikap yang merosot, ekspresi wajah murung, gaya jalan yang lambat dengan lang­kah yang diseret.Kadang-kadang dapat terjadi stupor. Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu makan, sukar tidur dan sering me­nangis. Proses berpikir terlambat, seolah-olah pikirannya kosong, konsentrasi tergang­gu, tidak mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak mempunyai daya khayal Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang mendalam, tidak masuk akal (irasional), waham dosa, depersonalisasi dan halusinasi. Kadang-kadang pasien suka menunjukkan sikap bermusuhan (hostility), mudah tersinggung (irritable) dan tidak suka diganggu. Pada pasien depresi juga mengalami kebersihan diri kurang dan keterbelakangan psikomotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Koping maladaptif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  DS : Menyatakan putus asa dan tak berdaya, tidak bahagia, tak ada harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  DO : Nampak sedih, mudah marah, gelisah, tidak dapat mengontrol impuls.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme koping yang digunakan adalah denial dan supresi yang berlebihan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Resiko mencederai diri berhubungan dengan depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Gangguan lam perasaan: depresi berhubungan dengan koping maladaptif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Tujuan umum: Klien tidak mencederai diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Tujuan khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Klien dapat membina hubungan saling percaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Perkenalkan diri dengan klien dengan cara menyapa klien dengan ramah, baik verbal dan non verbal, selalu kontak mata selama interaksi dan perhatikan kebutuhan dasar klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Lakukan interaksi dengan pasien sesering mungkin dengan sikap empati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Dengarkan pemyataan pasien dengan sikap sabar empati dan lebih banyak memakai bahasa non verbal. Misalnya: memberikan sentuhan, anggukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Perhatikan pembicaraan pasien serta beri respons sesuai dengan keinginannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Bicara dengan nada suara yang rendah, jelas, singkat, sederhana dan mudah dimengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Terima pasien apa adanya tanpa membandingkan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Klien dapat menggunakan koping adaptif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Beri dorongan untuk mengungkapkan perasaannya dan mengatakan bahwa perawat memahami apa yang dirasakan pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Tanyakan kepada pasien cara yang biasa dilakukan mengatasi perasaan sedih/menyakitkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Diskusikan dengan pasien manfaat dari koping yang biasa digunakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Bersama pasien mencari berbagai alternatif koping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Beri dorongan kepada pasien untuk memilih koping yang paling tepat dan dapat diterima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Beri dorongan kepada pasien untuk mencoba koping yang telah dipilih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Anjurkan pasien untuk mencoba alternatif lain dalam menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Klien terlindung dari perilaku mencederai diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Pantau dengan seksama resiko bunuh diri/melukai diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Jauhkan dan simpan alat-alat yang dapat digunakan olch pasien untuk mencederai dirinya/orang lain, ditempat yang aman dan terkunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Jauhkan bahan alat yang membahayakan pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Awasi dan tempatkan pasien di ruang yang mudah dipantau oleh peramat/petugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Klien dapat meningkatkan harga diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1. Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2. Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.3. Bantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, k eyakinan, hal-hal untuk diselesaikan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Klien dapat menggunakan dukungan sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1. Kaji dan manfaatkan sumber-sumber ekstemal individu (orang-orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok pendukung, agama yang dianut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling pemuka agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1. Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2. Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3. Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.4. Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-4746535244915684334?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/4746535244915684334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/depresi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4746535244915684334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4746535244915684334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/depresi.html' title='DEPRESI'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-4251553704010673258</id><published>2009-06-22T23:40:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T23:41:11.717-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN PENDAHULUAN SINUSITIS'/><title type='text'>askep sinusitis</title><content type='html'>SINUSITIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEFINISI :&lt;br /&gt;Sinusitis  adalah : merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan  oleh kuman atau virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ETIOLOGI&lt;br /&gt;a. Rinogen&lt;br /&gt;Obstruksi dari ostium Sinus (maksilaris/paranasalis) yang disebabkan oleh :&lt;br /&gt;• Rinitis Akut (influenza)&lt;br /&gt;• Polip, septum deviasi&lt;br /&gt;b. Dentogen &lt;br /&gt;Penjalaran infeksidari gigi geraham atas&lt;br /&gt;Kuman penyebab :&lt;br /&gt;- Streptococcus pneumoniae&lt;br /&gt;- Hamophilus influenza&lt;br /&gt;- Steptococcus viridans&lt;br /&gt;- Staphylococcus aureus&lt;br /&gt;- Branchamella catarhatis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PATOFISILOLOGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GEJALA KLINIS :&lt;br /&gt;a. Febris, filek kental, berbau, bisa bercampur darah&lt;br /&gt;b. Nyeri :&lt;br /&gt;- Pipi : biasanya unilateral&lt;br /&gt;- Kepala : biasanya homolateral, terutama pada sorehari&lt;br /&gt;- Gigi (geraham atas) homolateral.&lt;br /&gt;c. Hidung :&lt;br /&gt;- buntu homolateral&lt;br /&gt;- Suara bindeng.&lt;br /&gt;CARA PEMERIKSAAN&lt;br /&gt;a. Rinoskopi anterior :&lt;br /&gt;- Mukosa merah&lt;br /&gt;- Mukosa bengkak&lt;br /&gt;- Mukopus di meatus medius.&lt;br /&gt;b. Rinoskopi postorior&lt;br /&gt;- mukopus nasofaring.&lt;br /&gt;c. Nyeri tekan pipi yang sakit.&lt;br /&gt;d. Transiluminasi : kesuraman pada ssisi yang sakit.&lt;br /&gt;e. X Foto sinus paranasalis&lt;br /&gt;- Kesuraman &lt;br /&gt;- Gambaran “airfluidlevel”&lt;br /&gt;- Penebalan mukosa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENATALAKSANAAN :&lt;br /&gt;a. Drainage&lt;br /&gt;- Medical :&lt;br /&gt;* Dekongestan lokal : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak)&lt;br /&gt;* Dekongestan oral :Psedo efedrin 3 X 60 mg&lt;br /&gt;- Surgikal : irigasi sinus maksilaris.&lt;br /&gt;b. antibiotik diberikan  dalam 5-7 hari (untk akut) yaitu :&lt;br /&gt;- ampisilin 4 X 500 mg&lt;br /&gt;- amoksilin 3 x 500 mg&lt;br /&gt;- Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet&lt;br /&gt;- Diksisiklin 100 mg/hari.&lt;br /&gt;c. Simtomatik&lt;br /&gt;-    parasetamol., metampiron 3 x 500 mg.&lt;br /&gt;d. Untuk kromis adalah :&lt;br /&gt;- Cabut geraham atas bila penyebab dentogen&lt;br /&gt;- Irigasi 1 x setiap minggu ( 10-20)&lt;br /&gt;- Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;PENGKAJIAN :&lt;br /&gt;1. Biodata : Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan,,&lt;br /&gt;2. Riwayat Penyakit sekarang :&lt;br /&gt;3. Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus, tenggorokan.&lt;br /&gt;4. Riwayat penyakit dahulu :&lt;br /&gt;- Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma&lt;br /&gt;- Pernah mempunyai riwayat penyakit THT&lt;br /&gt;- Pernah menedrita sakit gigi geraham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit  klien sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Riwayat spikososial &lt;br /&gt;a.  Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih0&lt;br /&gt;b.  Interpersonal : hubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;7. Pola fungsi kesehatan&lt;br /&gt;a. Pola persepsi dan tata laksanahidup sehat&lt;br /&gt;- Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping&lt;br /&gt;b. Pola nutrisi dan metabolisme :&lt;br /&gt;- biasanya nafsumakan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung&lt;br /&gt;c. Pola istirahat dan tidur&lt;br /&gt;- selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek&lt;br /&gt;d. Pola Persepsi dan konsep diri&lt;br /&gt;- klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsepdiri menurun&lt;br /&gt;e. Pola sensorik &lt;br /&gt;- daya penciuman klien  terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pemeriksaan fisik&lt;br /&gt;a. status kesehatan umum : keadaan umum , tanda viotal, kesadaran.&lt;br /&gt;b. Pemeriksaan fisik data focus hidung : nyeri tekan pada sinus, rinuskopi (mukosa merah dan  bengkak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data subyektif :&lt;br /&gt;1. Observasi nares :&lt;br /&gt;a. Riwayat bernafas melalui mulut, kapan, onset, frekwensinya&lt;br /&gt;b. Riwayat pembedahan hidung atau trauma&lt;br /&gt;c. Penggunaan obat tetes atau semprot hidung : jenis, jumlah, frekwensinyya , lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sekret hidung :&lt;br /&gt;a. warna, jumlah, konsistensi secret&lt;br /&gt;b. Epistaksis &lt;br /&gt;c. Ada tidaknya krusta/nyeri hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Riwayat  Sinusitis :&lt;br /&gt;a. Nyeri kepala, lokasi dan beratnya&lt;br /&gt;b. Hubungan sinusitis dengan musim/ cuaca.&lt;br /&gt;4. Gangguan umum lainnya : kelemahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Obyektif &lt;br /&gt;1. Demam, drainage ada : Serous&lt;br /&gt;Mukppurulen&lt;br /&gt;Purulen&lt;br /&gt;2. Polip mungkin timbul dan biasanya terjadi bilateral pada hidung dan sinus yang mengalami radang  Pucat, Odema keluar dari hidng atau mukosa sinus&lt;br /&gt;3. Kemerahan dan Odema membran mukosa&lt;br /&gt;4.  Pemeriksaan penunjung :&lt;br /&gt;a. Kultur organisme hidung dan tenggorokan&lt;br /&gt;b. Pemeriksaan rongent sinus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Nyeri : kepala, tenggorokan , sinus berhubungan dengan peradangan pada hidung&lt;br /&gt;2. Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis(irigasi sinus/operasi)&lt;br /&gt;3. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi /adnya secret yang mengental&lt;br /&gt;4. Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hiidung buntu., nyeri sekunder peradangan hidung&lt;br /&gt;5. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan menurun sekunder dari peradangan sinus&lt;br /&gt;6. Gangguan konsep diri berhubungan dengan bau pernafasan dan pilek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERENCANAAN&lt;br /&gt;1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung&lt;br /&gt;Tujuan : Nyeri klien berkurang atau hilang&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang&lt;br /&gt;- Klien tidak menyeringai kesakitan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;a. Kaji tingkat nyeri klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien  serta keluarganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien&lt;br /&gt;e. Kolaborasi dngan tim medis :&lt;br /&gt;1) Terapi konservatif :&lt;br /&gt;- obat Acetaminopen; Aspirin, dekongestan hidung&lt;br /&gt;- Drainase sinus&lt;br /&gt;2) Pembedahan  :&lt;br /&gt;- Irigasi Antral  :&lt;br /&gt;Untuk sinusitis maksilaris&lt;br /&gt;- Operasi Cadwell Luc. a. Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;b. Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri&lt;br /&gt;c. Klien mengetahui tehnik distraksi dn relaksasi sehinggga dapat mempraktekkannya bila mengalami nyeri&lt;br /&gt;d. Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien. &lt;br /&gt;e. Menghilangkan /mengurangi keluhan nyeri klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis (irigasi/operasi)&lt;br /&gt;Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang&lt;br /&gt;Kriteria :&lt;br /&gt;- Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya&lt;br /&gt;- Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya.&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;a. Kaji tingkat kecemasan klien&lt;br /&gt;b. Berikan kenyamanan dan ketentaman  pada klien :&lt;br /&gt;- Temani klien&lt;br /&gt;- Perlihatkan rasa empati( datang dengan menyentuh klien )&lt;br /&gt;c. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya perlahan, tenang seta gunakan kalimat yang jelas, singkat mudah dimengerti&lt;br /&gt;d. Singkirkan stimulasi yang berlebihan misalnya :&lt;br /&gt;- Tempatkan klien diruangan yang lebih tenang&lt;br /&gt;- Batasi kontak dengan orang lain /klien lain yang kemungkinan mengalami kecemasan&lt;br /&gt;e. Observasi tanda-tanda vital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Bila perlu , kolaborasi dengan tim medis a. Menentukan tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;b. Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Meingkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi  untuk penyakit tersebut  sehingga klien lebih kooperatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Dengan menghilangkan stimulus yang mencemaskan akan meningkatkan ketenangan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Mengetahui perkembangan klien secara dini.&lt;br /&gt;f. Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi (penumpukan secret hidung) sekunder dari peradangan sinus&lt;br /&gt;Tujuan : Jalan nafas efektif setelah secret (seous,purulen) dikeluarkan&lt;br /&gt;Kriteria :&lt;br /&gt;- Klien tidak bernafas lagi melalui mulut&lt;br /&gt;- Jalan nafas kembali normal terutama hidung&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;a. kaji penumpukan secret yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Observasi tanda-tanda vital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Koaborasi dengan tim medis  untuk pembersihan sekret a. Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;b. Mengetahui perkembangan klien sebelum dilakukan operasi&lt;br /&gt;c. Kerjasama untuk menghilangkan penumpukan secret/masalah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan menurun sekunder dari peradangan sinus&lt;br /&gt;Tujuan : kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi&lt;br /&gt;Kriteria :&lt;br /&gt;- Klien menghabiskan porsi makannya&lt;br /&gt;- Berat badan tetap (seperti sebelum sakit ) atau bertambah&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;a. kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi klien&lt;br /&gt;b. Jelaskan pentingnya makanan bagi proses penyembuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Catat intake dan output makanan klien.&lt;br /&gt;d. Anjurkan makan sediki-sedikit tapi sering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Sajikan makanan secara menarik a. Mengetahui kekurangan nutrisi kliem&lt;br /&gt;b. Dengan pengetahuan yang baik tentang nutrisi akan memotivasi meningkatkan  pemenuhan nutrisi&lt;br /&gt;c. Mengetahui perkembangan pemenuhan nutrisi klien&lt;br /&gt;d. Dengan sedikit tapi sering mengurangi penekanan yang berlebihan pada lambung&lt;br /&gt;e. Mengkatkan selera makan klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan hidung buntu, nyeri sekunder dari proses peradangan&lt;br /&gt; Tujuan : klien dapat istirahat dan tidur dengan nyaman&lt;br /&gt; Kriteria :&lt;br /&gt;- Klien tidur 6-8 jam sehari&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;a. kaji kebutuhan tidur klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. ciptakan suasana yang nyaman.&lt;br /&gt;c. Anjurkan klien bernafas lewat mulut&lt;br /&gt;d. Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat   a. Mengetahui permasalahan klien dalam pemenuhan kebutuhan istirahat tidur&lt;br /&gt;b. Agar klien dapat tidur dengan tenang&lt;br /&gt;c. Pernafasan tidak terganggu.&lt;br /&gt;d. Pernafasan dapat efektif kembali lewat hidung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doenges, M. G. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3 EGC, Jakarta 2000 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lab. UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan tenggorokan  FK Unair, Pedoman diagnosis dan Terapi Rumah sakit Umum Daerah dr Soetom FK Unair, Surabaya&lt;br /&gt;Prasetyo B, Ilmu Penyakit THT, EGC Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-4251553704010673258?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/4251553704010673258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/askep-sinusitis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4251553704010673258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/4251553704010673258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/askep-sinusitis.html' title='askep sinusitis'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-8100103626307553001</id><published>2009-06-22T23:34:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T23:38:31.612-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASKEP APENDISITIS'/><title type='text'>ASKEP APENDISITIS</title><content type='html'>ASKEP APENDISITIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).&lt;br /&gt;Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim, Apendisitis, 2007)&lt;br /&gt;Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks). Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. (Anonim, Apendisitis, 2007)&lt;br /&gt;Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu/apendiks ( Anonim, Apendisitis, 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni :&lt;br /&gt;Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah.&lt;br /&gt;Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anatomi dan Fisiologi Appendiks merupakan organ yang kecil dan vestigial (organ yang tidak berfungsi) yang melekat sepertiga jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letak apendiks.&lt;br /&gt;Appendiks terletak di ujung sakrum kira-kira 2 cm di bawah anterior ileo saekum, bermuara di bagian posterior dan medial dari saekum. Pada pertemuan ketiga taenia yaitu: taenia anterior, medial dan posterior. Secara klinik appendiks terletak pada daerah Mc. Burney yaitu daerah 1/3 tengah garis yang menghubungkan sias kanan dengan pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran dan isi apendiks.&lt;br /&gt;Panjang apendiks rata-rata 6 – 9 cm. Lebar 0,3 – 0,7 cm. Isi 0,1 cc, cairan bersifat basa mengandung amilase dan musin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi apendiks.&lt;br /&gt;Laterosekal: di lateral kolon asendens. Di daerah inguinal: membelok ke arah di dinding abdomen. Pelvis minor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi pada lumen apendiks ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras ( fekalit), hipeplasia jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur. Namun yang paling sering menyebabkan obstruksi lumen apendiks adalah fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid. (Irga, 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patofisiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat kemungkinan oleh fekolit (massa keras dari faeces) atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam beberapa jam terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya apendiks yang terinflamasi berisi pus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manifestasi Klinik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari : Mual, muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual dan muntah. Setelah beberapa jam, rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. Jika dokter menekan daerah ini, penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan, nyeri bisa bertambah tajam. Demam bisa mencapai 37,8-38,8° Celsius.&lt;br /&gt;Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, di semua bagian perut. Pada orang tua dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. Bila usus buntu pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat. Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok. (Anonim, Apendisitis, 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan diagnostik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menegakkan diagnosa pada apendisitis didasarkan atas anamnese ditambah dengan pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.&lt;br /&gt;Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese, ada 4 hal yang penting adalah: Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah. Muntah oleh karena nyeri viseral. Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus).&lt;br /&gt;Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit, menghindarkan pergerakan, di perut terasa nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan yang lain Lokalisasi.&lt;br /&gt;Jika sudah terjadi perforasi, nyeri akan terjadi pada seluruh perut, tetapi paling terasa nyeri pada daerah titik Mc. Burney. Jika sudah infiltrat, lokal infeksi juga terjadi jika orang dapat menahan sakit, dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc. Burney.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Test rektal.&lt;br /&gt;Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.&lt;br /&gt;Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang.&lt;br /&gt;Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. Hb (hemoglobin) nampak normal. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal. Pemeriksaan radiologi Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa apendisitis akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan. Kadang ada fecolit (sumbatan). Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penatalaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan. analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan. Apendektomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi.&lt;br /&gt;Apendektomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum atau spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi, yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif. Konsep Asuhan Keperawatan Sebelum operasi dilakukan klien perlu dipersiapkan secara fisik maupun psikis, disamping itu juga klien perlu diberikan pengetahuan tentang peristiwa yang akan dialami setelah dioperasi dan diberikan latihan-latihan fisik (pernafasan dalam, gerakan kaki dan duduk) untuk digunakan dalam periode post operatif. Hal ini penting oleh karena banyak klien merasa cemas atau khawatir bila akan dioperasi dan juga terhadap penerimaan anastesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melengkapi hal tersebut, maka perawat di dalam melakukan asuhan keperawatan harus menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengkajian&lt;br /&gt;Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register.&lt;br /&gt;Identitas penanggung Riwayat kesehatan sekarang.&lt;br /&gt;Keluhan utama Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;Sifat keluhan Nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama. Keluhan yang menyertai Biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas. Riwayat kesehatan masa lalu Biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang Pemeriksaan fisik Keadaan umum Klien tampak sakit ringan/sedang/berat.&lt;br /&gt;Berat badan Sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat.&lt;br /&gt;Sirkulasi : Klien mungkin takikardia. Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal. Aktivitas/istirahat : Malaise. Eliminasi Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang. Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.&lt;br /&gt;Nyeri/kenyamanan Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.&lt;br /&gt;Keamanan Demam, biasanya rendah.&lt;br /&gt;Data psikologis Klien nampak gelisah.&lt;br /&gt;Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. Ada perasaan takut. Penampilan yang tidak tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan dengan adanya mual dan muntah.&lt;br /&gt;Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh.&lt;br /&gt;Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal.&lt;br /&gt;Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi kurang.&lt;br /&gt;Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun.&lt;br /&gt;Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi keperawatan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana tujuan dan intervensi disesuaikan dengan diagnosis dan prioritas masalah keperawatan.&lt;br /&gt;Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya rasa mual dan muntah, ditandai dengan : Kadang-kadang diare. Distensi abdomen. Tegang. Nafsu makan berkurang. Ada rasa mual dan muntah. Tujuan : Mempertahankan keseimbangan volume cairan dengan kriteria : Klien tidak diare. Nafsu makan baik. Klien tidak mual dan muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi : Monitor tanda-tanda vital.&lt;br /&gt;Rasional : Merupakan indicator secara dini tentang hypovolemia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monitor intake dan out put dan konsentrasi urine.&lt;br /&gt;Rasional : Menurunnya out put dan konsentrasi urine akan meningkatkan kepekaan/endapan sebagai salah satu kesan adanya dehidrasi dan membutuhkan peningkatan cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beri cairan sedikit demi sedikit tapi sering.&lt;br /&gt;Rasional : Untuk meminimalkan hilangnya cairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh, ditandai dengan : Suhu tubuh di atas normal. Frekuensi pernapasan meningkat. Distensi abdomen. Nyeri tekan daerah titik Mc. Burney Leuco &gt; 10.000/mm3 Tujuan : Tidak akan terjadi infeksi dengan kriteria : Tidak ada tanda-tanda infeksi post operatif (tidak lagi panas, kemerahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi : Bersihkan lapangan operasi dari beberapa organisme yang mungkin ada melalui prinsip-prinsip pencukuran.&lt;br /&gt;Rasional : Pengukuran dengan arah yang berlawanan tumbuhnya rambut akan mencapai ke dasar rambut, sehingga benar-benar bersih dapat terhindar dari pertumbuhan mikro organisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beri obat pencahar sehari sebelum operasi dan dengan melakukan klisma.&lt;br /&gt;Rasional : Obat pencahar dapat merangsang peristaltic usus sehingga bab dapat lancar. Sedangkan klisma dapat merangsang peristaltic yang lebih tinggi, sehingga dapat mengakibatkan ruptura apendiks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjurkan klien mandi dengan sempurna.&lt;br /&gt;Rasional : Kulit yang bersih mempunyai arti yang besar terhadap timbulnya mikro organisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HE tentang pentingnya kebersihan diri klien.&lt;br /&gt;Rasional : Dengan pemahaman klien, klien dapat bekerja sama dalam pelaksaan tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal, ditandai dengan : Pernapasan tachipnea. Sirkulasi tachicardia. Sakit di daerah epigastrum menjalar ke daerah Mc. Burney Gelisah. Klien mengeluh rasa sakit pada perut bagian kanan bawah.&lt;br /&gt;Tujuan : Rasa nyeri akan teratasi dengan kriteria : Pernapasan normal. Sirkulasi normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi : Kaji tingkat nyeri, lokasi dan karasteristik nyeri.&lt;br /&gt;Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan merupakan indiaktor secara dini untuk dapat memberikan tindakan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjurkan pernapasan dalam.&lt;br /&gt;Rasional : Pernapasan yang dalam dapat menghirup O2 secara adekuat sehingga otot-otot menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan gate control.&lt;br /&gt;Rasional : Dengan gate control saraf yang berdiameter besar merangsang saraf yang berdiameter kecil sehingga rangsangan nyeri tidak diteruskan ke hypothalamus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beri analgetik.&lt;br /&gt;Rasional : Sebagai profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa nyeri (apabila sudah mengetahui gejala pasti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi kurang. Gelisah. Wajah murung. Klien sering menanyakan tentang penyakitnya. Klien mengeluh rasa sakit. Klien mengeluh sulit tidur&lt;br /&gt;Tujuan : Klien akan memahami manfaat perawatan post operatif dan pengobatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi : Jelaskan pada klien tentang latihan-latihan yang akan digunakan setelah operasi.&lt;br /&gt;Rasional : Klien dapat memahami dan dapat merencanakan serta dapat melaksanakan setelah operasi, sehingga dapat mengembalikan fungsi-fungsi optimal alat-alat tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menganjurkan aktivitas yang progresif dan sabar menghadapi periode istirahat setelah operasi.&lt;br /&gt;Rasional : Mencegah luka baring dan dapat mempercepat penyembuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disukusikan kebersihan insisi yang meliputi pergantian verband, pembatasan mandi, dan penyembuhan latihan.&lt;br /&gt;Rasional : Mengerti dan mau bekerja sama melalui teraupeutik dapat mempercepat proses penyembuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun. Nafsu makan menurun Berat badan menurun Porsi makan tidak dihabiskan Ada rasa mual muntah&lt;br /&gt;Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi : Kaji sejauh mana ketidakadekuatan nutrisi klien&lt;br /&gt;Rasional : menganalisa penyebab melaksanakan intervensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkirakan / hitung pemasukan kalori, jaga komentar tentang nafsu makan sampai minimal&lt;br /&gt;Rasional : Mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan nutrisi berfokus pada masalah membuat suasana negatif dan mempengaruhi masukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timbang berat badan sesuai indikasi&lt;br /&gt;Rasional : Mengawasi keefektifan secara diet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beri makan sedikit tapi sering&lt;br /&gt;Rasional : Tidak memberi rasa bosan dan pemasukan nutrisi dapat ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjurkan kebersihan oral sebelum makan&lt;br /&gt;Rasional : Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawarkan minum saat makan bila toleran.&lt;br /&gt;Rasional : Dapat mengurangi mual dan menghilangkan gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsul tetang kesukaan/ketidaksukaan pasien yang menyebabkan distres.&lt;br /&gt;Rasional : Melibatkan pasien dalam perencanaan, memampukan pasien memiliki rasa kontrol dan mendorong untuk makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi makanan yang bervariasi&lt;br /&gt;Rasional : Makanan yang bervariasi dapat meningkatkan nafsu makan klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan. Kuku nampak kotor Kulit kepala kotor Klien nampak kotor&lt;br /&gt;Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi : Mandikan pasien setiap hari sampai klien mampu melaksanakan sendiri serta cuci rambut dan potong kuku klien.&lt;br /&gt;Rasional : Agar badan menjadi segar, melancarkan peredaran darah dan meningkatkan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganti pakaian yang kotor dengan yang bersih.&lt;br /&gt;Rasional : Untuk melindungi klien dari kuman dan meningkatkan rasa nyaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan HE pada klien dan keluarganya tentang pentingnya kebersihan diri.&lt;br /&gt;Rasional : Agar klien dan keluarga dapat termotivasi untuk menjaga personal hygiene.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikan pujian pada klien tentang kebersihannya.&lt;br /&gt;Rasional : Agar klien merasa tersanjung dan lebih kooperatif dalam kebersihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbing keluarga / istri klien memandikan&lt;br /&gt;Rasional : Agar keterampilan dapat diterapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersihkan dan atur posisi serta tempat tidur klien.&lt;br /&gt;Rasional : Klien merasa nyaman dengan tenun yang bersih serta mencegah terjadinya infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan adalah pemberian asuhan keperawatan secara nyata berupa serangkaian kegiatan sistimatis berdasarkan perencanaan untuk mencapai hasil yang optimal. Pada tahap ini perawat menggunakan segala kemampuan yang dimiliki dalam melaksanakan tindakan keperawatan terhadap klien baik secara umum maupun secara khusus pada klien post apendektomi. Pada pelaksanaan ini perawat melakukan fungsinya secara independen, interdependen dan dependen.&lt;br /&gt;Pada fungsi independen adalah mencakup dari semua kegiatan yang diprakarsai oleh perawat itu sendiri sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya Pada fungsi interdependen adalah dimana fungsi yang dilakukan dengan bekerja sama dengan profesi/disiplin ilmu yang lain dalam keperawatan maupun pelayanan kesehatan, sedangkan fungsi dependen adalah fungsi yang dilaksanakan oleh perawat berdasarkan atas pesan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui pencapaian tujuan dalam asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada klien perlu dilakukan evaluasi dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut : Apakah klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh?. Apakah klien dapat terhidar dari bahaya infeksi?. Apakah rasa nyeri akan dapat teratasi?. Apakah klien sudah mendapat informasi tentang perawatan dan pengobatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;1.Doenges, Marylinn E. (2000), Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.&lt;br /&gt;2.Henderson, M.A. (1992), Ilmu Bedah Perawat, Yayasan Mesentha Medica, Jakarta.&lt;br /&gt;3.Schwartz, Seymour, (2000), Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta. 4.Smeltzer, Suzanne C, (2001), Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah, Volume 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-8100103626307553001?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/8100103626307553001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/askep-apendisitis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/8100103626307553001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/8100103626307553001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/askep-apendisitis.html' title='ASKEP APENDISITIS'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-5914553143418415664</id><published>2009-06-22T07:21:00.001-07:00</published><updated>2009-06-22T07:27:30.437-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN PENDAHULUAN manarik diri'/><title type='text'>Gangguan isolasi sosial : manarik diri</title><content type='html'>LAPORAN PENDAHULUAN I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Kasus (Masalah Utama)&lt;br /&gt;Gangguan isolasi sosial : manarik diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Proses terjadinya masalah &lt;br /&gt;A. Core Problem&lt;br /&gt;1. Definisi &lt;br /&gt;Perilaku menarik diri adalah klien ingin lari dari kenyataan tetapi karena tidak mungkin, maka klien menghindari atau lari secara emosional sehinga klien jadi pasif, tergantung, tidak ada motivasi dan tidak ada keinginan untuk berperan (Budi Ana Keliat, 1992).&lt;br /&gt;2. Tanda dan Gejala &lt;br /&gt;a. Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul.&lt;br /&gt;b. Menghidar dari orang lain (menyendiri) &lt;br /&gt;Klien tampak memisahkan diri dari orang lain misalnya pada saat makan.&lt;br /&gt;c. Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri.&lt;br /&gt;d. Komunikasi kurang / tidak ada.&lt;br /&gt;Klien tidak tampak bercakap-cakap dengan klien lain / perawat.&lt;br /&gt;e. Tidak ada kontak mata : klienlebih sering menunduk.&lt;br /&gt;f. Mengurung diri di kamar / tempat terpisah, klien kurang dalam mobilitas.&lt;br /&gt;g. Menolak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;h. Tidak melakukan kegiatan sehari-hari, artinya perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan.&lt;br /&gt;B. Penyebab&lt;br /&gt;Gangguan konsep diri : harga diri rendah&lt;br /&gt;Tanda dan Gejala &lt;br /&gt;Klien yang gagal dalam mencapai suatu keinginan atau gagal dalam tujuan akan merasa bahwa ia tidak berharga dant idak berguna, keadaan tersebut akan membuat individu takut salah untuk berbuat sesuatu, pesimis atau rasa tidak percaya diri, hal ini menimbulkan dampak perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain dan akan menghindari dari orang lain atau menarik diri.&lt;br /&gt;C. Akibat&lt;br /&gt;Resiko mencederai diri : bunuh diri&lt;br /&gt;Tanda dan Gejala :&lt;br /&gt;Klien dengan menarik diri disebabkan oleh adanya pengalaman yang tidak menyenangkan bagi pasien, seperti kegagalan atau kehiilangan atau karena perpisahan yang lama dengan orang terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. A.  Pohon Masalah &lt;br /&gt;Resiko mencedarai diri : bunuh diri&lt;br /&gt;Ganguan isolasi sosial : menarik diri&lt;br /&gt;Gangguan konsep diri : harga diri rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji &lt;br /&gt;1. Resiko mencederai diri : bunuh diri &lt;br /&gt;Data yang dikaji :&lt;br /&gt;a. ada ide-ide / usaha bunuh diri&lt;br /&gt;b. ingin mengakhiri kehidupan&lt;br /&gt;c. mudah marah&lt;br /&gt;d. gelisah&lt;br /&gt;e. mengisolasi diri dengan membatasi hubungannya dengan orang lain&lt;br /&gt;f. merasa tidak berguna.&lt;br /&gt;2. Isolasi sosial : menarik diri&lt;br /&gt;Data yang perlu dikaji :&lt;br /&gt;a. lebih banyak diam&lt;br /&gt;b. lebih suka menyendiri / hubungan interpersonal yang kurang&lt;br /&gt;c. personal hygiene kurang&lt;br /&gt;d. merasa tidak nyaman di antara orang &lt;br /&gt;e. tidak cukupnya ketrampilan sosial&lt;br /&gt;f. berkurangnya frekuensi, jumlah dan spontanitas dalam berkomunikasi.&lt;br /&gt;3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah&lt;br /&gt;Data yang perlu dikaji&lt;br /&gt;a. perasaan rendah diri&lt;br /&gt;b. pikiran mengalah&lt;br /&gt;c. mengkritik diri sendiri&lt;br /&gt;d. kurang terlibat dalam hubungan sosial&lt;br /&gt;e. meremehkan kekuatan / kemampuan diri&lt;br /&gt;f. menyalahkan diri sendiri&lt;br /&gt;g. perasaan putus asa dan tidak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Diagnosa Keperawatan &lt;br /&gt;1. Resti mencederai diri : bunuh diri berhubungan dengan menarik diri.&lt;br /&gt;2. Gangguan sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Rencana Tindakan Keperawatan &lt;br /&gt;Diagnosa I : Resti mencederai diri : bunuh diri berhubungan dengan menarik diri.&lt;br /&gt;TUM  :  Klien tidak mencederai diri sendiri.&lt;br /&gt;TUK 1  :  Klien dapat membina hubungan saling percaya.&lt;br /&gt;a. Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;1.1. ekspresi wajah klien bersahabat&lt;br /&gt;1.2. klien menunjukkan rasa senang&lt;br /&gt;1.3. ada kontak mata&lt;br /&gt;1.4. klien mau mengutarakan masalah yang dihadapi&lt;br /&gt;b. Intervensi&lt;br /&gt;1.1.1. sapa klien dengan ramah, baik verbal maupun non verbal&lt;br /&gt;1.1.2.  perkenalkan diri dengan sopan &lt;br /&gt;1.1.3.  tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien&lt;br /&gt;1.1.4.  jelaskan tujuan pertemuan&lt;br /&gt;1.1.5.  jujur dan menepati janji&lt;br /&gt;1.1.6.  tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya&lt;br /&gt;TUK 2  :  Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri.&lt;br /&gt;a. Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;2.1. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri yang berasal dari :&lt;br /&gt;-  diri sendiri &lt;br /&gt;-  orang lain&lt;br /&gt;-  lingkungan&lt;br /&gt;b. Intervensi&lt;br /&gt;2.1.1.  Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.&lt;br /&gt;2.1.2.  Berikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul.&lt;br /&gt;2.1.3.  Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab muncul.&lt;br /&gt;2.1.4.  Berikan pujian terhadap kemampuan klien dalam mengungkapkan perasaannya.&lt;br /&gt;TUK 3  :  Klien dapat menyebutkan kuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;a. Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;3.1.  Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;3.2.  Klien dapat menyebutkan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;b. Intervensi &lt;br /&gt;3.1.1.  Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;3.1.2.  Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;3.1.3.  Diskusikan bersama klien tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;3.1.4.  Beri reinforcement positif terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;3.2.1.  Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;3.2.2.  Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;3.2.3.  Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;3.2.4.  Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;TUK 4  :  Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap.&lt;br /&gt;a. Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;4.1.  Klien dapat mendemonstrasikan hubungan sosial secara bertahap antara:&lt;br /&gt;K – P&lt;br /&gt;K – P – K &lt;br /&gt;K – P – Kel&lt;br /&gt;K – P – Klp&lt;br /&gt;b. Intervensi&lt;br /&gt;4.1.1.  Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;4.1.2.  Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :&lt;br /&gt;K – P&lt;br /&gt;K – P – P lain&lt;br /&gt;K – P – P lain – K lain&lt;br /&gt;K – P – Kel / Masy.&lt;br /&gt;4.1.3.  Beri reinforcement terhadap keberhasilan yang telah dicapai.&lt;br /&gt;4.1.4.  Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan.&lt;br /&gt;4.1.5.  Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu.&lt;br /&gt;4.1.6.  Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan&lt;br /&gt;TUK 5 :  Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;a. Kriteria evaluasi &lt;br /&gt;5.1.  Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain untuk :&lt;br /&gt;-  diri sendiri&lt;br /&gt;-  orang lain&lt;br /&gt;b. Intervensi&lt;br /&gt;5.1.1.  Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;5.1.2.  Diskusikan dengan klien tentang perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;5.1.3.  Beri reinforcement positif atau kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;TUK 6 :  Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga mampu mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;a. Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;6.1.  Keluarga dapat :&lt;br /&gt;-  menjelaskan perasaannya&lt;br /&gt;-  menjelaskan cara merawat klien menarik diri&lt;br /&gt;-  mendemonstrasikan cara perawatan klien menarik diri&lt;br /&gt;-  berpartisipasi dalam perawatan klien menarik diri&lt;br /&gt;b. Intervensi&lt;br /&gt;6.1.1.  Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :&lt;br /&gt;-  salam, perkenalkan diri&lt;br /&gt;-  sampaikan tujuan&lt;br /&gt;-  buat kontrak&lt;br /&gt;-  eksplorasi perasaan keluarga.&lt;br /&gt;6.1.2.  Diskusikan dengan anggota keluarga tentang perilaku penyebab serta akibat perilaku menarik diri.&lt;br /&gt;6.1.3.  Dorong anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain.&lt;br /&gt;6.1.4.  Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien minim satu kali seminggu.&lt;br /&gt;TUK 7 : Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat.&lt;br /&gt;a. Kriteria evaluasi &lt;br /&gt;7.1.  Klien dapat menyebutkan manfaat, dosis dan efek samping obat.&lt;br /&gt;7.2.  Klien dapat mendemonstrasikan dan tahu tentang manfaat dan efek samping dan penggunaan obat dengan benar.&lt;br /&gt;7.3.  Klien memahami akibat berhentinya minum obat tanpa konsultasi.&lt;br /&gt;b. Intervesi :&lt;br /&gt;7.1.1.  Diskusikan dengan klien tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat serta efek sampingnya.&lt;br /&gt;7.1.2  Anjurkan klien untuk minta sendiri obat kepada perawat dan merasakan manfaatnya.&lt;br /&gt;7.1.3.  Anjurkan klien berbicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping yang dirasakan.&lt;br /&gt;7.1.4.  Diskusikan akibat tidak minum obat tanpa konsultasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Proses Keperawatan &lt;br /&gt;1. Kondisi klien&lt;br /&gt;Klien lebih suka menyendiri di tempat tidurnya, ekspresi wajah seidh, tidak mau kontak dengan yang lain, lebih banyak diam, kontak mata singkat.&lt;br /&gt;2. Diagnosa keperawatan &lt;br /&gt;Resti mencederai diri, bunuh diri berhubungan dengan menarik diri.&lt;br /&gt;3. Tujuan khusus&lt;br /&gt;TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya.&lt;br /&gt;TUK 2 : Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri.&lt;br /&gt;4. Tindakan keperawatan &lt;br /&gt;TUK 1 : &lt;br /&gt;a. Sapa klien dengan ramah, baik verbal maupun non verbal&lt;br /&gt;b. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien&lt;br /&gt;c. Jujur dan menepati janji&lt;br /&gt;d. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya&lt;br /&gt;e. Berikan perhatian terhadap klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.&lt;br /&gt;TUK 2 :&lt;br /&gt;a. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.&lt;br /&gt;b. Berikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul.&lt;br /&gt;c. Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta penyebab muncul.&lt;br /&gt;d. Berikan pujian terhadap kemampuan klien dalam mengungkapkan perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Strategi Komunikasi Dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan &lt;br /&gt;1. Fase oreientasi&lt;br /&gt;a. Salam terapeutik&lt;br /&gt;“Selamat pagi Mbak, perkenalkan nama saya Sri Sundari, saya biasa di panggil Ndari, nama Mbak siapa? Baiklah Mbak, disini saya akan menemani Mbak, saya akan duduk di samping Mbak, jika ingin mengatakan sesuatu saya siap mendengarkan”.&lt;br /&gt;b. Evaluasi / validasi&lt;br /&gt;“Bagaimana perasaan Mbak hari ini? Saya ingin sekali membantu Mbak menghadapi masalah dan saya harap Mbak mau bekerja sama dengan saya, Mbak boleh saya tahu apa yang terjadi di rumah sehingga Mbak sampai dibawa kemari? Bagaimana kalau hari ini kita berbicara tentang kebiasaan Mbak yang lebih suka menyendiri, Mbak bersediakan?”.&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;“Berapa lama kita akan berbincang-bincang?”&lt;br /&gt;“Dimana tempat yang Mbak sukai?”&lt;br /&gt;“Baiklah kita berbicara di tempat tidur saja, berapa lama? Bagaimana kalau 30 menit?”&lt;br /&gt;“Baiklah jadi kita akan ngobrol-ngobrol tentang kebiasaan Mbak yang lebih suka menyendiri selama 30 menit?”&lt;br /&gt;2. Fase Kerja &lt;br /&gt;“Biasanya kalau jam-jam seperti ini apa yang Mbak lakukan di sini atau di rumah?”&lt;br /&gt;“Bagaimana perasaan Mbak berdiam diri di kamar?”&lt;br /&gt;“Apa yang menyebabkan Mbak berdiam diri di kamar?”&lt;br /&gt;“Jika Mbak berdiam diri di kamar apa yang Mbak lakukan dan pikirkan?”&lt;br /&gt;“Jadi apa saja tanda-tanda kalau Mbak enggan berhubungan dengan orang lain?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Fase Terminasi&lt;br /&gt;a. Evaluasi &lt;br /&gt;“Apa yang Mbak rasakan setelah kita berbincang-bincang selama 30 menit tadi?”&lt;br /&gt;“Bisa Mbak ulangi lagi apa yang telah kita bicarakan tadi?”&lt;br /&gt;b. Rencana tindak lanjut&lt;br /&gt;“Setelah ini kita akan bicara mengenai keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain”.&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;“Baiklah Mbak, waktu kita sudah habis, bagaimana kalau kita cukupka sampai di sini, kira-kira jam berapa kita besok bertemu lagi? Tempatnya dimana?”&lt;br /&gt;“Baiklah jam 11 kita akan bertemu di sini lagi selama 15 menit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Proses Keperawatan&lt;br /&gt;1. Kondisi Klien&lt;br /&gt;Klien banyak diam di tempat tidurnya, menyendiri, tidak mau kontak dengan yang lain, kontak mata ada.&lt;br /&gt;2. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;Resti mencederai diri : bunuh diri berhubungan dengan menarik diri.&lt;br /&gt;3. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;Tuk 3 :  Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;4. Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt;Tuk 3 :&lt;br /&gt;1. Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;2. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan  berhubungan dengan orang  lain.&lt;br /&gt;3. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;4. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;5. Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;6. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;7. Diskusikan bersama klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;8. beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Strategi Komunikasi dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt;1. Fase orientasi&lt;br /&gt;a. Salam terapeutik&lt;br /&gt;“Selamat pagi mbak, mbak masih ingat dengan saya ? coba sebutkan siapa nama saya, bagus ternyata mbak masih ingat.”&lt;br /&gt;b. Evaluasi/ validasi&lt;br /&gt;“Mbak kelihatannya segar dan semangat hari ini, bagaimana perasaan Mbak pagi ini ?”&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;“Kemaren kita sudah berbicara mengenai hal yang menyebabkan bapak sering menyendiri di kamar. Nah, sekarang sesuai dengan janji kita, kita sekarang akan berbincang-bincang mengenai keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain selama 20 menit, bagaimana Mbak bisa kita mulai sekarang ?”&lt;br /&gt;2. Fase Kerja&lt;br /&gt;“Coba mbak sebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain.”&lt;br /&gt;“Bagus, ternyata mbak lebih pintar daari saya”&lt;br /&gt;“Sekarang coba mbak sebutkan kerugian tidak berhubungan dengan orang  lain.”&lt;br /&gt;“Bagaimana jika mbak ngobrol-ngobrol dengan yang lain sekarang?”&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau saya beri contoh cara berkenalan dengan orang lain?”&lt;br /&gt;3. Fase Terminasi &lt;br /&gt;a. Evaluasi&lt;br /&gt;“Apa yang mbak rasakan setelah kita berbincang-bincang selama 20 menit tadi?”&lt;br /&gt;“Coba mbak ulangi lagi, sebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.”&lt;br /&gt;b. Rencana tindak lanjut&lt;br /&gt;“setelah ini, silahkan mbak coba berkenalan dengan orang lain, paling tidak mbak tahu nama dan asal teman baru mbak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;“Baiklah mbak waktu kita sudah habis, sudah 20 menit kita berbincang-bincang.”&lt;br /&gt;“Kira-kira kapan kita akan bertemu lagi ? tempatnya di mana ? dan apa yang akan kita bahas ?”&lt;br /&gt;“Baiklah bagaimana kalau kita bertemu lagi jam 13.00, kita akan berbincang-bincang di tempat ini lagi selama 30 menit, untuk membahas kegiatan dan perasaan mbak setelah berkenalan dengan orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Proses Keperawatan&lt;br /&gt;1. Kondisi Klien&lt;br /&gt;Klien lebih suka menyendiri, diam, kontak mata ada, klien tidak mau kontak dengan yang  lain.&lt;br /&gt;2. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;Resti mencederai diri : bunuh diri berhubungan dengan menarik diri.&lt;br /&gt;3. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;Tuk 4 :  klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap.&lt;br /&gt;Tuk 5 :  klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;4. Tindakan Keperawaatan&lt;br /&gt;Tuk 4 :&lt;br /&gt;1. Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;2. Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;3. Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.&lt;br /&gt;4. Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan.&lt;br /&gt;5. Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu.&lt;br /&gt;6. Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan mangan.&lt;br /&gt;7. Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dan kegiatan mangan.&lt;br /&gt;Tuk 5:&lt;br /&gt;1. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;2. Diskusikan dengan klien tentang perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;3. Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Strategi Komunikasi dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt;1. Fase Orientasi&lt;br /&gt;a. Salam terapeutik&lt;br /&gt;“Selamat pagi mbak, kelihatannya mbak senang hari ini, mbak sudah makan?”&lt;br /&gt;b. Evaluasi/ validasi&lt;br /&gt;“Bagaimana mbak, sudah berkenalan atau sudah ngobrol-ngobrol dengan kenalan baru mbak ?”&lt;br /&gt;“Kalau boleh saya tahu siapa namanya ? asalnya dari mana ? bagus sekali mbak sudah ingat nama dan asal teman baru mbak.”&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;“Tadi sudah beerkenalan dengan teman baru mbak, bagaimana kalau kita berbicara tentang teman baru mbak dan peerasaan mbah setelah berkenalan atau berhubungan dengan teman baru mbak.” Sesuai dengan kesepakatan kita, kita akan berbincang-bincang selama 30 menit.”&lt;br /&gt;2. Fase Kerja&lt;br /&gt;“Coba mbak praktekkan carra berkenalan mbak dengan teman baru mbak pada saya.”&lt;br /&gt;“Setelah berkenalan, kegiatan apa yang mbak lakukan dengan teman baru mbak?”&lt;br /&gt;“Setelah itu bagaimana perasaan mbak, senang atau tidak ?”&lt;br /&gt;3. Fase Terminasi&lt;br /&gt;a. Evaluasi&lt;br /&gt;“Bagaimana perasaan mbak sekarang setelah berhubungan dengan orang lain ?”&lt;br /&gt;“Coba mbak ulangi lagi nama dan asal teman baru mbak!”&lt;br /&gt;b. Rencana tindak lanjut&lt;br /&gt;“baiklah saya lihat mbak sudah lelah, silahkan mbak istirahat dan besok kita lanjutkan lagi bincang-bincang kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;“Baiklah kita cukupkan sekian dulu, sudah 30 menit perbincangan kita kali ini, besok kita akan bincang-bincang kembali tentang cara penggunaan obat yang mbak minum dengan benar dan tepat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Proses Keperawatan&lt;br /&gt;1. Kondisi Klien&lt;br /&gt;Klien lebih banyak diam, menyendiri, tidak mau kontak dengan yang lain.&lt;br /&gt;2. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;Resti mencederai diri : bunuh diri berhubungan dengan menarik diri&lt;br /&gt;3. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;Tuk 7 : Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat.&lt;br /&gt;4. Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt;1. Diskusi dengan klien tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat serta efek sampingnya.&lt;br /&gt;2. Anjurkan klien untuk minta sendiri obat kepada perawat dan merasakan manfaatnya.&lt;br /&gt;3. Anjurkan klien berbicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping yang dirasakan.&lt;br /&gt;4. Diskusikan akibat tidak minum obat tanpa konsultasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Strategi Komunikasi dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt;1. Fase Orientasi&lt;br /&gt;a. Salam terapeutik&lt;br /&gt;“Selamat pagi mbak ? mbak ingat janji pertemuan kita ? bagus sekali ternyata mbak masih ingat dengan tepat, bahwa pagi ini kita akan kembali berbincang-bincang selama kurang lebih 15 menit.”&lt;br /&gt;b. Validasi/ evaluasi&lt;br /&gt;“Bagaimana perasaan mbak pagi ini ? mbak masih berteman atau ngobrol dengan teman baru mbak ? bagus sekali … mbak sudah mau bergabung dengan teman-teman mbak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;“Baik kalau begitu sesuai kesepakatan kita bagaimana kalau pada pertemuan kita kali ini selama 15 menit kedepan kita berbincang-bincang tentang kegunaan obat yang mbak minum tiap hari.”&lt;br /&gt;2. Fase Kerja&lt;br /&gt;“Boleh saya tahu bagaimana cara mbak meminum obat ini ? bagus sekali, mbak sudah bisa menggunakan obat ini secara benar dan tepat, dan jangan lupa ingat nama obat dan waktu minum obat.”&lt;br /&gt;“Bagus sekali mbak patuh dan taat, saya senang mbak mau mengikuti saran perawat dan dokter di sini.”&lt;br /&gt;3. Fase Terminasi&lt;br /&gt;a. Evaluasi&lt;br /&gt;“Bagaimana perasaan mbak setelah minum obat dan mengetahui penggunaan obat ini ?”&lt;br /&gt;“Mbak tadi mengatakan bahwa obat ini dapat membantu mbak dan banyak gunanya.”&lt;br /&gt;b. Rencana tindak lanjut&lt;br /&gt;“Mbak haarus selalu mengingat-ingat nama obat, dosis dan cara pemberiannya, coba mbak ingat-ingat lagi ya ?”&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;“Kira-kira kapan ada kesempatan untuk berbincang-bincang lagi mbak ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPORAN PENDAHULUAN II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Kasus ( Masalah Utama )&lt;br /&gt;Gangguan konsep diri; harga diri rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Proses Terjadinya Masalah&lt;br /&gt;A. Core Problem&lt;br /&gt;1. Definisi&lt;br /&gt;Harga diri adalah penilaian tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. ( Keliat B.A , 1992 )&lt;br /&gt;Harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif, dapat secara langsung atau tidak langsung di ekspresikan.&lt;br /&gt;2. Tanda dan gejala&lt;br /&gt;a. Perasaan negatif terhadap diri sendiri&lt;br /&gt;b. Hilang kepercayaan diri&lt;br /&gt;c. Merasa gagal mencapai keingginan &lt;br /&gt;d. Menyatakan diri tidak berharga, tidak berguna dan tidak mampu&lt;br /&gt;e. Mengeluh tidak mampu melakukan peran dan fungsi sebagai mana mestinya&lt;br /&gt;f. Menarik diri dari kehidupan sosial&lt;br /&gt;g. Banyak diam dan sulit berkomunikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Penyebab&lt;br /&gt;Koping individu tidak efektif&lt;br /&gt;Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak efektif, koping merupakan respon pertahanan individu terhadap suatu masalah. Jika koping itu tidak efektif maka individu tidak bisa mencapai harga dirinya dalam mencapai suatu perilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Akibat&lt;br /&gt;Menarik diri&lt;br /&gt;Mekanisme terjadinya masalah :&lt;br /&gt;Harga diri merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya, individu dengan harga diri rendah akan merasa tidak mampu , tidak berdaya, pesimis dapat menghadapi kehidupan, dan tidak percaya pada diri sendiri. Untuk menutup rasa tidak mampu individu akan banyak diam, menyendiri, tidak berkomunikasi dan menarik diri dari kehidupan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.  A.  Pohon Masalah&lt;br /&gt;Gangguan isolasi sosial : menarik diri&lt;br /&gt;Gangguan konsep diri : harga diri rendah&lt;br /&gt;Koping individu tidak efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.  Masalah Keperawatan dan Data Yang Perlu di Kaji&lt;br /&gt;1. Isolasi sosial : menarik diri&lt;br /&gt;Data yang perlu dikaji&lt;br /&gt;a. Lebih banyak diam&lt;br /&gt;b. Lebih suka menyendiri/ hubungan interpersonal kurang&lt;br /&gt;c. Personal hygiene kurang&lt;br /&gt;d. Merasa tidak nyaman diantara orang&lt;br /&gt;e. Tidak cukupnya ketrampilan sosial&lt;br /&gt;f. Berkurangnya frekwensi, jumlah dan spontanitas dalam berkomunikasi&lt;br /&gt;2. Gangguan konsep diri harga diri rendah&lt;br /&gt;Data yang perlu dikaji &lt;br /&gt;a. Perasaan rendah diri&lt;br /&gt;b. Pikiran mengarah&lt;br /&gt;c. Mengkritik diri sendiri&lt;br /&gt;d. Kurang terlibat dalam hubungan sosial&lt;br /&gt;e. Meremehkan kekuatan/ kemampuan diri&lt;br /&gt;f. Menyalahkan diri sendiri&lt;br /&gt;g. Perasaan putus asa dan tidak berdaya.&lt;br /&gt;3. Koping individu tidak efektif&lt;br /&gt;a. Masalah yang di hadapi pasien (sumber koping)&lt;br /&gt;b. Strategi dalam menghadapi masalah &lt;br /&gt;c. Status emosi pasien &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;1. Gangguan interaksi sosial ; menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. &lt;br /&gt;2. Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Rencana Tindakan Keperawatan &lt;br /&gt;Diagnosa 2 :  Gangguan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.&lt;br /&gt;TUM  :  Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal.&lt;br /&gt;TUK 1  :  Klien dapat membina hubungan saling percaya.&lt;br /&gt;TUK 2  :  Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang dimiliki.&lt;br /&gt;a. Kriteria hasil  :&lt;br /&gt;2.1.  Klien mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki &lt;br /&gt;-  kemampuan yang dimiliki&lt;br /&gt;-  aspek positif keluarga&lt;br /&gt;-  aspek positif lingkungan yang di miliki klien.&lt;br /&gt;b. Intervensi&lt;br /&gt;2.1.1.  Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.&lt;br /&gt;2.1.2.  Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif.&lt;br /&gt;2.1.3.  Utamakan memberi pujian yang realistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUK 3 : Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.&lt;br /&gt;a. Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;3.1.  Klien menilai kemampuan yang dapat digunakan.&lt;br /&gt;b. Intervensi &lt;br /&gt;3.1.1.  Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit.&lt;br /&gt;3.1.2.  Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya.&lt;br /&gt;TUK 4 :  Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.&lt;br /&gt;a. Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;4.1.  Klien membuat rencana kegiatan harian.&lt;br /&gt;b. Intervensi&lt;br /&gt;4.1.1.  Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan.&lt;br /&gt;-  kegiatan mandiri&lt;br /&gt;-  kegiatan dengan bantuan sebagian&lt;br /&gt;-  kegiatan yang membutuhkan bantuan total.&lt;br /&gt;4.1.2.  Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.&lt;br /&gt;4.1.3.  Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.&lt;br /&gt;TUK 5 :  Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.&lt;br /&gt;a. Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;5.1.  Klien melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.&lt;br /&gt;b. Intervensi &lt;br /&gt;5.1.1.  Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.&lt;br /&gt;5.1.2.  Beri pujian atas keberhasilan klien.&lt;br /&gt;5.1.3.  Diskusikan kemungkinan, pelaksanaan di rumah.&lt;br /&gt;TUK 6 : Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada :&lt;br /&gt;a. Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;6.1.  Klien memanfaatkan sistem pendukung yang ada di keluarga.&lt;br /&gt;b. Intervensi&lt;br /&gt;6.1.1.  Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.&lt;br /&gt;6.1.2.  Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.&lt;br /&gt;6.1.3.  Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Proses Keperawatan&lt;br /&gt;1. Kondisi Klien&lt;br /&gt;Klien lebih suka menyendiri, banyak diam sulit berkomunikasi dengan teman-temannya, pandangan mata kosong.&lt;br /&gt;2. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;Gangguan isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.&lt;br /&gt;3. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;Tuk :&lt;br /&gt;1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.&lt;br /&gt;2. klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.&lt;br /&gt;4. Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt;1. Bina hubungan saling percaya &lt;br /&gt;a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal &lt;br /&gt;b. Perkenalkan diri dengan sopan&lt;br /&gt;c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien&lt;br /&gt;d. Jelaskan tujuan pertemuan&lt;br /&gt;e. Jujur dan menepati janji&lt;br /&gt;f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya&lt;br /&gt;g. Beri peerhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien &lt;br /&gt;2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki&lt;br /&gt;a. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien&lt;br /&gt;b. Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif&lt;br /&gt;c. Utamakan memberikan pujian yang realistis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Strategi Komunikasi dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt;1.  Fase Orientasi&lt;br /&gt;a. Salam tarapeutik&lt;br /&gt;“Selamat pagi mbak, perkenalkan nama saya Sri Sundari, saya biasa dipanggil Ndari, nama mbak siapa ? dan panggilan apa yang mbak sukai ? Baiklah mbak, di sini saya akan menemani mbak, saya akan duduk di samping mbak, jika mbak akan mengatakan sesuatu saya siap mendengarkan.”&lt;br /&gt;b. Evaluasi/ validasi&lt;br /&gt;“Bagaimana perasaan mbak hari ini, saya ingin sekali ingin membantu menyelesaikan masalah mbak dan saya harap mbak mau bekerja sama dengan saya, kalau boleh saya tahu apa yang terjaadi di rumah sehingga mbak sampai dibawa kemari ?”&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;“Mbak bagaimana kalau hari ini kita bincang-bincang tentang kemampuan yang mbak miliki, di mana kita ngobrol mbak ? berapa lama ? baiklah bagaimana kalau kta nanti ngobrol di taman selama + 15 menit.&lt;br /&gt;3. Fase Kerja&lt;br /&gt;“Nah, coba mbak cari kemampuan yang bisa mbak lakukan selama sebelum sakit. Baik, apalagi mbak ?”&lt;br /&gt;“Bagus sekali ternyata mbak memiliki kemampuan yang banyak sekali.” &lt;br /&gt;4. Fase Terminasi&lt;br /&gt;a. Evaluasi&lt;br /&gt;“Apa yang mbak rasakan setelah kita bincang-bincang selama 15 menit tadi ?”&lt;br /&gt;“Bisa mbak ulangi lagi apa yang telah kita bicarakan tadi ?”&lt;br /&gt;b. Rencana tindak lanjut&lt;br /&gt;“Setelah ini kita akan berbicara mengenai kemampuan yang masih bisa mbak gunakan selama sakit.”&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;“Baiklah mbak, waktu kita sudah habis bagaimana kalau kita cukupkan sampai di sini, kira-kira jam berapa kita bertemu lagi ? tempatnya di mana ?”&lt;br /&gt;“Baiklah mbak bagaimana kalau kita bertemu lagi jam 11 selama + 20 menit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Proses Keperawatan&lt;br /&gt;1. Kondisi Klien&lt;br /&gt;Klien lebih suka menyendiri, banyak diam, kurang berkomunikasi dengan teman-temannya.&lt;br /&gt;2. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;Gangguan interaksi sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.&lt;br /&gt;3. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;Tuk 3  :  klien dapat menilai kemampuan yang digunakan. &lt;br /&gt;Tuk 4  :  klien dapat ( menetapkan ) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.&lt;br /&gt;Tuk 5  :  klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.&lt;br /&gt;4. Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt;1. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan &lt;br /&gt;a. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit.&lt;br /&gt;b. Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya&lt;br /&gt;2. Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.&lt;br /&gt;a. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan.&lt;br /&gt;- Kegiatan mandiri&lt;br /&gt;- Kegiatan dengan bantuan sebagian&lt;br /&gt;- Kegiatan yang membutuhkan bantuan total&lt;br /&gt;b. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.&lt;br /&gt;c. Beri contoh pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya &lt;br /&gt;a. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.&lt;br /&gt;b. Beri pujian atas keberhasilan klien&lt;br /&gt;c. Diskusikan tentang kemungkinan melaksanakan di rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.  Strategi Komunikasi dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt;1. Fase Orientasi&lt;br /&gt;a. Salam terapeutik&lt;br /&gt;“Selamat pagi mbak, mbak masih ingat dengan saya. Coba sebutkan nama saya, bagus ternyata mbak masih ingat.”&lt;br /&gt;b. Evaluasi/ validasi&lt;br /&gt;“Mbak kelihatan cantik dan segar hari ini, bagaimana perasaan mbak hari ini ?”&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;“Kemarin kita sudah berbicaara mengenai kemampuan yang mbak miliki selama sebelum sakit, nah sekarang sesuai  dengan janji kita, bagaimana kalau kita mulai pembicaraan kita mengenai kemampuan yang bisa mbak lakukan selama sakit atau di rumah sakit ini, di mana kita bicara nanti mbak ? Bagaimana kalau kita bicara di ruang tamu + 30 menit.&lt;br /&gt;2. Fase Kerja&lt;br /&gt; “Sekarang coba mbak ssebutkan kegiatan yang bisa mbak lakukan selama sakit.”&lt;br /&gt;“Baik, apalagi mbak ?”&lt;br /&gt;“Mbak punya hobi apa ? memasak atau mungkin membuat ketrampilan ?”&lt;br /&gt;“Nah… ya itu tadi bisa mbak lakukan di rumah sakit ini, di sini tersedia fasilitas  untuk mbak bisa menggali kemampuan mbak .”&lt;br /&gt;”Masih banyak kegiatan yang bisa mbak lakukan di sini sesuai dengan bakat dan kemampuan mbak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Fase Terminasi&lt;br /&gt;a. Evaluasi&lt;br /&gt;“Apa yang mbak rasakan setelah kita bincang-bincang selama 30 menit tadi ?”&lt;br /&gt;“Bisa mbak ulangi lagi apa yang elah kita bicarakan tadi ?”&lt;br /&gt;b. Rencana tindak lanjut&lt;br /&gt;“Mulai saat ini coba mbak lakukan sedikit demi sedikit apa yang telah kita bicarakan tadi.”&lt;br /&gt;c. Kontrak &lt;br /&gt;“Baiklah mbak, waktu kita sudah habis, bagaimana kalau kita cukupkan sampai di sini, kira-kira jam berapa kita bertemu lagi ? tempatnya di  mana ?”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-5914553143418415664?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/5914553143418415664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/gangguan-isolasi-sosial-manarik-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/5914553143418415664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/5914553143418415664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/gangguan-isolasi-sosial-manarik-diri.html' title='Gangguan isolasi sosial : manarik diri'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-369663197711840808</id><published>2009-06-22T07:16:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T07:21:37.883-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN PENDAHULUAN Resiko perilaku kekerasan'/><title type='text'>Resiko perilaku kekerasan</title><content type='html'>LAPORAN PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Masalah Utama&lt;br /&gt; Resiko perilaku kekerasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Proses Terjadinya Masalah&lt;br /&gt;1. Definisi&lt;br /&gt;  Perilaku kekerasan (agresif) adalah suatu bentuk perilaku yang diarahkan pada tujuan menyakiti atau melukai orang lain yang dimotivasi menghindari perilaku tersebut (Kaplan dan Sadock, 1997).&lt;br /&gt;  Perilaku kekerasan adalah keadaan dimana individu mengalami perilaku yang dapat membahayakan secara fisik baik pada diri sendiri maupun orang lain.&lt;br /&gt;2. Tanda dan gejala&lt;br /&gt;Gambaran  klinis menurut Stuart dan Sundeen (1995) adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Muka merah&lt;br /&gt;b. Pandangan tajam&lt;br /&gt;c. Otot tegang&lt;br /&gt;d. Nada suara tinggi&lt;br /&gt;e. Berdebat&lt;br /&gt;f. Kadang memaksakan kehendak&lt;br /&gt;Gejala yang muncul :&lt;br /&gt;a. Stress&lt;br /&gt;b. Mengungkapkan secara verbal&lt;br /&gt;c. Menentang&lt;br /&gt; Gambaran klinis menurut Direktorat Kesehatan Jiwa, Direktorat Jendral Pelayanan Kesehatan Departemen Kesehatan RI (1994) adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Pasif agresif&lt;br /&gt;1) Sikap suka menghambat&lt;br /&gt;2) Bermalas-malasan&lt;br /&gt;3) Bermuka masam&lt;br /&gt;4) Keras kepala dan pendendam&lt;br /&gt;b. Gejala agresif yang terbuka (tingkah laku agresif)&lt;br /&gt;1) Suka membantah&lt;br /&gt;2) Menolak sikap penjelasan&lt;br /&gt;3) Bicara kasar&lt;br /&gt;4) Cenderung menuntut secara terus-menerus&lt;br /&gt;5) Hiperaktivitas&lt;br /&gt;6) Bertingkah laku kasar disertai kekerasan&lt;br /&gt;3. Etiologi&lt;br /&gt;a. Faktor predisposisi&lt;br /&gt; Sebagai faktor dari klien yang bertingkah laku agresif menurut Stuart dan Laria (1998) antara lain :&lt;br /&gt;1) Psikologis&lt;br /&gt;2) Perilaku&lt;br /&gt;3) Sosial budaya&lt;br /&gt;4) Bioneurologis&lt;br /&gt;b. Faktor presipitasi&lt;br /&gt; Menurut Stuart dan Laria (1998) faktor pencetus dapat bersumber dari lingkungan atau interaksi dengan orang lain. Dari klien misalnya terputusnya percaya diri, yang kurang ketidakpercayaan dari situasi lingkungan misalnya lingkungan yang ribut, padat, penghinaan, dan kehilangan kemudian dari interaksi sosial seperti adanya konflik &lt;br /&gt;4. Akibat dan mekanisme&lt;br /&gt;  Resiko tinggi menciderai diri sendiri dan orang lain, seseorang dengan resiko perilaku kekerasan dimana dia mengalami kegagalan yang menyebabkan frustasi yang dapat menimbulkan respon menentang dan melawan seseorang melakukan hal sesuai dengan keinginannya akibatnya dia menunjukkan perilaku yang mal adaptif yang menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.&lt;br /&gt;5. Penyebab dan mekanisme&lt;br /&gt;  Harga diri rendah, seseorang dengan Harga diri rendah, ia merasakan bahwa dirinya tidak mampu, tidak mempunyai keberdayaan untuk memecahkan masalah sehingga klien menggunakan respon mal adaptif perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;C. Pohon Masalah&lt;br /&gt;Risiko menciderai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resiko perilaku kekerasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga diri rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Masalah Keperawatan  &lt;br /&gt;1. Risiko menciderai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan&lt;br /&gt; Data :&lt;br /&gt;a. Muka merah&lt;br /&gt;b. Pandangan tajam&lt;br /&gt;c. Otot tegang&lt;br /&gt;d. Nada suara tinggi&lt;br /&gt;e. Berdebat&lt;br /&gt;f. Kadang memaksakan kehendak&lt;br /&gt;Gejala yang muncul :&lt;br /&gt;a. Stress&lt;br /&gt;b. Mengungkapkan secara verbal&lt;br /&gt;c. Menentang&lt;br /&gt;d. Menuntut&lt;br /&gt;2. Perilaku kekerasan&lt;br /&gt; Data :&lt;br /&gt;a. Agresif&lt;br /&gt;b. Gaduh&lt;br /&gt;c. Gelisah&lt;br /&gt;d. Menyentuh orang lain secara menyakitkan&lt;br /&gt;e. Mengancam, melukai&lt;br /&gt;f. Marah tingkat ringan sampai serius&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Harga diri rendah&lt;br /&gt; Data :&lt;br /&gt;a. Kurang bergairah&lt;br /&gt;b. Tidak peduli lingkungan&lt;br /&gt;c. Kegiatan menurun&lt;br /&gt;d. Banyak tidur siang&lt;br /&gt;e. Tinggal di tempat tidur dengan waktu yang lama&lt;br /&gt;f. Apatis&lt;br /&gt;g. Efek tumpul dan komunikasi verbal kurang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;1. Risiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan. &lt;br /&gt;2. Resiko perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Rencana Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt; Resiko perilaku kekerasan&lt;br /&gt;1. Tujuan Umum :&lt;br /&gt;Klien tidak melakukan tindakan kekerasan.&lt;br /&gt;Tujuan khusus :&lt;br /&gt;Tujuan khusus 1 yaitu klien dapat membina hubungan saling percaya.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi :&lt;br /&gt;a. Wajah cerah, tersenyum&lt;br /&gt;b. Mau berkenalan&lt;br /&gt;c. Ada kontak mata&lt;br /&gt;d. Bersedia menceritakan perasaan&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Beri salam setiap berinteraksi           &lt;br /&gt;b. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat, dan tujuan perawat berinteraksi.&lt;br /&gt;c. Tanyakan dan panggil nama kesukaan klien.&lt;br /&gt;d. Tunjukkan sikap empati, jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi.&lt;br /&gt;e. Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien.&lt;br /&gt;f. Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan perasaan klien.&lt;br /&gt;Tujuan khusus 2 yaitu klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan yang dilakukannya :&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi :&lt;br /&gt;a. Setelah 1 kali pertemuan klien menceritakan penyebab perilaku kekerasan yang dilakukannya.&lt;br /&gt;b. Menceritakan penyebab perasaan jengkel atau kesal baik dari didi sendiri maupun lingkungan.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Bantu klien mengungkapkan perasaan marahnya :&lt;br /&gt;a. Motivasi klien untuk menceritakan penyebab rasa kesal atau jengkelnya.&lt;br /&gt;b. Dengarkan tanpa menyela atau memberi penilaian setiap ungkapan perasaan klien.&lt;br /&gt;Tujuan khusus 3 yaitu klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi :&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang dilakukannya selama ini&lt;br /&gt;a. Motivasi klien menceritakan jenis-jenis tindak kekerasan yang selama ini pernah dilakukannya.&lt;br /&gt;b. Motivasi klien menceritakan perasaan klien setelah tindak kekerasan tersebut terjadi.&lt;br /&gt;c. Diskusikan apakah dengan tindak kekerasan yang dilakukannya masalah yang dialami bisa teratasi.&lt;br /&gt;Tujuan khusus 5 yaitu klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi :&lt;br /&gt;Setelah 1 kali pertemuan klien menjelaskan akibat perilaku kekerasan yang dilakukannya selama ini :&lt;br /&gt;a. Diri sendiri : luka, dijauhi teman, dan lain-lain.&lt;br /&gt;b. Orang lain atau keluarga : luka, tersinggung, ketakutan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;c. Lingkungan : barang atau benda rusak.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Diskusikan dengan klien akibat negatif (kerugian) cara yang dilakukan pada :&lt;br /&gt;a. Diri sendiri, orang lain (keluarga, lingkungan.&lt;br /&gt;Tujuan khusus 6 yaitu klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam mengungkapkan kemarahan.&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Setelah 1 kali pertemuan klien menceritakan tanda-tanda saat terjadi perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;a. Tanda fisik : mata merah, tangan mengepal, ekspresi tegang, dan lain-lain.&lt;br /&gt;b. Tanda emosional : perasaan marah, jengkel  dan bicara kasar.&lt;br /&gt;c. Tanda sosial : bermusuhan yang dialami saat terjadi perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku kekerasan yang dialaminya.&lt;br /&gt;a. Motivasi klien menceritakan kondisi fisik (tanda-tanda fisik) saat perilaku kekerasan terjadi.&lt;br /&gt;b. Motivasi klien menceritakan kondisi emosinya (tanda-tanda emosinya) saat perilaku kekerasan terjadi.&lt;br /&gt;c. Motivasi klien menceritakan kondisi hubungan dengan orang lain (tanda-tanda sosial) saat perilaku kekerasan terjadi.&lt;br /&gt;Tujuan khusus 4 klien mengidentifikasi jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukannya.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi :&lt;br /&gt;Setelah 1 kali pertemuan klien menjelaskan :&lt;br /&gt;a. Jenis-jenis ekspresi kemarahan yang selama ini telah dilakukannya.&lt;br /&gt;b. Perasaan saat melakukan kekerasan.&lt;br /&gt;c. Efektivitas cara yang dipakai dalam menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi :&lt;br /&gt;Setelah 1 kali pertemuan klien menjelaskan :&lt;br /&gt;a. Menjelaskan cara-cara saat mengungkapkan marah.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;Diskusikan dengan klien :&lt;br /&gt;a. Apakah klien mau mempelajari cara baru mengungkapkan marah yang sehat.&lt;br /&gt;1) Jelaskan berbagai alternatif pilihan untuk mengungkapkan marah selama perilaku kekeraasn yang diketahui klien.&lt;br /&gt;2) Jelaskan cara-cara sehat untuk melakukan marah :&lt;br /&gt;a) Cara fisik : nafas dalam, pukul bantal atau kasur, olah raga.&lt;br /&gt;b) Verbal : mengungkapkan bahwa dirinya sedang kesal pada orang lain.&lt;br /&gt;c) Spiritual : sembahyang, berdo’a, dzikir, meditasi sesuai dengak keyakinanya masing-masing.&lt;br /&gt;Tujuan khusus 7 yaitu klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi :&lt;br /&gt;Setelah 1 kali pertemuan klien memeragakan cara mengontrol perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi :&lt;br /&gt;a. Fisik : nafas dalam, pukul bantal atau kasur.&lt;br /&gt;b. Verbal : mengungkapkan perasaan kesal atau jengkel pada orang lain tanpa menyakiti &lt;br /&gt;c. Sosial : latihan asertif dengan orang lain.&lt;br /&gt;d. Spiritual : dxikir, berdo’a, meditasi sesuai agamanya&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Diskusikan cara yang mungkin dipilih dan anjurkan klien dan memilih cara yang mungkin untuk mengungkapkan kemarahan.&lt;br /&gt;b. Latih klien memperagakan cara yang dipilih :&lt;br /&gt;1) Peragakan cara melakukan cara yang dipilih&lt;br /&gt;2) Jelaskan manfaat cara tersebut&lt;br /&gt;3) Anjurkan klien menirukan peragaan yang sudah dilakukan&lt;br /&gt;4) Beri penguatan pada klien, perbaiki cara yang masih belum sempurna&lt;br /&gt;c. Anjurkan klien menggunakan cara yang sudah dilatih saat marah atau jengkel.&lt;br /&gt;Tujuan khusus 8 yaitu klien mendapat dukungan keluarga untuk mengontrol perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi :&lt;br /&gt;Setelah 1 kali pertemuan keluarga menjelaskan :&lt;br /&gt;a. Cara merawat klien dengan perilaku kekerasan&lt;br /&gt;b. Mengungkapkan rasa puas dalam merawat klien&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai pendukung klien untuk mengatasi perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;b. Diskusikan potensi keluarga untuk membantu klien mengatasi perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;c. Jelaskan pengertian, penyebab akibat dan cara merawat klien perilaku kekerasan yang dapat dilaksanakan oleh keluarga.&lt;br /&gt;d. Peragakan cara merawat klien (mengenal perilaku kekerasan).&lt;br /&gt;e. Beri kesempatan keluarga untuk memperagakan ulang.&lt;br /&gt;f. Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang telah dilatihkan.&lt;br /&gt;Tujuan khusus 9 yaitu klien menggunakan obat sesuai program yang telah ditetapkan :&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;Setelah 1 kali pertemuan klien menjelaskan :&lt;br /&gt;a. Manfaat minum obat, kerugian tidak minum obat, nama obat, bentuk dan warna obat, dosis yang diberikan kepadanya, waktu pemakaian dan cara pemakaian, serta efek yang dirasakan.&lt;br /&gt;b. Klien menggunakan obat sesuai program.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;a. Jelaskan manfaat menggunakan obat secara teratur dan kerugian jika tidak minum obat.&lt;br /&gt;b. Jelaskan kepada klien :&lt;br /&gt;1) Jenis obat (nama, warna, dan bentuk obat)&lt;br /&gt;2) Dosis yang tepat untuk klien&lt;br /&gt;3) Waktu pemakaian&lt;br /&gt;4) Cara pemakaian&lt;br /&gt;5) Efek yang akan dirasakan klien&lt;br /&gt;c. Anjurkan klien :&lt;br /&gt;1) Minta dan menggunakan obat tepat waktu.&lt;br /&gt;2) Lapor ke perawat atau dokter jika mengalami efek yang tidak biasa.&lt;br /&gt;3) Beri pujian terhadap kedisiplinan klien menggunakan obat.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN&lt;br /&gt;KEPERAWATAN I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Proses Keperawatan&lt;br /&gt;1. Kondisi klien&lt;br /&gt; Klien mondar-mandir, tatapan tajam, nada suara tinggi.&lt;br /&gt;2. Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt; Resiko perilaku kekerasan&lt;br /&gt;3. Tujuan khusus&lt;br /&gt;a. TUK 1 :&lt;br /&gt; Klien dapat membina hubungan saling percaya.&lt;br /&gt;b. TUK 2 :&lt;br /&gt; Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan yang dilakukannya.&lt;br /&gt;c. TUK 3 :&lt;br /&gt; Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;d. TUK 4 :&lt;br /&gt; Klien dapat mengidentifikasi jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukan.&lt;br /&gt;e. TUK 5 :&lt;br /&gt; Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;f. TUK 6 :&lt;br /&gt; Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam mengungkapkan kemarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. TUK 7 :&lt;br /&gt; Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;4. Tindakan keperawatan&lt;br /&gt;a. Membina hubungan saling percaya.&lt;br /&gt;b. Membantu klien mengungkapkan perasaan dan penyebab perasaannya marah.&lt;br /&gt;c. Mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;d. Mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dilakukan.&lt;br /&gt;e. Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;f. Mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;g. Mengidentifikasi cara latihan mengontrol fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Strategi Komunikasi &lt;br /&gt;1. Orientasi &lt;br /&gt;a. Salam terapeutik&lt;br /&gt;  Selamat pagi mbak perkenalkan nama saya Dewi marsanti saya biasa dipanggil Dewi, saya dinas pagi dari jam 07.00 sampai siang nanti jam 13.00. Kalau boleh kenalan nama mbak siapa ? Suka dipanggil apa ? Wah bagus sekali namanya.&lt;br /&gt;b. Validasi&lt;br /&gt;  Sudah berapa lama Mbak Y di sini ? Apakah Mbak Y masih ingat siapa yang membawa kesini ? bagaimana perasaan Mbak Y saat ini? Masih ada perasaan kesal atau marah ?&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;1) Topik : Bagaimana kalau kita bercakap-cakap ?&lt;br /&gt;2) Tempat : Enaknya kita bercakap-cakap dimana ? Bagaimana kalau di sini saja ?&lt;br /&gt;3) Waktu : Mbak Y mau berapa lama bercakap-cakapnya ? Bagaimana kalau 10 menit ?&lt;br /&gt;2. Kerja&lt;br /&gt;  Apa yang menyebabkan Mbak Y marah ? Apakah Mbak Y pernah marah ? Terus penyebabnya apa ? Pada saat penyebab marah itu datang apa yang Mbak Y rasakan ? Apakah Mbak Y merasa kesal ingin mengamuk ? Saat marah muncul apa yang Mbak Ylakukan ? Apakah dengan cara itu masalah Mbak Y dapat terselesaikan ? Apa akibat dari perilaku yang Mbak Y lakukan tadi ? Maukah Mbak Y belajar mengungkapkan masalah dengan baik tanpa menimbulkan kerugian ?&lt;br /&gt;  Ada 4 cara untuk belajar mengungkapkan masalah dengan baik tanpa menimbulkan kerugian yaitu :&lt;br /&gt;a. Cara fisik pertama dengan tarik nafas, cara fisik dua memukul bantal atau kasur.&lt;br /&gt;b. Secara verbal atau sosial dengan cara mengungkapkan perasaan dengan baik, menolak dengan baik, dan meminta dengan baik.&lt;br /&gt;c. Secara spiritual dengan cara berdo’a, beribadah meminta pada Tuhan agar diberi kesabaran.&lt;br /&gt;d. Patuh obat dengan minum obat secara teratur dengan prinsip 5 benar (benar nama klien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu minum obat, dan akibat berhenti minum obat). Sekarang bagaimana kalau kita belajar cara fisik yang pertama dulu ? Begini Mbak Y caranya kalau tanda-tanda marah tadi sudah Mbak W rasakan maka Mbak Y berdiri lalu tarik nafas, tahan sebentar lalu keluarkan perlahan-lahan melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan, ayo sekarang Mbak Y mencoba sendiri ? Iya Mbak Y melakukannya dengan bagus sekali.&lt;br /&gt;3. Evaluasi&lt;br /&gt;a. Evaluasi subyektif&lt;br /&gt; Bagaimana perasaan Mbak Y  setelah latihan nafaas dalam tadi ?&lt;br /&gt;b. Evaluasi obyektif&lt;br /&gt; Mbak Y tadi sudah melakukan latihan mengendalikan marah dengan cara fisik pertama (nafas dalam) coba Mbak Y lakukan latihan lagi saya mau lihat.&lt;br /&gt;c. Rencana tindak lanjut&lt;br /&gt; Coba selama saya tidak ada Mbak Y tetap melakukan latihan nafas dalam ya .&lt;br /&gt;d. Kontrak&lt;br /&gt; Baik bagaimana kalau besok pagi jam 08.00 saya datang dan kita latihan cara fisik yang kedua untuk mencegah atau mengontrol marah, Mbak Y mau ngobrolnya di mana ? Bagaimana kalau di sini saja ? &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN&lt;br /&gt;KEPERAWATAN 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Proses Keperawatan&lt;br /&gt;1. Kondisi klien&lt;br /&gt; Klien mau melakukan cara fisik pertama (nafas dalam), klien kooperatif, kontak mata ada.&lt;br /&gt;2. Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt; Resiko perilaku kekerasan&lt;br /&gt;3. Tujuan khusus 4-6&lt;br /&gt;a. TUK 4 :&lt;br /&gt; Klien dapat mengidentifikasi jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukan.&lt;br /&gt;b. TUK 5 :&lt;br /&gt; Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;c. TUK 6 :&lt;br /&gt; Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam mengungkapkan kemarahan.&lt;br /&gt;4. Tindakan keperawatan&lt;br /&gt;a. Mengevaluasi latihan nafas dalam&lt;br /&gt;b. Latihan cara fisik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Strategi Komunikasi &lt;br /&gt;1. Orientasi &lt;br /&gt;a. Salam terapeutik&lt;br /&gt;  Selamat pagi mbak Y sesuai janji saya kemarin pagi sekarang saya datang lagi.&lt;br /&gt;b. Evaluasi / Validasi&lt;br /&gt;  Bagaimana perasaan Mbak Y saat ini adakah hal yang menyebabkan Mbak Y marah ?&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;1) Topik : Baik sekarang kita akan belajar cara mengontrol perasaan marah dengan latihan fisik untuk cara yang lain ?&lt;br /&gt;2) Tempat : Mbak Y mintanya ngobrol berapa menit ? bagaimana kalau 10 menit ?&lt;br /&gt;3) Waktu : Di mana kita ngobrolnya ? Bagaimana kalau duduk di kursi itu ?&lt;br /&gt;2. Kerja&lt;br /&gt;  Kalau ada yang menyebabkan Mbak Y marah dan muncul perasaan kesal, berdebar-debar, selain nafas dalam Mbak Y dapat melakukan pukul bantal atau kasur. Sekarang mari kita lakukan pukul bantal atau kasur, di mana tempat tidur Mbak Y ? Jadi nanti kalau Mbak Y kesal dan ingin marah langsung ke tempat tidur dan melampiaskan kemarahan tersebut dengan memukul bantal atau kasur. Nah coba Mbak Y lakukan pukul bantal atau kasur, iya Mbak Y melakukan dengan bagus sekali. Cara ini dapat dilakukan apabila ada perasaan ingin marah, kemudian jangan lupa merapikan tempat tidurnya.&lt;br /&gt;3. Terminasi &lt;br /&gt;a. Evaluasi subyektif&lt;br /&gt; Bagaimana perasaan Mbak Y setelah latihan cara menyalurkan marah tadi ?&lt;br /&gt;b. Evaluasi obyektif&lt;br /&gt; Ada berapa cara yang sudahkita latih, coba sebutkan lagi ? Mbak Y benar sekali.&lt;br /&gt;c. Rencana tindak lanjut&lt;br /&gt; Mbak Y latihan cara mengontrol marah yang saya ajarkan tadi ya, kalau ada keingiinan marah sewaktu-waktu gunakan kedua cara yang telah saya ajarkan tadi ya.&lt;br /&gt;d. Kontrak&lt;br /&gt;1) Topik : Baiklah kita ketemu lagi akan latihan cara mengontrol marah dengan mengungkapkan secara baik.&lt;br /&gt;2) Waktu : Mau jam berapa Mbak Y ? Baik jam 9 pagi ya ?&lt;br /&gt;3) Tempat : Mbak Y mintanya ngobrol di mana ? Bagaimana kalau disini lagi saja. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN&lt;br /&gt;KEPERAWATAN 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Proses Keperawatan&lt;br /&gt;1. Kondisi klien&lt;br /&gt; Klien kooperatif&lt;br /&gt;2. Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt; Resiko perilaku kekerasan&lt;br /&gt;3. Tujuan khusus  &lt;br /&gt;TUK 6 - 7:&lt;br /&gt;4. Tindakan keperawatan&lt;br /&gt;Melatih atau mempraktekkan cara verbal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Strategi Komunikasi &lt;br /&gt;1. Orientasi &lt;br /&gt;a. Salam terapeutik&lt;br /&gt;  Selamat pagi mbak Y sesuai janji saya tadi sekarang kita ketemu lagi.&lt;br /&gt;b. Validasi&lt;br /&gt;  Bagaimana Mbak Y sudah dilakukan latihan nafas dalam dan pukul bantal atau kasur ? apa yang dirasakan setelah dilakukan secara teratur ? bagaimana kalau sekarang kita latihan cara bicara untuk mencegah marah ?&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;  Mbak Y mintanya ngobrol di mana ? Bagaimana kalau di sini saja, berapa lama Mbak Y mau berbincang-bincang ? Bagaimana kalau 10 menit ?&lt;br /&gt;2. Kerja&lt;br /&gt;  Sekarang kita latihan cara bicara yang baik untuk mencegah marah, kalau marah sudah disalurkan melalui tarik nafas dan pukul bantal sudah lega,maka kita perlu bicara dengan orang yang membuat kita marah. Ada 3 cara meminta dengan baik dengan nada yang rendah serta tidak menggunakan kata-kata kasar, menolak dengan baik, jika ada yang menyuruh anda Mbak Y tidak ingin melakukannya katakan ”maaf saya tidak bisa melakukannya”, coba Mbak Y lakukan ! bagus sekali. Mengungkapkan perasaan kesal, jika ada perilaku orang lain yang membuat kesal Mbak dapat mengatakan ”saya jadi ingin marah karena perkataan itu”. Coba Mbak Y praktekkan ! Wah Mbak Y bagus sekali. &lt;br /&gt;3. Terminasi &lt;br /&gt;a. Evaluasi subyektif&lt;br /&gt; Bagaimana perasaan Mbak Y setelah kita bercakap-cakap tentang cara mengontrol marah dengan bicara yang baik ?&lt;br /&gt;b. Evaluasi obyektif&lt;br /&gt; Coba Mbak Y sebutkan lagi cara yang baik yang telah saya ajarkan tadi, Iya bagus sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Rencana tindak lanjut&lt;br /&gt; Mbak Y melatih terus cara-cara yang sudah saya ajarkan tadi ya.&lt;br /&gt;d. Kontrak&lt;br /&gt; Bagaimana kalau kita bertemu lagi kita akan latihan mengatasi rasa marah yaitu dengan cara spiritual (ibadah), Mbak Y bersedia ? mau dimana Mbak Y ngobrolnya ? Di sini lagi saja ya. Mbak Y mau latihannya jam       berapa ? Bagaimana kalau jam 10.00 ?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN&lt;br /&gt;KEPERAWATAN 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Proses Keperawatan&lt;br /&gt;1. Kondisi klien&lt;br /&gt; Kontak mata ada, pasien kooperatif&lt;br /&gt;2. Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt; Resiko perilaku kekerasan&lt;br /&gt;3. Tujuan khusus  6 - 7&lt;br /&gt;a. TUK 6  :&lt;br /&gt;Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam mengungkapkan kemarahan.&lt;br /&gt;b. TUK 7 : &lt;br /&gt;Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;4. Tindakan keperawatan&lt;br /&gt;Mendiskusikan hasil latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik dan secara verbal, latihan sholat atau berdo’a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Strategi Komunikasi &lt;br /&gt;1. Orientasi &lt;br /&gt;a. Salam terapeutik&lt;br /&gt;  Assalamu’alaikum Mbak Y sesuai janji kita kemarin sekarang saya datang lagi.&lt;br /&gt;b. Validasi&lt;br /&gt;  Bagaimana Mbak Y latihan apa yang sudah dilakukan ? Apa yang dilakukan setelah melakukan latihan secara teratur ? Bagus sekali bagaimana rasa marahnya ?&lt;br /&gt;c. Kontrak&lt;br /&gt;  Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara yang lain untuk mencegah rasa marah yaitu dengan ibadah, di mana enaknya kita ngobrolnya, bagaimana kalau disini saja ? Berapa lama Mbak Y mau ngobrolnya ? Bagaimana kalau 10 menit ?&lt;br /&gt;2. Kerja&lt;br /&gt;  Coba ceritakan kegiatan ibadah yang biasa Mbak Y lakukan, bagus sekali yang mana yang mau dicoba ? Nah kalau Mbak Y sedang marah Mbak Y langsung duduk tarik nafas dalam jika tidak reda juga marahnya rendahkan badan agar rileks jika tidak reda juga, ambil air wudhlu kemudian sholat, Mbak Y bisa melakukan sholat secara teratur untuk meredakan kemarahan. Coba Mbak Y sebutkan sholat 5 waktu ! Bagus mau coba yang mana, coba sebutkan caranya !&lt;br /&gt;3. Terminasi &lt;br /&gt;  Bagaimana perasaan Mbak Y setelah kita bercakap-cakap tentang cara yang ketiga ini ? Jadi sudah berapa cara mengontrol marah yang kita pelajari ? Bagus&lt;br /&gt;Coba Mbak Y sebutkan lagi cara ibadah sholat yang dapat Mbak Y lakukan bila Mbak Y merasa marah.&lt;br /&gt;Baiklah kita ketemu lagi ya, Mbak Y besok kita bicarakan cara yang lain untuk mengontrol rasa marah yaitu dengan patuh minum obat, mau jam berapa Mbak Y ? Jam 08.00&lt;br /&gt;Besok kita akan membicarakan cara penggunaan obat yang benar untuk mengontrol rasa marah Mbak Y, setuju ?&lt;br /&gt; Sampai ketemu besok ya assalamu’alaikum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN&lt;br /&gt;KEPERAWATAN 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Proses Keperawatan&lt;br /&gt;1. Kondisi klien&lt;br /&gt; Pasien tampak tenang dan kooperatif.&lt;br /&gt;2. Diagnosa keperawatan&lt;br /&gt; Resiko perilaku kekerasan&lt;br /&gt;3. Tujuan khusus  &lt;br /&gt;a. TUK 6 :&lt;br /&gt; Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam mengungkapkan kemarahan.&lt;br /&gt;b. TUK 7 :&lt;br /&gt; Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;4. Tindakan keperawatan&lt;br /&gt;a. Evaluasi jadwal kegiatan harian praktek pasien untuk mencegah marah yang sudah dilakukan.&lt;br /&gt;b. Latihan pasien minum obat secara teratur dengan prinsip 5 benar (benar nama pasien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu minum obat, dan akibat berhenti minum obat) disertai penjelasan guna obat dan akibat berhenti minum obat.&lt;br /&gt;c. Susun jadwal minum obat secara teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Strategi Komunikasi &lt;br /&gt;1. Orientasi &lt;br /&gt;  Assalamu’alaikum Mbak Y sesuai dengan janji saya kemarin hari ini kita ketemu lagi. Bagaimana Mbak Y sudah dilakukan latihan tarik nafas dalam, pukul kasur atau bantal, bicara yang baik serta sholat ? Apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur ? Coba kita latihan atau cek kegiatannya ? Bagaimana kalau sekarang kita bicara dan latihan tentang cara minum obat yang benar untuk mengontrol rasa marah ? Di mana kita akan berbincang ? Bagaimana kalau di tempat kemarin ? Berapa lama Mbak Y mau berbincang-bincang ? Bagaiamana kalau 10 menit ?&lt;br /&gt;2. Kerja&lt;br /&gt;  Mbak Y sudah dapat obat dari dokter ? Berapa macam obat yang Mbak Y minum ? Warnanya apa saja ? Bagus, Jam berapa Mbak Y minum ? Bagus ! Obatnya ada berapa macam Mbak Y kalau yang warnanya orange namanya CPZ gunanya agar pikiran tenang, yang putih namanya THP agar rileks dan tidak tegang, dan yang merah jambu namanya HLP agar pikiran teratur dan rasa marah berkurang. Semua ini harus Mbak Y minum 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam. Bila nanti setelah minum obat mulut Mbak Y terasa kering untuk membantu mengatasinya bisa menghisap es batu dan bila mata merasa berkunang-kunang Mbak Y sebaiknya istirahat dan jangan beraktivitas dulu.&lt;br /&gt;  Nanti di rumah sebelum minum obat ini Mbak Y lihat dulu di tabel kotak obat, apakah benar Mbak Y tertulis disitu, berapa dosis yang harus diminum, jam berapa harus diminum, apakah nama obatnya sudah benar ? Di sini minta obatnya pada perawat kemudian cek lagi apakah benar obatnya ? Jangan pernah menghentikan minum obatnya sebelum konsultasi dengan dokter ya Mbak Y, karena dapat terjadi kekambuhan. Sekarang mari kita masukkan waktu minum obat ke dalam jadwal ya Mbak Y.&lt;br /&gt;3. Terminasi &lt;br /&gt;  Bagaimana perasaan Mbak Y setelah kita bercakap-cakap tentang cara minum obat yang benar. Nah sudah berapa cara mengontrol perasaan marah yang kita pelajari, sekarang kita tambahkan jadwal kegiatannya dengan minum obat, jangan lupa laksanakan semua dengan teratur ya ? Baik, besuk kita ketemu kembali untuk melihat sejauhmana Mbak Y melaksanakan kegiatan dan sejauh mana dapat mencegah rasa marah, sampai jumpa Mbak Y.&lt;br /&gt; Assalamu’alaikum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;LAPORAN PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Masalah Utama&lt;br /&gt; Gangguan Harga diri rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Proses Terjadinya Masalah&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;  Perilaku menarik diri adalah suatu usaha untuk menghindari interaksi  dan hubungan dengan orang lain (Tucker, 1998).&lt;br /&gt;  Menarik diri adalah kondisi atau keadaan di mana individu mengalami atau beresiko terhadap respon ketidakefektifan dan ketidakpuasan dan interaksi (Carpenito, 2001).&lt;br /&gt;  Menarik diri adalah suatu usaha untuk menghindari interaksi dengan orang lain (Keliat, 1999).&lt;br /&gt;  Menarik diri adalah kondisi kesepian yang diekpresikan oleh individu dan dirasakan sebagai yang ditimbulkan oleh orang lain dan sebagai suatu keadaan yang negatif dan mengancam (Townsend, 1998).&lt;br /&gt;  Menurut Stuart dan Sundeen (1998) rentang respon sosial dari adaptif dan mal adaptif dapat digambarkan.&lt;br /&gt;2. Tanda dan gejala&lt;br /&gt;a. Kurang spontan&lt;br /&gt;b. Apatis&lt;br /&gt;c. Ekspresi wajah kurang berseri&lt;br /&gt;d. Afek tumpul&lt;br /&gt;e. Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri&lt;br /&gt;f. Komunikasi verbal menurun atau tidak ada&lt;br /&gt;g. Mengisolasi diri, klien tampak memisahkan diri dengan orang lain&lt;br /&gt;h. Tidak ada atau kurang sadar dengan keadaan lingkungan&lt;br /&gt;i. Aktifitas menurun&lt;br /&gt;j. Kurang energi harga diri rendah&lt;br /&gt;k. Pada saat tidur posisi seperti janin&lt;br /&gt; Tanda dan gejala klien dengan gangguan isolasi sosial adalah sedih, kontak mata hilang atau kurang, efek tumpul, melakukan tindakan berulang yang tidak bermakna, posisi tidur seperti janin, mengekspresikan perasaan sendiri atau penolakan, disfungsi, interaksi dengan sebaya, keluarga atau orang lain, menjaga jarak dengan orang lain dan tidak komunikatif. (Townsend  1998).&lt;br /&gt;3. Akibat dan mekanisme&lt;br /&gt;a. Akibat yang mungkin ditimbulkan pada klien yang mengalami isolasi sosial yaitu resiko perilaku kekerasan.&lt;br /&gt;b. Mekanisme &lt;br /&gt; Pada klien menarik diri atau isolasi sosial, klien hanya menerima rangsangan internal tanpa mempertimbangkan imajinasi berlebihan.&lt;br /&gt;4. Penyebab dan mekanisme&lt;br /&gt;a. Gangguan persepsi sensori : harga diri rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Mekanisme&lt;br /&gt; Harga diri rendah pada klien isolasi sosial karena kegagalan membina hubungan dengan teman dan kurangnya dukungan dari orang lain atau orang tua, banyaknya permasalahannya yang dihadapi, ketegangan kecemasan yang tidak terjamin untuk mengembangkan kehangatan, kehangatan emosional dalam hubungan yang positif dengan orang lain sehingga klien merasa minder untuk berinteraksi dengan orang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;C. Pohon Masalah&lt;br /&gt;Risiko perilaku kekerasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Isolasi sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan konsep diri : Harga diri rendah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Masalah Keperawatan  &lt;br /&gt;1. Risiko menciderai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan&lt;br /&gt; Data :&lt;br /&gt;a. Agresif&lt;br /&gt;b. Gaduh&lt;br /&gt;c. Gelisah&lt;br /&gt;d. Menyentuh oran lain secara menyakitkan&lt;br /&gt;e. Mengancam melukai&lt;br /&gt;f. Marah tingkat ringan sampai serius&lt;br /&gt;2. Gangguan isolasi sosial&lt;br /&gt; Data yang perlu dikaji :&lt;br /&gt;a. Gangguan pola makan, nafsu makan menurun atau meningkat&lt;br /&gt;b. BB meningkat atau menurun drastis&lt;br /&gt;c. Kemunduran kesehatan fisik&lt;br /&gt;d. Tidur berlebihan&lt;br /&gt;e. Tinggal di tempat tidur dengan waktuyang lama&lt;br /&gt;f. Banyak tidur siang&lt;br /&gt;g. Kurang bergairah&lt;br /&gt;h. Tidak peduli lingkungan&lt;br /&gt;i. Kegiatan menurun&lt;br /&gt;j. Mondar-mandir, mematung, gerakan langsung&lt;br /&gt;k. Apatis&lt;br /&gt;l. Efek tumpul dan komunikasi verbal kurang&lt;br /&gt;3. Gangguan konsep diri, harga diri rendah&lt;br /&gt; Data yang perlu dikaji :&lt;br /&gt;a. Perasaan malu terhadap diri sendiri&lt;br /&gt;b. perasaan atau pikiran negatif terhadap orang lain&lt;br /&gt;c. Rasa bersalah terhadap diri sendiri&lt;br /&gt;d. Percaya diri kurang&lt;br /&gt;e. Menciderai diri akibat harga diri rendahd dan harapan yang suram&lt;br /&gt;f. Pembicaraan kacau&lt;br /&gt;g. Merasa tidak berguna, tidak bisa melakukan peran&lt;br /&gt;E. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;1. Resiko perilaku kekerasan&lt;br /&gt;2. Isolasi sosial&lt;br /&gt;3. Gangguan konsep diri, menarik diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Rencana Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt; 1. Isolasi sosial&lt;br /&gt;a. Tujuan Umum  : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi.&lt;br /&gt;b. TUK I  : Klien dapat membina hubungan saling percaya.&lt;br /&gt;  Intervensi  :&lt;br /&gt;1) Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal&lt;br /&gt;2) Perkenalkan diri dengan sopan&lt;br /&gt;3) Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien&lt;br /&gt;4) Jelaskan tujuan pertemuan&lt;br /&gt;5) Jujur dan menepati janji&lt;br /&gt;6) Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya&lt;br /&gt;7) Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien&lt;br /&gt;c. TUK 2 : Klien dapat menyebutkan penyebab isolasi sosial&lt;br /&gt; Intervensi  :&lt;br /&gt;1) Kaji pengetahuan klien tentang perilaku isolasi sosial dan tanda-tanda &lt;br /&gt;2) Berikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab isolasi sosial atau tidak mau bergabung&lt;br /&gt;3) Diskusikan bersama klien tentang perilaku isolasi sosial tanda-tanda serta penyebab yang muncul&lt;br /&gt;4) Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya&lt;br /&gt;d. TUK 3  : Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak berhubugnan dengan orang lain.&lt;br /&gt;  Intervensi  :&lt;br /&gt;1) Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan&lt;br /&gt;2) Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;3) Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain&lt;br /&gt;4) Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubugan dengan orang lain&lt;br /&gt;5) Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain&lt;br /&gt;6) Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang lain&lt;br /&gt;7) Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain&lt;br /&gt;8) Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;e. TUK 4  : Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap.&lt;br /&gt;  Intervensi  :&lt;br /&gt;1) Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain&lt;br /&gt;2) Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap :&lt;br /&gt;a). K – P&lt;br /&gt;b). K – P – P lain&lt;br /&gt;c). K – P – P lain – K lain&lt;br /&gt;d). K – Kel / Kelp / Masy&lt;br /&gt;3) Beri reinforcement terhadap keberhasilan yang telah dicapai&lt;br /&gt;4) Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan&lt;br /&gt;5) Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu&lt;br /&gt;6) Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan&lt;br /&gt;7) Beri reinforcement atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan.&lt;br /&gt;f. TUK 5  : Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungand engan orang lain.&lt;br /&gt;  Intervensi  :&lt;br /&gt;1) Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan orang lain&lt;br /&gt;2) Diskusikan denga klien tentang perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;3) Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;g. TUK 6  : Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atas keluarga mampu mengembangkan kemampua klien untuk bertanya pada orang lain.&lt;br /&gt;  Intervensi  :&lt;br /&gt;1) Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :&lt;br /&gt;a). Salam perkenalkan diri&lt;br /&gt;b). Sampaikan tujuan&lt;br /&gt;c). Buat kontrak&lt;br /&gt;d). Eksplorasi perasaan klien&lt;br /&gt;2) Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :&lt;br /&gt;a). Perilaku isolasi sosial&lt;br /&gt;b). Penyebab perilaku isolasi sosial&lt;br /&gt;c). Akibat yang akan terjadi jika perilaku sosial tidak ditanggapi&lt;br /&gt;d). Cara keluarga menghadapi klien isolasi sosial&lt;br /&gt;3) Dorong anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain&lt;br /&gt;4) Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergagitan menjenguk untuk terminal satu kali seminggu&lt;br /&gt;5) Beri reinforcement atas hal-hal yang telah dicapai oleh klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carpenito, L.J., 2001, Buku Saku Diagnosa Keperawatan (terjemahan), Edisi 8, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaplan, H.I., Sadock, B.J., 1998, Ilmu Kedokteran Jiwa, Widya Medika, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaplan, H.I., Sadock, B.J., 2005, Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat (terjemahan), Widya Medika, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keliat, B.A., Herawati, N., Panjaitan, R.U., dan Helen N., 1998, Proses Keperawatan Jiwa, EGC, Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keliat, B.A., 2005, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi 2, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusuma W., 1997, Kedaruratan Psikiatrik dalam Praktek, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanda, 2001, Diagnosis Keperawatan Nanda, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanda, 2006, Nursing Diagnosis : Definition and Clasification, Philadelpia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stuart, G.W dan Sundeen, S.J., 1998, Buku Saku Keperawatan Jiwa (terjemahan), EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Townsend, M.C., 1998, Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatrik (terjemahan), Edisi 3, EGC, Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-369663197711840808?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/369663197711840808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/resiko-perilaku-kekerasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/369663197711840808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/369663197711840808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/resiko-perilaku-kekerasan.html' title='Resiko perilaku kekerasan'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-5255011124823710511</id><published>2009-06-22T07:13:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T07:16:29.003-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN PENDAHULUAN  HALUSINASI'/><title type='text'>LAPORAN PENDAHULUAN  HALUSINASI</title><content type='html'>LAPORAN PENDAHULUAN &lt;br /&gt;HALUSINASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Masalah Utama&lt;br /&gt;1. Definisi&lt;br /&gt;- Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersiapkan sesuatu yang terjadi, suatu penerapan panca indera tanpa ada rangsangan dari luar (Maramis, 1998)&lt;br /&gt;- Salah satu penyimpangan atau distorsi persepsi yang terjadi dalam respon neurobiology (Gail Stuart dan Michele T. Lerale, 1998)&lt;br /&gt;- Persepsi dari stimulus eksternal tanpa sumber atau aspek dari luar terhadap indera yang tidak nyata tetapi penderita yakin itu ada (Harold I Kaplan dan berjamin J. Sadock, 1998).&lt;br /&gt;2. Tanda dan Gejala&lt;br /&gt;- Merasa tidak mampu (harga diri rendah)&lt;br /&gt;- Putus asa (tidak percaya diri)&lt;br /&gt;- Merasa gagal (kehilangan motivasi menggunakan ketrampilan diri)&lt;br /&gt;- Kehilangan kendali diri (demoralisasi)&lt;br /&gt;- Merasa punya kekuatan berlebihan dengan gejala tersebut.&lt;br /&gt;- Merasa malang (tidak dapat memenuhi kebutuhan spiritual)&lt;br /&gt;- Bertindak seperti orang lain dari segi kebudayaan maupun usia&lt;br /&gt;- Rendahnya kemampuan sosialisasi diri&lt;br /&gt;- Perilaku agresif&lt;br /&gt;- Perilaku kekerasan&lt;br /&gt;- Ketidak adekuatan pengobatan&lt;br /&gt;- Ketidakadekuatan penanganan gejala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Penyebab&lt;br /&gt;Penyebab dari halusinasi adalah menarik diri:&lt;br /&gt;1. Definisi&lt;br /&gt;Perilaku menarik dari merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Rawlin, 1993).&lt;br /&gt;2. Tanda dan Gejala&lt;br /&gt;- Kurang spontan&lt;br /&gt;- Apatis (Acuh terhadap lingkungan)&lt;br /&gt;- Ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi sedih)&lt;br /&gt;- Afek tumpul&lt;br /&gt;- Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri&lt;br /&gt;- Komunikasi menurun/tidak ada 1 klien tidak bercakap-cakap dengan orang lain.&lt;br /&gt;- Mengisolasi diri (menyendiri), klien tampak memisahkan diri dari orang lain.&lt;br /&gt;- Tidak atau kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya&lt;br /&gt;- Pemasukan makanan dan minuman terganggu&lt;br /&gt;- Retensi urin dan feses&lt;br /&gt;- Aktifitas menurun&lt;br /&gt;- Kurang tenaga atau energi&lt;br /&gt;- Harga diri rendah&lt;br /&gt;- Posisi janin saat tidur&lt;br /&gt;- Menolak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Akibat&lt;br /&gt;Akibat dari menarik diri adalah resiko mencederai sendiri dan orang lain.&lt;br /&gt;1. Definisi&lt;br /&gt;Suatu keadaan dimana seseorang mengalami perilaku yang dapat membahayakan secara fisik, kepada diri sendiri dan orang lain. (Townsend, 1998)&lt;br /&gt;2. Tanda dan Gejala&lt;br /&gt;a. Cenderung melakukan tindakan agresif terhadap lingkungan &lt;br /&gt;b. Cenderung merusak diri sendiri/melakukan percobaan bunuh diri&lt;br /&gt;c. Berkurangnya kemampuan mengungkapkan perasaan.&lt;br /&gt;d. Kegelisahan motorik&lt;br /&gt;e. Berkurangnya kemampuan beradaptasi terhadap stress&lt;br /&gt;f. Gangguan terhadap keseimbangan gizi, cairan, eliminasi &lt;br /&gt;g. Rasa rendah diri&lt;br /&gt;h. Kurang istirahat atau tidur&lt;br /&gt;i. Kurangnya kebersihan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Pohon Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji&lt;br /&gt;No Diagnosa  Data yang sudah ada  Data yang Perlu Dikaji&lt;br /&gt;1 Halusinasi   - Merasa tidak mampu&lt;br /&gt;- Putus asa&lt;br /&gt;- Merasa gagal&lt;br /&gt;- Kehilangan kendali diri &lt;br /&gt;- Merasa punya kekuatan yang berlebihan dengan gejala tersebut&lt;br /&gt;- Mreasa malang&lt;br /&gt;- Bertindak seperti orang lain dan segi usia maupun kebudayaan&lt;br /&gt;- Rendahnya sosialisasi diri&lt;br /&gt;- Perilaku agresif&lt;br /&gt;- Ketidakadekuatan pengobatan&lt;br /&gt;- Ketidakadekuatan penanganan gejala&lt;br /&gt;2 Menarik diri  - Kurang spontan&lt;br /&gt;- Apatis&lt;br /&gt;- Ekspresi wajah kurang berseri&lt;br /&gt;- Afek tumpul&lt;br /&gt;- Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri.&lt;br /&gt;- Tidak/kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;- Pemasukan makanan/minum terganggu&lt;br /&gt;- Retensi urin/feses&lt;br /&gt;- Aktifitas menurun&lt;br /&gt;- Kurang energi&lt;br /&gt;- Harga diri rendah&lt;br /&gt;- Posisi janin pada saat tidur&lt;br /&gt;- Menolak berhubungan dengan orang lain&lt;br /&gt;3 Resiko mencederai diri sendiri dan orang lain   - Cenderung melakukan tindakan agresif terhadap lingkungan&lt;br /&gt;- Cenderung merusak diri sendiri atau melakukan percobaan bunuh diri&lt;br /&gt;- Berkurangnya kemampuan mengungkapkan perasaan&lt;br /&gt;- Berkurangnya kemampuan beradaptasi terhadap stress&lt;br /&gt;- Rasa rendah diri&lt;br /&gt;- Kurang istirahat/tidur&lt;br /&gt;- Kurangnya kebersihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;a. Halusinasi&lt;br /&gt;b. Menarik Diri&lt;br /&gt;c. Resiko Mencederai Diri Sendiri, Orang Lain dan Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VII. Rencana Tindakan&lt;br /&gt;TUM : Klien tidak mengalami halusinasi.&lt;br /&gt;TUK 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya&lt;br /&gt;Kriteria :&lt;br /&gt;1.1 Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi.&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;1.1.1 Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik&lt;br /&gt;a. Sapa klien dengan ramah, baik verbal maupun non verbal&lt;br /&gt;b. Perkenankan diri dengan sopan&lt;br /&gt;c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien&lt;br /&gt;d. Jelaskan tujuan pertemuan&lt;br /&gt;e. Jujur dan menempati janji&lt;br /&gt;f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya&lt;br /&gt;g. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien&lt;br /&gt;TUK 2 : Klien dapat mengenal halusinasinya&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;2.1 Klien dapat menyebutkan waktu, isi, frekuensi timbulnya halusinasi&lt;br /&gt;Intervensi &lt;br /&gt;2.1.1  Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap&lt;br /&gt;2.1.2 Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya bicara dan tertawa. Tanpa stimulus memandang ke kiri/ kekanan/ ke depan seolah-olah ada teman bicara.&lt;br /&gt;2.1.3 Bantu klien mengenal halusinasinya&lt;br /&gt;a. Jika menemukan klien yang sedang halusinasi, tanyakan apakah ada suara yang didengar&lt;br /&gt;b. Jika klien menjawab ada, lanjutkan apa yang dikatakan&lt;br /&gt;c. Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu, namun perawat sendiri tidak mendengarnya (dengan nada bersahabat tanpa menuduh atau menghakimi)&lt;br /&gt;d. Kayakan bahwa perawat akan membantu klien&lt;br /&gt;e. Katakan bahwa perawat akan membantu klien&lt;br /&gt;2.1.4 Diskusikan dengan klien&lt;br /&gt;a. Situasi yang menimbulkan/ tidak menimbulkan halusinasi&lt;br /&gt;b. Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore, dan malam atau jika sendiri jengkel/ sedih).&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;2.2 Klien dapat mengungkapkan perasaan terhadap halusinasinya.&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;2.2.1  Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi (marah/ takut, sedih, senang) beri kesempatan mengungkapkan perasaan&lt;br /&gt;TUK 3 : Klien dapat mengontrol halusinasinya&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;3.1 Klien dapat menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;3.1.1 Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukkan diri dan lain-lain)&lt;br /&gt;3.1.2 Diskusikan manfaat dan cara yang digunakan klien jika bermanfaat beri pujian&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;3.2 Klien dapat menyebutkan cara baru&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;3.2.1 Diskusikan cara baru untuk memutuskan/ mengontrol timbulnya halusinasinya&lt;br /&gt;a. Katakan : “saya tidak mau dengar kamu” (pada saat halusinasi terjadi)&lt;br /&gt;b. Menemui orang lain (perawat/ teman/ anggota keluarga) untuk bercakap-cakap/ mengatakan halusinasi yang didengar.&lt;br /&gt;c. Membuat jadwal kegiatan sehari-hari agar halusinasinya yang didengar&lt;br /&gt;d. Meminta keluarga/ teman/ perawat, menyapa jika tampak bicara sendiri&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;3.3 Klien dapat memilih cara mengatasi halusinanya seperti yang telah didiskusikan dengan klien&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;3.3.1 Bantu klien memilih dan melatih cara memutus halusinasi secara bertahap.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;3.4 Klien dapat melaksanakan cara yang telah dipilih untuk mengendalikan&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;3.4.1 Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih, evaluasi hasil dan beri pujian jika berhasil.&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;3.5 Klien dapat mengikuti terapi aktifitas kelompok&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;3.5.1 Anjurkan klien mengikuti terapi aktifitas kelompok, anentasi realitas stimulasi persepsi&lt;br /&gt;TUK 4 : Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasi&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;4.1 Keluarga dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;4.1.1 Anjurkan klien untuk memberi tahu keluarga jika mengalami halusinasi&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;4.2 Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dan tindakan untuk mengendalikan halusinasinya&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;4.2.1 Diskusikan dengan keluarga (pada saat keluarga berkunjung pada saat kunjungan rumah)&lt;br /&gt;a. Gejala halusinasi yang dialami klien&lt;br /&gt;b. Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi&lt;br /&gt;c. Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah : beri kegiatan jangan biarkan sendiri, makan bersama, berpergian bersama.&lt;br /&gt;d. Beri informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan halusinasi tidak terkontrol dan resiko mencederai orang lain&lt;br /&gt;TUK 5 : Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;5.1 Klien dan keluarga dapat menyebutkan manfaat, dosis dan efek samping obat&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;5.1.1 Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;5.2 Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;5.2.1 Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;5.3 Klien dapat informasi tentang manfaat dan efek samping obat &lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;5.3.1 Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat yang dirasakan&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;5.4 Klien memahami akibat berhentinya obat tanpa konsultasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;5.4.1 Diskusikan akibat berhenti obat-obat tanpa konsultasi&lt;br /&gt;Kriteria evaluasi&lt;br /&gt;5.5 Klien dapat menyebutkan prinsip 5 benar penggunaan obat&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;5.5.1 Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-5255011124823710511?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/5255011124823710511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/laporan-pendahuluan-halusinasi_22.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/5255011124823710511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/5255011124823710511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/laporan-pendahuluan-halusinasi_22.html' title='LAPORAN PENDAHULUAN  HALUSINASI'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-1248786374810281228</id><published>2009-06-22T07:10:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T07:13:38.037-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='askep Stroke Haemoragic'/><title type='text'>Stroke Haemoragic</title><content type='html'>Stroke Haemoragic &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengertian&lt;br /&gt;Stroke secara umum merupakan defisit neurologis yang mempunyai serangan mendadak dan berlangsung 24 jam sebagai akibat dari terganggunya pembuluh darah otak (hudak dan Gallo, 1997)&lt;br /&gt;Stroke digunakan untuk menamakan sindrome hemiparese atau hemiparalisis akibat lesi vascular, yang secara tiba tiba daerah otak tidak menerima darah karena arteri yang memperdarahi daerah tersebut tersumbat, putus atau pecah. &lt;br /&gt;STROKE HAEMORAGIK&lt;br /&gt;Adalah bagian dari klasifikasi stroke, dimana perdarahan intra cerebral dan mungkin perdarahan sub arachnoid yang disebabkan karena pecahnya pembuluh darah otak pada daerah tertentu. Kejadian biasanya saat melakukan aktifitas, namun dapat juga saat istirahat dan kesadaran pasien umunya menurun.&lt;br /&gt;C. PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;D. FAKTOR RESIKO&lt;br /&gt;Hipertensi, perokok, penyakit jantung terutama artrial fibrilasi, cerebral aneurisma, aterosclerosis, stroke sebelumnya atau TIA, Diabetes, Polisitemia, usila&lt;br /&gt;E. GEJALA KLINIK&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;• &lt;!--[endif]--&gt;mendadak, nyeri kepala&lt;br /&gt;•Paraesthesia, paresis,Plegia sebagian badan&lt;br /&gt;•Dysphagia&lt;br /&gt;•Aphasia&lt;br /&gt;• Gangguan penglihatan&lt;br /&gt;• Perubahan kemampuan kognitif&lt;br /&gt;F. PEMERIKSAAN PENUNJANG&lt;br /&gt;• CT Scan : Haemoragi: sub dural, sub aracnoid, intra cerebral. Edema, Iskemia&lt;br /&gt;• EEG : Mengidentifikasi area lesi dan gelombang listrik&lt;br /&gt;• Angiografi : Haemoragi, obstruksi arteri, oklusi dan ruptur&lt;br /&gt;• MRI : Infark, perdarahan, kelainan arteri venous&lt;br /&gt;• Lumbal Punksi : Pada perdarahan Sub Arachnoid dan intra cerebral cairan cerebro spinal &lt;br /&gt;mengandung darah&lt;br /&gt;G. PENATALAKSANAAN&lt;br /&gt;1.Phase Akut:&lt;br /&gt;• Pertahankan fungsi vital: jalan nafas, pernafasan, oksigenisasi dan sirkulasi&lt;br /&gt;• Reperfusi dengan trombolityk atau vasodilation: Nimotop&lt;br /&gt;• Pencegahan peningkatan TIK&lt;br /&gt;• Mengurangi edema cerebral dengan diuretik&lt;br /&gt;2. Post phase akut&lt;br /&gt;• Pencegahan spatik paralisis dengan antispasmodik&lt;br /&gt;• Program fisiotherapi&lt;br /&gt;• Penangan masalah psikososial&lt;br /&gt;H. PENGKAJIAN KEPERAWATAN UTAMA&lt;br /&gt;• Monitor tanda vital&lt;br /&gt;• Monitor tingkat kesadaran &lt;br /&gt;• Mengkaji fungsi eliminasi&lt;br /&gt;• Mengkaji adanya gerakan involunter&lt;br /&gt;• Mengkaji kemampuan ADLs&lt;br /&gt;• Mengkaji kemampuan gerakan-otot&lt;br /&gt;I. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL&lt;br /&gt;• Nyeri kepala b.d. gangguan vascular cerebral: perdarahan cerebral&lt;br /&gt;• Gangguan perfuisi jaringan otak b.d edema cerebral&lt;br /&gt;• Self care deficit b.d parsial paralisis&lt;br /&gt;• Gangguan mobilitas fisik b.d kelemahan fisik/motorik&lt;br /&gt;• Konstipasi b.d. gangguan sensorik motorik&lt;br /&gt;• Cemas b.d. kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya&lt;br /&gt;• Resiko terjadi gangguan integritas kulit b.d bed rest yang lama&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-1248786374810281228?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/1248786374810281228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/stroke-haemoragic.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/1248786374810281228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/1248786374810281228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/stroke-haemoragic.html' title='Stroke Haemoragic'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-6519421611338091189</id><published>2009-06-22T07:08:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T07:10:05.952-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='askep SINUSITIS'/><title type='text'>SINUSITIS</title><content type='html'>SINUSITIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEFINISI :&lt;br /&gt;Sinusitis adalah : merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus.&lt;br /&gt;ETIOLOGI&lt;br /&gt;a. Rinogen&lt;br /&gt;Obstruksi dari ostium Sinus (maksilaris/paranasalis) yang disebabkan oleh :&lt;br /&gt;• Rinitis Akut (influenza)&lt;br /&gt;• Polip, septum deviasi&lt;br /&gt;b. Dentogen &lt;br /&gt;Penjalaran infeksidari gigi geraham atas&lt;br /&gt;Kuman penyebab :&lt;br /&gt;- Streptococcus pneumoniae&lt;br /&gt;- Hamophilus influenza&lt;br /&gt;- Steptococcus viridans&lt;br /&gt;- Staphylococcus aureus&lt;br /&gt;- Branchamella catarhatis&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;GEJALA KLINIS :&lt;br /&gt;a. Febris, filek kental, berbau, bisa bercampur darah&lt;br /&gt;b. Nyeri :&lt;br /&gt;- Pipi : biasanya unilateral&lt;br /&gt;- Kepala : biasanya homolateral, terutama pada sorehari&lt;br /&gt;- Gigi (geraham atas) homolateral.&lt;br /&gt;c. Hidung :&lt;br /&gt;- buntu homolateral&lt;br /&gt;- Suara bindeng.&lt;br /&gt;CARA PEMERIKSAAN&lt;br /&gt;a. Rinoskopi anterior :&lt;br /&gt;- Mukosa merah&lt;br /&gt;- Mukosa bengkak&lt;br /&gt;- Mukopus di meatus medius.&lt;br /&gt;b. Rinoskopi postorior&lt;br /&gt;- mukopus nasofaring.&lt;br /&gt;c. Nyeri tekan pipi yang sakit.&lt;br /&gt;d. Transiluminasi : kesuraman pada ssisi yang sakit.&lt;br /&gt;e. X Foto sinus paranasalis&lt;br /&gt;- Kesuraman &lt;br /&gt;- Gambaran “airfluidlevel”&lt;br /&gt;- Penebalan mukosa &lt;br /&gt;PENATALAKSANAAN :&lt;br /&gt;a. Drainage&lt;br /&gt;- Medical :&lt;br /&gt;* Dekongestan lokal : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak)&lt;br /&gt;* Dekongestan oral :Psedo efedrin 3 X 60 mg&lt;br /&gt;- Surgikal : irigasi sinus maksilaris.&lt;br /&gt;b. antibiotik diberikan dalam 5-7 hari (untk akut) yaitu :&lt;br /&gt;- ampisilin 4 X 500 mg&lt;br /&gt;- amoksilin 3 x 500 mg&lt;br /&gt;- Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet&lt;br /&gt;- Diksisiklin 100 mg/hari.&lt;br /&gt;c. Simtomatik&lt;br /&gt;- parasetamol., metampiron 3 x 500 mg.&lt;br /&gt;d. Untuk kromis adalah :&lt;br /&gt;- Cabut geraham atas bila penyebab dentogen&lt;br /&gt;- Irigasi 1 x setiap minggu ( 10-20)&lt;br /&gt;- Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi)&lt;br /&gt;TINJAUAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;PENGKAJIAN :&lt;br /&gt;1. Biodata : Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan,,&lt;br /&gt;2. Riwayat Penyakit sekarang :&lt;br /&gt;3. Keluhan utama : biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus, tenggorokan.&lt;br /&gt;4. Riwayat penyakit dahulu :&lt;br /&gt;- Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma&lt;br /&gt;- Pernah mempunyai riwayat penyakit THT&lt;br /&gt;- Pernah menedrita sakit gigi geraham&lt;br /&gt;5. Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.&lt;br /&gt;6. Riwayat spikososial &lt;br /&gt;a. Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih0&lt;br /&gt;b. Interpersonal : hubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;7. Pola fungsi kesehatan&lt;br /&gt;a. Pola persepsi dan tata laksanahidup sehat&lt;br /&gt;- Untuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping&lt;br /&gt;b. Pola nutrisi dan metabolisme :&lt;br /&gt;- biasanya nafsumakan klien berkurang karena terjadi gangguan pada hidung&lt;br /&gt;c. Pola istirahat dan tidur&lt;br /&gt;- selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering pilek&lt;br /&gt;d. Pola Persepsi dan konsep diri&lt;br /&gt;- klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan konsepdiri menurun&lt;br /&gt;e. Pola sensorik &lt;br /&gt;- daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).&lt;br /&gt;8. Pemeriksaan fisik&lt;br /&gt;a. status kesehatan umum : keadaan umum , tanda viotal, kesadaran.&lt;br /&gt;b. Pemeriksaan fisik data focus hidung : nyeri tekan pada sinus, rinuskopi (mukosa merah dan bengkak).&lt;br /&gt;Data subyektif :&lt;br /&gt;1. Observasi nares :&lt;br /&gt;a. Riwayat bernafas melalui mulut, kapan, onset, frekwensinya&lt;br /&gt;b. Riwayat pembedahan hidung atau trauma&lt;br /&gt;c. Penggunaan obat tetes atau semprot hidung : jenis, jumlah, frekwensinyya , lamanya.&lt;br /&gt;2. Sekret hidung :&lt;br /&gt;a. warna, jumlah, konsistensi secret&lt;br /&gt;b. Epistaksis &lt;br /&gt;c. Ada tidaknya krusta/nyeri hidung.&lt;br /&gt;3. Riwayat Sinusitis :&lt;br /&gt;a. Nyeri kepala, lokasi dan beratnya&lt;br /&gt;b. Hubungan sinusitis dengan musim/ cuaca.&lt;br /&gt;4. Gangguan umum lainnya : kelemahan&lt;br /&gt;Data Obyektif &lt;br /&gt;1. Demam, drainage ada : Serous&lt;br /&gt;Mukppurulen&lt;br /&gt;Purulen&lt;br /&gt;2. Polip mungkin timbul dan biasanya terjadi bilateral pada hidung dan sinus yang mengalami radang ? Pucat, Odema keluar dari hidng atau mukosa sinus&lt;br /&gt;3. Kemerahan dan Odema membran mukosa&lt;br /&gt;4. Pemeriksaan penunjung :&lt;br /&gt;a. Kultur organisme hidung dan tenggorokan&lt;br /&gt;b. Pemeriksaan rongent sinus.&lt;br /&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Nyeri : kepala, tenggorokan , sinus berhubungan dengan peradangan pada hidung&lt;br /&gt;2. Cemas berhubungan dengan Kurangnya Pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis(irigasi sinus/operasi)&lt;br /&gt;3. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi /adnya secret yang mengental&lt;br /&gt;4. Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hiidung buntu., nyeri sekunder peradangan hidung&lt;br /&gt;5. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan menurun sekunder dari peradangan sinus&lt;br /&gt;6. Gangguan konsep diri berhubungan dengan bau pernafasan dan pilek&lt;br /&gt;PERENCANAAN&lt;br /&gt;1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peradangan pada hidung&lt;br /&gt;Tujuan : Nyeri klien berkurang atau hilang&lt;br /&gt;Kriteria hasil :&lt;br /&gt;- Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang&lt;br /&gt;- Klien tidak menyeringai kesakitan &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;a. Kaji tingkat nyeri klien &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;e. Kolaborasi dngan tim medis :&lt;br /&gt;1) Terapi konservatif :&lt;br /&gt;- obat Acetaminopen; Aspirin, dekongestan hidung&lt;br /&gt;- Drainase sinus&lt;br /&gt;2) Pembedahan :&lt;br /&gt;- Irigasi Antral :&lt;br /&gt;Untuk sinusitis maksilaris&lt;br /&gt;- Operasi Cadwell Luc a. Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Klien mengetahui tehnik distraksi dn relaksasi sehinggga dapat mempraktekkannya bila mengalami nyeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Menghilangkan /mengurangi keluhan nyeri klien&lt;br /&gt;2. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis (irigasi/operasi)&lt;br /&gt;Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang&lt;br /&gt;Kriteria :&lt;br /&gt;- Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya&lt;br /&gt;- Klien mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya.&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;a. Kaji tingkat kecemasan klien&lt;br /&gt;b. Berikan kenyamanan dan ketentaman pada klien :&lt;br /&gt;- Temani klien&lt;br /&gt;- Perlihatkan rasa empati( datang dengan menyentuh klien )&lt;br /&gt;c. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit yang dideritanya perlahan, tenang seta gunakan kalimat yang jelas, singkat mudah dimengerti&lt;br /&gt;d. Singkirkan stimulasi yang berlebihan misalnya :&lt;br /&gt;- Tempatkan klien diruangan yang lebih tenang&lt;br /&gt;- Batasi kontak dengan orang lain /klien lain yang kemungkinan mengalami kecemasan&lt;br /&gt;e. Observasi tanda-tanda vital. &lt;br /&gt;f. Bila perlu , kolaborasi dengan tim medis a. Menentukan tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;b. Memudahkan penerimaan klien terhadap informasi yang diberikan &lt;br /&gt;c. Meingkatkan pemahaman klien tentang penyakit dan terapi untuk penyakit tersebut sehingga klien lebih kooperatif&lt;br /&gt;d. Dengan menghilangkan stimulus yang mencemaskan akan meningkatkan ketenangan klien.&lt;br /&gt;e. Mengetahui perkembangan klien secara dini.&lt;br /&gt;f. Obat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obtruksi (penumpukan secret hidung) sekunder dari peradangan sinus&lt;br /&gt;Tujuan : Jalan nafas efektif setelah secret (seous,purulen) dikeluarkan&lt;br /&gt;Kriteria :&lt;br /&gt;- Klien tidak bernafas lagi melalui mulut&lt;br /&gt;- Jalan nafas kembali normal terutama hidung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;a. kaji penumpukan secret yang ada&lt;br /&gt;b. Observasi tanda-tanda vital.&lt;br /&gt;c. Koaborasi dengan tim medis untuk pembersihan sekret a. Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;b. Mengetahui perkembangan klien sebelum dilakukan operasi&lt;br /&gt;c. Kerjasama untuk menghilangkan penumpukan secret/masalah &lt;br /&gt;4. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan menurun sekunder dari peradangan sinus&lt;br /&gt;Tujuan : kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi&lt;br /&gt;Kriteria :&lt;br /&gt;- Klien menghabiskan porsi makannya&lt;br /&gt;- Berat badan tetap (seperti sebelum sakit ) atau bertambah&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;a. kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi klien&lt;br /&gt;b. Jelaskan pentingnya makanan bagi proses penyembuhan&lt;br /&gt;c. Catat intake dan output makanan klien.&lt;br /&gt;d. Anjurkan makan sediki-sedikit tapi sering&lt;br /&gt;e. Sajikan makanan secara menarik a. Mengetahui kekurangan nutrisi klien&lt;br /&gt;b. Dengan pengetahuan yang baik tentang nutrisi akan memotivasi meningkatkan pemenuhan nutrisi&lt;br /&gt;c. Mengetahui perkembangan pemenuhan nutrisi klien&lt;br /&gt;d. Dengan sedikit tapi sering mengurangi penekanan yang berlebihan pada lambung&lt;br /&gt;e. Mengkatkan selera makan klien&lt;br /&gt;5. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan hidung buntu, nyeri sekunder dari proses peradangan&lt;br /&gt;Tujuan : klien dapat istirahat dan tidur dengan nyaman&lt;br /&gt;Kriteria :&lt;br /&gt;- Klien tidur 6-8 jam sehari&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;INTERVENSI RASIONAL&lt;br /&gt;a. kaji kebutuhan tidur klien.&lt;br /&gt;b. ciptakan suasana yang nyaman.&lt;br /&gt;c. Anjurkan klien bernafas lewat mulut&lt;br /&gt;d. Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat  a. Mengetahui permasalahan klien dalam pemenuhan kebutuhan istirahat tidur&lt;br /&gt;b. Agar klien dapat tidur dengan tenang&lt;br /&gt;c. Pernafasan tidak terganggu.&lt;br /&gt;d. Pernafasan dapat efektif kembali lewat hidung&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Doenges, M. G. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3 EGC, Jakarta 2000 &lt;br /&gt;Lab. UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan tenggorokan FK Unair, Pedoman diagnosis dan Terapi Rumah sakit Umum Daerah dr Soetom FK Unair, Surabaya&lt;br /&gt;Prasetyo B, Ilmu Penyakit THT, EGC Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-6519421611338091189?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/6519421611338091189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/sinusitis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/6519421611338091189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/6519421611338091189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/sinusitis.html' title='SINUSITIS'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-3395352654061874221</id><published>2009-06-22T07:02:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T07:08:43.034-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='askep Pneumionia'/><title type='text'>Pneumionia</title><content type='html'>Pneumionia &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian&lt;br /&gt;Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan adanya konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli. (Axton &amp; Fugate, 1993)&lt;br /&gt;Penyebab&lt;br /&gt;-Virus Influensa &lt;br /&gt;-Virus Synsitical respiratorik&lt;br /&gt;-Adenovirus&lt;br /&gt;-Rhinovirus&lt;br /&gt;-Rubela&lt;br /&gt;-Varisella&lt;br /&gt;-Micoplasma (pada anak yang relatif besar)&lt;br /&gt;-Pneumococcus&lt;br /&gt;-Streptococcus&lt;br /&gt;-Staphilococcus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda dan Gejala&lt;br /&gt; Sesak Nafas &lt;br /&gt; Batuk nonproduktif&lt;br /&gt; Ingus (nasal discharge)&lt;br /&gt; Suara napas lemah&lt;br /&gt; Retraksi intercosta&lt;br /&gt; Penggunaan otot bantu nafas&lt;br /&gt; Demam&lt;br /&gt; Ronchii&lt;br /&gt; Cyanosis&lt;br /&gt; Leukositosis&lt;br /&gt; Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis &lt;br /&gt;Pneumonia lobular &lt;br /&gt;Bronchopneumonia&lt;br /&gt;Pengkajian&lt;br /&gt;Identitas :&lt;br /&gt;Umur : Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus dibanding dewasa&lt;br /&gt;Mycoplasma terjadi pada anak yang relatif besar&lt;br /&gt;Tempat tinggal: Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar&lt;br /&gt;Riwayat Masuk&lt;br /&gt;Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas, cyanosis atau batuk-batuk disertai dengan demam tinggi. Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam (seizure).&lt;br /&gt;Riwayat Penyakit Dahulu&lt;br /&gt;Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA, influenza sering terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia.&lt;br /&gt;Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis penderita&lt;br /&gt;Pengkajian&lt;br /&gt;1. Sistem Integumen&lt;br /&gt;Subyektif : -&lt;br /&gt;Obyektif : kulit pucat, cyanosis, turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder), banyak keringat , suhu kulit meningkat, kemerahan&lt;br /&gt;2. Sistem Pulmonal&lt;br /&gt;Subyektif : sesak nafas, dada tertekan, cengeng&lt;br /&gt;Obyektif : Pernafasan cuping hidung, hiperventilasi, batuk (produktif/nonproduktif), sputum banyak, penggunaan otot bantu pernafasan, pernafasan diafragma dan perut meningkat, Laju pernafasan meningkat, terdengar stridor, ronchii pada lapang paru, &lt;br /&gt;3. Sistem Cardiovaskuler&lt;br /&gt;Subyektif : sakit kepala&lt;br /&gt;Obyektif : Denyut nadi meningkat, pembuluh darah vasokontriksi, kualitas darah menurun&lt;br /&gt;4. Sistem Neurosensori&lt;br /&gt;Subyektif : gelisah, penurunan kesadaran, kejang&lt;br /&gt;Obyektif : GCS menurun, refleks menurun/normal, letargi&lt;br /&gt;5. Sistem Musculoskeletal&lt;br /&gt;Subyektif : lemah, cepat lelah&lt;br /&gt;Obyektif : tonus otot menurun, nyeri otot/normal, retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan&lt;br /&gt;6. Sistem genitourinaria&lt;br /&gt;Subyektif : -&lt;br /&gt;Obyektif : produksi urine menurun/normal, &lt;br /&gt;7. Sistem digestif&lt;br /&gt;Subyektif : mual, kadang muntah&lt;br /&gt;Obyektif : konsistensi feses normal/diare&lt;br /&gt;Studi Laboratorik :&lt;br /&gt;Hb : menurun/normal&lt;br /&gt;Analisa Gas Darah : acidosis respiratorik, penurunan kadar oksigen darah, kadar karbon darah meningkat/normal&lt;br /&gt;Elektrolit : Natrium/kalsium menurun/normal&lt;br /&gt;Rencana Keperawatan&lt;br /&gt;1. Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Infeksi Paru&lt;br /&gt;Karakteristik : batuk (baik produktif maupun non produktif) haluaran nasal, sesak nafas, Tachipnea, suara nafas terbatas, retraksi, demam, diaporesis, ronchii, cyanosis, leukositosis&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Anak akan mengalami pola nafas efektif yang ditandai dengan :&lt;br /&gt;Suara nafas paru bersih dan sama pada kedua sisi&lt;br /&gt;Suhu tubuh dalam batas 36,5 – 37,2OC &lt;br /&gt;Laju nafas dalam rentang normal&lt;br /&gt;Tidak terdapat batuk, cyanosisi, haluaran hidung, retraksi dan diaporesis&lt;br /&gt;Tindakan keperawatan&lt;br /&gt;Lakukan pengkajian tiap 4 jam terhadap RR, S, dan tanda-tanda keefektifan jalan napas&lt;br /&gt;R : Evaluasi dan reassessment terhadap tindakan yang akan/telah diberikan&lt;br /&gt;Lakukan Phisioterapi dada secara terjadwal&lt;br /&gt;R : Mengeluarkan sekresi jalan nafas, mencegah obstruksi&lt;br /&gt;Berikan Oksigen lembab, kaji keefektifan terapi&lt;br /&gt;R : Meningkatkan suplai oksigen jaringan paru&lt;br /&gt;Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai order, kaji keefektifan dan efek samping (ruam, diare)&lt;br /&gt;R : Pemberantasan kuman sebagai faktor causa gangguan&lt;br /&gt;Lakukan pengecekan hitung SDM dan photo thoraks&lt;br /&gt;R : Evaluasi terhadap keefektifan sirkulasi oksigen, evaluasi kondisi jaringan paru&lt;br /&gt;Lakukan suction secara bertahap&lt;br /&gt;R : Membantu pembersihan jalan nafas&lt;br /&gt;Catat hasil pulse oximeter bila terpasang, tiap 2 – 4 jam&lt;br /&gt;R : Evaluasi berkala keberhasilan terapi/tindakan tim kesehatan&lt;br /&gt;2. Defisit Volume Cairan b.d :&lt;br /&gt;- Distress pernafasan&lt;br /&gt;- Penurunan intake cairan&lt;br /&gt;- Peningkatan IWL akibat pernafasan cepat dan demam&lt;br /&gt;Karakteristik :&lt;br /&gt;Hilangnya nafsu makan/minum, letargi, demam., muntah, diare, membrana mukosa kering, turgor kulit buruk, penurunan output urine.&lt;br /&gt;Tujuan : Anak mendapatkan sejumlah cairan yang adekuat ditandai dengan :&lt;br /&gt;Intake adekuat, baik IV maupun oral&lt;br /&gt;Tidak adanya letargi, muntah, diare&lt;br /&gt;Suhu tubuh dalam batas normal&lt;br /&gt;Urine output adekuat, BJ Urine 1.008 – 1,020&lt;br /&gt;Intervensi Keperawatan :&lt;br /&gt;Catat intake dan output, berat diapers untuk output&lt;br /&gt;R : Evaluasi ketat kebutuhan intake dan output&lt;br /&gt;Kaji dan catat suhu setiap 4 jam, tanda devisit cairan dan kondisi IV line&lt;br /&gt;R : Meyakinkan terpenuhinya kebutuhan cairan&lt;br /&gt;Catat BJ Urine tiap 4 jam atau bila perlu&lt;br /&gt;R : Evaluasi obyektif sederhana devisit volume cairan&lt;br /&gt;Lakukan Perawatan mulut tiap 4 jam&lt;br /&gt;R : Meningkatkan bersihan sal cerna, meningkatkan nafsu makan/minum&lt;br /&gt;Diagnosa lain :&lt;br /&gt;1. Perubahan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan b.d anoreksia, muntah, peningkatan konsumsi kalori sekunder terhadap infeksi&lt;br /&gt;2. Perubahan rasa nyaman b.d sakit kepala, nyeri dada&lt;br /&gt;3. Intoleransi aktivitas b.d distres pernafasan, latergi, penurunan intake, demam&lt;br /&gt;4. Kecemasan b.d hospitalisasi, distress pernafasan&lt;br /&gt;Referensi : &lt;br /&gt;Acton, Sharon Enis &amp; Fugate, Terry (1993) Pediatric Care Plans, AddisonWesley Co. Philadelphia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-3395352654061874221?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/3395352654061874221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/pneumionia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/3395352654061874221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/3395352654061874221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/pneumionia.html' title='Pneumionia'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-5752399156217808134</id><published>2009-06-22T06:54:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T06:55:52.077-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI'/><title type='text'>LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI</title><content type='html'>LAPORAN PENDAHULUAN&lt;br /&gt;HALUSINASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. MASALAH UTAMA&lt;br /&gt;Halusinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PROSES TERJADINYA MASALAH&lt;br /&gt;A. Masalah Utama&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;a. Halusinasi adalah keadaan dimana seseorang mengalami perubahan dalam jumlah dan pola diri stimulus yang mendekat yang diperkasai secara internal atau eksternal disertai dengan suatu pengurangan berlebihan distarsi/ kelainan berespon terhadap stimulus. (Mary C.T, 1998)&lt;br /&gt;b. Halusinasi adalah gangguan sensori/persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi, suatu pencerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. (Maramis, 1998).&lt;br /&gt;c. Halusinasi adalah suatu penghayatan yang dialami seperti suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksterna, persepsi palsu. (Lubis, 1993).&lt;br /&gt;d. Halusinasi adalah pengindraan tanpa sumber rangsang eksternal.&lt;br /&gt;2. Tanda dan Gejala&lt;br /&gt;a. Merasa tidak mampu (HDR)&lt;br /&gt;b. Putus asa (tidak percaya diri)&lt;br /&gt;c. Merasa gagal (kehilangan motivasi menggunakan ketrampilan diri)&lt;br /&gt;d. Kehilangan kendali diri (demoralisasi)&lt;br /&gt;e. Merasa mempunyai kekuatan berlebihan dengan gejala tersebut&lt;br /&gt;f. Merasa malang (tidak dapat memenuhi kebutuhan spiritual)&lt;br /&gt;g. Bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan&lt;br /&gt;h. Rendahnya kemampuan sosialisasi diri&lt;br /&gt;i. Perilaku agresif&lt;br /&gt;j. Perilaku kekerasan&lt;br /&gt;k. Ketidakadekuatan pengobatan&lt;br /&gt;l. Ketidakadekuatan penanganan gejala&lt;br /&gt;(Sareno, Kumpulan Materi Perkuliahan Perawatan Mental 2001, Magelang)&lt;br /&gt;Jenis-jenis halusinasi&lt;br /&gt;1) Pendengaran&lt;br /&gt;Mendengarkan suara-suara/ kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien bahkan sampai ke percakapan lengkap antara 2 orang atau lebih tentang orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa pasien, disuruh untuk melakukan sesuatu kadang-kadang dapat membahayakan.&lt;br /&gt;2) Penglihatan&lt;br /&gt;Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks, bayangan bisa menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster.&lt;br /&gt;3) Penghirup&lt;br /&gt;Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urine, feses, umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghirup sering akibat stroke, tumor, kejang atau demensta.&lt;br /&gt;4) Pengecapan&lt;br /&gt;Merasa mengecap seperti rasa darah, urine atau feses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Perabaan&lt;br /&gt;Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas, rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati, atau orang lain.&lt;br /&gt;6) Chenestetic&lt;br /&gt;Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan makanan atau pembentukan urine.&lt;br /&gt;7) Kinesthetic&lt;br /&gt;Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Penyebab&lt;br /&gt;Perilaku Menarik Diri&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;Perilaku menarik diri adalah perilaku yang merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain. (Rawhns, 1993) Menarik diri termasuk isolasi diri adalah suatu tindakan melepaskan diri dari alam sekitarnya. Individu tidak ada minat dan perhatian terhadap lingkungan sosial secara langsung. Perilaku menarik diri merupakan reaksi pada masa kritis yang bersifat sementara dan dimanifestasikan dengan perilaku yang bermacam-macam.&lt;br /&gt;2. Tanda dan Gejala&lt;br /&gt;a. Kurang spontan&lt;br /&gt;b. Apatis (acuh terhadap lingkungan)&lt;br /&gt;c. Ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi sedih)&lt;br /&gt;d. Afek tumpul&lt;br /&gt;e. Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri&lt;br /&gt;f. Komunikasi verbal menurun/ tidak ada. Tidak bercakap-cakap dengan orang lain&lt;br /&gt;g. Mengisolasi diri (menyendiri), memisahkan diri dari orang lain&lt;br /&gt;h. Tidak atau kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya&lt;br /&gt;i. Pemasukan makanan dan minuman terganggu&lt;br /&gt;j. Retensi urine dan feses&lt;br /&gt;k. Aktivitas menurun&lt;br /&gt;l. Kurang energi (tenaga)&lt;br /&gt;m. Harga diri rendah&lt;br /&gt;n. Posisi janin pada saat tidur&lt;br /&gt;o. Menolak hubungan dengan orang lain. Klien memutuskan percakapan atau pergi jika diajak bercakap-cakap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Akibat&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan.&lt;br /&gt;Hal ini terjadi karena pasien mengalami kegagalan dalam mencapai tujuan atau hambatan dalam proses pencapaian tujuan dan pasien tidak menemukan alternatif lain sehingga timbul perasaan marah, jengkel yang disertai ketidakmampuan mengontrol diri, sehingga pasien mengungkapkan perasaan lewat perilakunya.&lt;br /&gt;2. Tanda dan Gejala&lt;br /&gt;a. Merusak barang&lt;br /&gt;b. Ada ide untuk bunuh diri&lt;br /&gt;c. Melakukan kekerasan fisik secara aktual/potensial&lt;br /&gt;d. Tingkah laku maniac&lt;br /&gt;e. Menggebrak meja/ tempat tidur&lt;br /&gt;f. Riwayat perilaku menyakiti orang lain&lt;br /&gt;g. Keluhan neurologis agitasi&lt;br /&gt;h. Menyalahgunakan obat/ zat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. A. Pohon Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji&lt;br /&gt;No Diagnosa  Data yang sudah ada Data yang perlu dikaji&lt;br /&gt;1 Halusinasi   &lt;br /&gt; a. Pendengaran  - Melirik mata ke kanan/ ke kiri untuk mencari sumber suara&lt;br /&gt;- Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang sedang berbicara/ benda mati didekatnya&lt;br /&gt;- Terlibat pembicaraan dengan benda mati ayau orang yang tidak nampak&lt;br /&gt;- Menggerakkan mulut seperti mengomel&lt;br /&gt; b. Penglihatan  - Tiba-tiba tampak tergagap, ketakutan karena orang lain, benda mati atau stimulus yang tak terlihat&lt;br /&gt;- Tiba lari ke ruang lain&lt;br /&gt; c. Pengecepan  - Meludahkan makanan atau minuman &lt;br /&gt;- Menolak makanan atau minum obat&lt;br /&gt;- Tiba-tiba meninggalkan meja makan&lt;br /&gt; d. Penghirup  - Mengkerutkan hidung seperti menghirup udara yang tidak enak&lt;br /&gt;- Menghirup bau tubuh&lt;br /&gt;- Menghirup bau udara ketika berjalan kearah orang lain&lt;br /&gt;- Berespon terhadap bau dengan panik&lt;br /&gt; e. Peraba   - Menampar diri sendiri seakan-akan sedang memadamkan api&lt;br /&gt;- Melompat-lompat di lantai seperti menghindari sesuatu yang menyakitkan&lt;br /&gt; f. Sintetik   - Mengverbalisasi terhadap proses tubuh&lt;br /&gt;- Menolak menyelesaikan tugas yang menggunakan bagian tubuh yang diyakini tidak berfungsi&lt;br /&gt;2. Menarik diri  - Kurang spontan&lt;br /&gt;- Apatis (acuh terhadap lingkungan)&lt;br /&gt;- Ekspresi wajah kurang berseri (ekspresi sedih)&lt;br /&gt;- Afek tumpul&lt;br /&gt;- Tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri&lt;br /&gt;- Komunikasi verbal menurun/ tidak ada&lt;br /&gt;- Mengisolasi diri (menyendiri)&lt;br /&gt;- Aktivitas menurun&lt;br /&gt;- Kurang energi&lt;br /&gt;- Menolak berhubungan dengan orang lain&lt;br /&gt;3 Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan   - Merusak barang&lt;br /&gt;- Ada ide untuk membunuh/ bunuh diri&lt;br /&gt;- Melakukan kekerasan fisik aktual/potensial&lt;br /&gt;- Tingkah laku maniac&lt;br /&gt;- Menggebrak meja/ tempat tidur&lt;br /&gt;- Riwayat perilaku mengejar orang lain&lt;br /&gt;- Keluhan neurologis agitasi&lt;br /&gt;- Menyalahgunakan obat/ zat&lt;br /&gt;- Riwayat melakukan kekerasan pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Halusinasi&lt;br /&gt;2. Menarik diri&lt;br /&gt;3. Resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEDOMAN PROSES KEPERAWATAN UNTUK DIAGNOSA KEPERAWATAN HALUSINASI&lt;br /&gt;No No.&lt;br /&gt;Dx Diagnosa Keperawatan  Perencanaan  Intervensi &lt;br /&gt;   Tujuan  Kriteria Evaluasi &lt;br /&gt;  Halusinasi  TUM :&lt;br /&gt;Klien tidak berhalusinasi&lt;br /&gt;TUK 1 :&lt;br /&gt;Klien dapat membina hubungan saling percaya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa, senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, klien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1.1 Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik.&lt;br /&gt;a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal&lt;br /&gt;b. Perkenalkan diri dengan sopan&lt;br /&gt;c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien&lt;br /&gt;d. Jelaskan tujuan pertemuan&lt;br /&gt;e. Jujur dan menepati janji&lt;br /&gt;f. Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya&lt;br /&gt;g. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien&lt;br /&gt;   TUK 2 :&lt;br /&gt;Klien dapat mengenal halusinasi 2.1  Klien dapat menyebutkan waktu, isi, frekuensi timbulnya halusinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2 Klien dapat mengungkapkan perasaan terhadap halusinasi 2.1.1 Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap&lt;br /&gt;2.1.2 Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya : berbicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang ke kiri/ ke kanan/ ke depan seolah-olah ada teman bicara.&lt;br /&gt;2.13 Bantu klien mengenal halusinasinya :&lt;br /&gt;a. Jika menemukan klien yang sedang halusinasi, tanyakan apakah ada suara yang didengar.&lt;br /&gt;b. Jike klien menjawab ada, lanjutkan apa yang dikatakan.&lt;br /&gt;c. Katakan bahwa perawat percaya klien mendengar suara itu, namun perawat sendiri tidak mendengarnya (dengan nada bersahabat tanpa menuduh)&lt;br /&gt;d. Katakan bahwa klien lain juga ada seperti klien&lt;br /&gt;e. Katakan bahwa perawat akan membantu klien.&lt;br /&gt;2.1.4 Diskusikan dengan klien&lt;br /&gt;a.  Situasi yang menimbulkan/ tidak menimbulkan halusinasi.&lt;br /&gt;b. Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore dan malam atau jika sendiri, jengkel/ sedih)&lt;br /&gt;2.2.1 Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi (marah/takut, sedih, senang) beri kesempatan mengungkapkan perasaan.&lt;br /&gt;   TUK 3 :&lt;br /&gt;Klien dapat mengkontrol halusinasinya 3.1 Klien dapat menyebutkan tindakan yang biasaya dilakukan untuk menghindari halusinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2 Klien dapat menyebutkan cara baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3 Klien dapat memilih cara mengatasi halusinasi seperti yang telah didiskusikan.&lt;br /&gt;3.4 Klien dapat melaksanakan cara yang telah dipilih untuk mengendalikan halusinasinya.&lt;br /&gt;3.5 Klien dapat mengikuti terapi aktivitas kelompok 3.1.1  Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur, marah, menyibukkan diri dll)&lt;br /&gt;3.1.2 Diskusikan manfaat dan cara yang digunakan klien, jika bermanfaat beri pujian.&lt;br /&gt;3.2.1 Diskusikan cara baru untuk memutus/ mengontrol timbulnya halusinasi&lt;br /&gt;a. Katakan : “Saya tak mau dengan kamu” (pada saat halusinasi terjadi)&lt;br /&gt;b. Menemui orang lain (perawat/ teman/ anggota keluarga) untuk bercakap-cakap atau mengatakan halusinasi yang didengarnya.&lt;br /&gt;c. Membuat jadwal kegiatan sehari-sehari agar halusinasi tidak sempat muncul&lt;br /&gt;d. Meminta keluarga/ teman/perawat, menyapa jika tampak berbicara sendiri&lt;br /&gt;3.3.1 Bantu klien memilih dan melatih cara memutuskan halusinasi secara bertahap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.1 Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih. Evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.1 Anjurkan klien mengikuti terapi aktivitas kelompok, orientasi realita, stimulasi persepsi&lt;br /&gt;   TUK 4 :&lt;br /&gt;Klien dapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya 4.1 Keluarga dapat membina hubungan saling percaya&lt;br /&gt;4.2 Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dan tindakan untuk mengendalikan halusinasi 4.1.1 Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga jika mengalami halusinasi&lt;br /&gt;4.2.1 Diskusikan dengan keluarga (pada saat keluarga berkunjung/ pada saat kunjungan rumah)&lt;br /&gt;a. Gejala halusinasi yang dialami klien&lt;br /&gt;b. Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi.&lt;br /&gt;c. Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah, beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama.&lt;br /&gt;d. Beri informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan halusinasi tidak terkontrol dan risiko mencederai orang lain.&lt;br /&gt;   TUK 5 :&lt;br /&gt;Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik 5.1 Klien dan keluarga dapat menyebutkan manfaat, dosis, dan efek samping obat&lt;br /&gt;5.2 Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar&lt;br /&gt;5.3 Klien dapat informasi tentang manfaat dan efek samping obat&lt;br /&gt;5.4 Klien memahami akibat berhentinya obat tanpa konsultasi&lt;br /&gt;5.5 Klien dapat menyebutkan prinsip 5 benar penggunaan obat 5.1.1 Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi, dan manfaat obat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.1 Anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3.1 Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat yang dirasakan&lt;br /&gt;5.4.1 Diskusikan akibat berhenti obat-obat tanpa konsultasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.5.1 Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 (lima) benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN (SP)&lt;br /&gt;TINDAKAN KEPERAWATAN I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PROSES KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Kondisi klien&lt;br /&gt;2. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;Halusinasi &lt;br /&gt;3. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;a. Klien dapat membina hubungan saling percaya&lt;br /&gt;b. Klien dapat mengenal halusinasinya&lt;br /&gt;c. Klien dapat mengontrol halusinasinya&lt;br /&gt;4. Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt;a. Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik&lt;br /&gt;b. Diskusikan dengan klien tentang halusinasinya yang dialaminya&lt;br /&gt;c. Identifikasi jenis, waktu, isi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi dan respon klien terhadap halusinasi&lt;br /&gt;d. Diskusikan dengan klien tentang apa yang dirasakan jika halusinasi dan beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan&lt;br /&gt;e. Ajarkan cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik&lt;br /&gt;f. Ajarkan memasukkan cara menghardik halusinasi dalam jadwal rencana kegiatan harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Fase Orientasi&lt;br /&gt;a. Salam terapeutik&lt;br /&gt;“Selamat pagi, perkenalkan nama saya Ita Rahmawati, saya biasa dipanggil Ita. Nama siapa? Biasanya senang dipanggil siapa? Wah bagus sekali namanya. Saya yang akan merawat selama di rumah sakit ini, jika membutuhkan bantuan saya siap membantu”&lt;br /&gt;b. Validasi/ evaluasi&lt;br /&gt;“Bagaimana perasaan saat ini? Apa keluhan saat ini?&lt;br /&gt;c. Kontak (topik,waktu, dan tempat)&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau sekarang kita berbincang-bincang tentang suara-suara yang sering dengar? Berapa lama kita akan berbincang-bincang? Bagaimana kalau 30 menit? Dimana tempat yang menurut cocok untuk berbincang-bincang? Bagaimana kalau di ruangan ini?&lt;br /&gt;2. Fase Kerja&lt;br /&gt;“Coba        ceritakan suara-suara yang sering      dengar?&lt;br /&gt;Apakah       mengenali suara siapa itu?&lt;br /&gt;Apa terus-menerus mendengar suara-suara itu? Kapan saja suara itu terdengar?&lt;br /&gt;Situasi yang bagaimana yang menurut     menjadi pencetus munculnya suara itu? &lt;br /&gt;Berapa kali suara itu terdengar?&lt;br /&gt;Apakah      merasa terganggu dengan suara-suara tersebut?&lt;br /&gt;Apakah yang      lakukan jika suara-suara itu terdengar?&lt;br /&gt;Bagaimana perasaan       ketika suara-suara itu muncul?&lt;br /&gt;Apakah dengan cara seperti itu suara-suara tersebut bisa hilang?&lt;br /&gt;Bagaimana kalau kita belajar cara-cara mencegah suara-suara yang muncul?&lt;br /&gt;Ada 4 cara untuk mencegah suara-suara itu muncul, yang pertama dengan menghardik suara-suara yang muncul misal Anda tutup telinga atau tanamkan kata-kata dalam hati sambil mengungkapkan “pergi-pergi, saya tidak mau dengar kamu!” yang ke-2 dengan melakukan percakapan dengan orang lain. Ke-3 dengan melakukan kegiatan yang sudah terjadwal. Dan yang ke-4 dengan minum obat teratur” seperti yang tadi saya contohkan sampai suara-suara itu hilang ya!&lt;br /&gt;Coba      peragakan tapi ingat di dalam hati saja ya!&lt;br /&gt;Nah, begitu         bagus! Coba lagi! Ya bagus      sudah bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Fase Terminasi&lt;br /&gt;a. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan&lt;br /&gt;“Bagaimana perasaan       setelah memperagakan latihan tadi?&lt;br /&gt;Kalau suara-suara tidak berwujud itu muncul lagi coba cara-cara tadi dilatih.&lt;br /&gt;Oh ya ya! Masih ingat 4 cara mengontrol halusinasi tadi apa saja? Wah bagus sekali masih ingat.”&lt;br /&gt;b. Rencana tindakan lanjut&lt;br /&gt;“       besok kita latihan lagi untuk cara yang ke-2 ya! Dengan cara melakukan percakapan dengan orang lain dan cara-cara yang lain.”&lt;br /&gt;c. Kontrak yang akan datang (topik, waktu dan tempat)&lt;br /&gt;“Baiklah      pertemuan hari ini cukup sekian dulu. Besok kita ketemu lagi ya untuk berlatih mengendalikan suara-suara dengan bercakap-calap.&lt;br /&gt;Maunya mau dimana? Bagaimana kalau ditempat ini lagi, besok jam sama seperti ini jam 10.00 WIB.&lt;br /&gt;Jangan lupa ya…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN (SP)&lt;br /&gt;TINDAKAN KEPERAWATAN II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PROSES KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Kondisi klien&lt;br /&gt;2. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;Halusinasi &lt;br /&gt;3. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;a. Klien dapat mengontrol halusinasinya&lt;br /&gt;4. Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt;a. Evaluasi cara menghardik halusinasi&lt;br /&gt;b. Latih dan mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain&lt;br /&gt;c. Kontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan-kegiatan dalam rencana harian&lt;br /&gt;d. Ajarkan kegiatan bercakap-cakap dimasukkan dalam rencana harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Fase Orientasi&lt;br /&gt;a. Salam terapeutik&lt;br /&gt;“Selamat pagi,         !” masih ingat dengan saya? Bagaimana kabarnya? Masih ingat tho, saya Ita yang kemarin.&lt;br /&gt;b. Validasi/ evaluasi&lt;br /&gt;“Apa yang          rasakan hari ini? Wah tampak senang sekali, ya?&lt;br /&gt;c. Kontak (topik,waktu, dan tempat)&lt;br /&gt;“Seperti janji saya kemarin, bahwa hari ini kita akan berlatih mengontrol halusinasi dengan berbincang-bincang dengan orang lain dan melakukan kegiatan seperti yang direncanakan per hari. Masih ingat kan? Nanti kita akan berbincang-bincang selama 30 menit ya? Bagaimana kalau kita bercakap-cakap di ruangan ini lagi?&lt;br /&gt;2. Fase Kerja&lt;br /&gt;“Kemarin     sudah bisa menghardik halusinasi kan? Sekarang cara yang ke-2 untuk mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Jadi kalau         mulai mendengar suara-suara langsung saja cari teman untuk mengobrol dengan teman atau ajak perawat.&lt;br /&gt;Contoh :  “Tolong, saya sekarang mulai mendengar suara-suara itu!&lt;br /&gt;  Ayo ngobrol dengan saya!&lt;br /&gt;Coba sekarang         lakukan seperti saya tadi! Bagus, nah latihan terus ya dan diingat terus.&lt;br /&gt;3. Fase Terminasi&lt;br /&gt;a. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan&lt;br /&gt;Evaluasi subjektif : Bagaimana perasaan         setelah berbincang-bincang dengan saya?&lt;br /&gt;Evaluasi objektif : Sekarang coba sebutkan 4 cara mengontrol halusinasi!&lt;br /&gt;  Bagus sekali, jangan lupa dilakukan ya!&lt;br /&gt;b. Rencana tindakan lanjut&lt;br /&gt;“Jadi jangan lupa melakukannya dan kita masukkan dalam kegiatan harian        !&lt;br /&gt;c. Kontrak yang akan datang (topik, waktu dan tempat)&lt;br /&gt;“Saya rasa pertemuan kita cukup sekian dulu, kita bertemu lagi untuk berbincang-bincang tentang cara ke-3 dengan membuat jadwal rencana harian. Tempatnya di sini lagi. Bagaimana kalau besok jam 10.00 WIB selama 15 menit. Bagaimana setuju kan? Silahkan kalau mau istirahat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN (SP)&lt;br /&gt;TINDAKAN KEPERAWATAN III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PROSES KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Kondisi klien&lt;br /&gt;2. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;Halusinasi &lt;br /&gt;3. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;a. Klien dapat mengontrol halusinasinya&lt;br /&gt;4. Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt;a. Kondisi latihan menghardik dengan bercakap-cakap&lt;br /&gt;b. Ajarkan kegiatan yang terjadwal&lt;br /&gt;c. Memasukkan kegiatan dalam jadwal rencana harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Fase Orientasi&lt;br /&gt;a. Salam terapeutik&lt;br /&gt;“Selamat pagi         ! Mari kita mengobrol-ngobrol lagi! Bagaimana kabarnya?”&lt;br /&gt;b. Validasi/ evaluasi&lt;br /&gt;“Apa yang      rasakan hari ini? Sudah ngobrol dengan siapa saja, pasti sudah kenal dengan perawat-perawat sini ya? Coba sebutkan namanya sedikit saja!” bagus sekali!&lt;br /&gt;c. Kontak (topik,waktu, dan tempat)&lt;br /&gt;“Seperti janji kita kemarin hari ini kita akan membuat jadwal rencana kegiatan untuk mengontrol halusinasi. Bagaimana kalau di ruang ini lagi ya! Kita akan ngobrol selama 15 menit saja. Bagaimana? Baiklah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Fase Kerja&lt;br /&gt;“Apa saja yang biasa     lakukan di rumah? Pagi hari apa kegiatan yang lakukan? Jam berapa biasanya (terus apa saja kegiatannya sampai malam) wah banyak sekali kegiatannya. Mari coba hari ini kita latihan 2 kegiatan hari ini, misalkan perbed dan menyapu lantai.&lt;br /&gt;Bagus sekali      bisa lakukan. Kegiatan ini dapat menghalau suara-suara waktu Anda mendengarkan.&lt;br /&gt;Kegiatan apalagi yang      bisa lakukan dari pagi sampai malam coba Anda lakukan!&lt;br /&gt;3. Fase Terminasi&lt;br /&gt;a. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan&lt;br /&gt;Evaluasi subjektif : Bagaimana perasaan         setelah bercakap-cakap tentang melakukan kegiatan sesuai rencana harian?&lt;br /&gt;Evaluasi objektif : Coba sebutkan cara yang telah kita lakukan! Bagus sekali&lt;br /&gt;b. Rencana tindakan lanjut&lt;br /&gt;“Coba lakukan sesuai jadwal     !” bisa berlatih aktivitas lain pada pertemuan berikut sampai terpenuhi seluruh aktivitas dari pagi sampai malam.&lt;br /&gt;c. Kontrak yang akan datang (topik, waktu dan tempat)&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau besok kita latihan cara yang ke-4 dengan membahas tentang cara minum obat yang baik serta guna obat. Masih ingatkan cara yang terakhir ini? Besok disini lagi dijam yang sama. Bagaimana? Tidak boleh telat ya! Silakan kalau     punya kegiatan dilanjutkan saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STRATEGI PELAKSANAAN (SP)&lt;br /&gt;TINDAKAN KEPERAWATAN IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PROSES KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Kondisi klien&lt;br /&gt;2. Diagnosa Keperawatan&lt;br /&gt;Halusinasi &lt;br /&gt;3. Tujuan Khusus&lt;br /&gt;a. Klien dapat mengontrol halusinasinya&lt;br /&gt;b. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik&lt;br /&gt;4. Tindakan Keperawatan&lt;br /&gt;a. Mendiskusikan dengan klien tentang dosis obat, tentang manfaat dan frekuensinya.&lt;br /&gt;b. Menganjurkan klien berbicara dengan dokter tentang manfaat dan frekuensinya&lt;br /&gt;c. Menganjurkan klien berbicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping obat&lt;br /&gt;d. Diskusikan akibat berhenti minum obat&lt;br /&gt;e. Mendiskusikan 5 benar dalam pemberian obat&lt;br /&gt;f. Kontrol halusinasi dengan pemberian obat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. STRATEGI KOMUNIKASI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Fase Orientasi&lt;br /&gt;a. Salam terapeutik&lt;br /&gt;“Selamat pagi         !”&lt;br /&gt;b. Validasi/ evaluasi&lt;br /&gt;“Baik-baik saja kan! Wah  tampak segar  hari ini. Bagaimana  perasaan,    !&lt;br /&gt;Bagaimana waktu halusinasi itu muncul, apakah        mencoba cara-cara yang sudah kita bicarakan kemarin? Berhasil tidak?    Berhasi! Bagus sekali.&lt;br /&gt;c. Kontak (topik,waktu, dan tempat)&lt;br /&gt;“Seperti janji kita kemarin hari ini saya akan menjelaskan tentang obat-obatan yang      minum yang bisa mengatasi suara-suara yang mengganggu. Dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau disini saja ya? Cukup 15 menit cukup!&lt;br /&gt;2. Fase Kerja&lt;br /&gt;“Ini jenis obat-obatan yang    minum! Sebutkan warna, nama, fungsi, dosis, cara dan waktunya.&lt;br /&gt;Adakah bedanya setelah minum obat sudah teratur? Apakah suara itu berkurang/ hilang? Minum obat itu sangat penting, supaya suara-suara itu cepat hilang. Kalau suara-suara dan apa yang Anda dengar hilang, tidak boleh dihentikan obatnya. Nanti konsultasikan dengan dokter sebab kalau putus obat bisa kambuh lagi dan sulit mengembalikan ke keadaan semula.&lt;br /&gt;Kalau obat habis minta lagi ke dokter,     perlu teliti saat makan obat yang jangan ambil milik orang lain, baca kemasan, tepat jam minum dengan cara yang benar yaitu setelah makan jangan lupa harus benar obat dan dosisnya harus 5 benar.&lt;br /&gt;3. Fase Terminasi&lt;br /&gt;a. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan&lt;br /&gt;Evaluasi subjektif : Bagaimana perasaan         setelah kita bercakap-cakap tentang obat?&lt;br /&gt;Evaluasi objektif : Coba sebutkan cara yang telah kita pelajari! Sarat benar dalam pemberian obat! Wah bagus sekali jangan lupa minum obat, ya!&lt;br /&gt;b. Rencana tindakan lanjut&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita masukkan jadwal kegiatan harian   ya?&lt;br /&gt;c. Kontrak yang akan datang (topik, waktu dan tempat)&lt;br /&gt;“Besok kita ketemu lagi ya    , kita akan bahas masalah dengan keluarga. Kita ketemu lagi besok di sini, di jam yang sama ya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-5752399156217808134?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/5752399156217808134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/laporan-pendahuluan-halusinasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/5752399156217808134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/5752399156217808134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/laporan-pendahuluan-halusinasi.html' title='LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-7894495758450406551</id><published>2009-06-22T06:52:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T06:53:52.479-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='askep HERNIA NUKLEUS PULPOSUS'/><title type='text'>HERNIA NUKLEUS PULPOSUS</title><content type='html'>HERNIA NUKLEUS PULPOSUS&lt;br /&gt;Pengertian&lt;br /&gt;Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus. HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner &amp; Suddarth, 2002)&lt;br /&gt;Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau bawahnya, bisa juga langsung ke kanalis vertebralis. (Priguna Sidharta, 1990)&lt;br /&gt;Patofisiologi&lt;br /&gt;Protrusi atau ruptur nukleus pulposus biasanya didahului dengan perubahan degeneratif yang terjadi pada proses penuaan. Kehilangan protein polisakarida dalam diskus menurunkan kandungan air nukleus pulposus. Perkembangan pecahan yang menyebar di anulus melemahkan pertahanan pada herniasi nukleus. Setela trauma *jatuh, kecelakaan, dan stress minor berulang seperti mengangkat) kartilago dapat cedera.&lt;br /&gt;Pada kebanyakan pasien, gejala trauma segera bersifat khas dan singkat, dan gejala ini disebabkan oleh cedera pada diskus yang tidak terlihat selama beberapa bulan maupun tahun. Kemudian pada degenerasi pada diskus, kapsulnya mendorong ke arah medula spinalis atau mungkin ruptur dan memungkinkan nukleus pulposus terdorong terhadap sakus dural atau terhadap saraf spinal saat muncul dari kolumna spinal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hernia nukleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nukleus pulposus menekan pada radiks yang bersama-sama dengan arteria radikularis berada dalam bungkusan dura. Hal ini terjadi kalau tempat herniasi di sisi lateral. Bilamana tempat herniasinya ditengah-tengah tidak ada radiks yang terkena. Lagipula,oleh karena pada tingkat L2 dan terus kebawah sudah tidak terdapat medula spinalis lagi, maka herniasi di garis tengah tidak akan menimbulkan kompresi pada kolumna anterior.&lt;br /&gt;Setelah terjadi hernia nukleus pulposus sisa duktus intervertebralis mengalami lisis sehingga dua korpora vertebra bertumpang tindih tanpa ganjalan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Manifestasi Klinis&lt;br /&gt;Nyeri dapat terjadi pada bagian spinal manapun seperti servikal, torakal (jarang) atau lumbal. Manifestasi klinis bergantung pada lokasi, kecepatan perkembangan (akut atau kronik) dan pengaruh pada struktur disekitarnya. Nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh).&lt;br /&gt;Pemeriksaan Diagnostik&lt;br /&gt;1. RO Spinal : Memperlihatkan perubahan degeneratif pada tulang belakang&lt;br /&gt;2. M R I : untuk melokalisasi protrusi diskus kecil sekalipun terutama untuk penyakit spinal lumbal.&lt;br /&gt;3. CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan patologiknya tidak terlihat pada M R I&lt;br /&gt;4. Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang terkena.&lt;br /&gt;Penatalaksanaan &lt;br /&gt;1. Pembedahan&lt;br /&gt;Tujuan : Mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan mengubah defisit neurologik.&lt;br /&gt;Macam :&lt;br /&gt;a. Disektomi : Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus intervertebral&lt;br /&gt;b. Laminektomi : Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada kanalis spinalis, memungkinkan ahli bedah untuk menginspeksi kanalis spinalis, mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medula dan radiks&lt;br /&gt;c. Laminotomi : Pembagian lamina vertebra.&lt;br /&gt;d. Disektomi dengan peleburan.&lt;br /&gt;2. Immobilisasi&lt;br /&gt;Immobilisasi dengan mengeluarkan kolor servikal, traksi, atau brace.&lt;br /&gt;3. Traksi&lt;br /&gt;Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada katrol dan beban.&lt;br /&gt;4. Meredakan Nyeri&lt;br /&gt;Kompres lembab panas, analgesik, sedatif, relaksan otot, obat anti inflamasi dan jika perlu kortikosteroid.&lt;br /&gt;Pengkajian&lt;br /&gt;1. Anamnesa&lt;br /&gt;Keluhan utama, riwayat perawatan sekarang, Riwayat kesehatan dahulu, Riwayat kesehatan keluarga&lt;br /&gt;2. Pemeriksaan Fisik&lt;br /&gt;Pengkajian terhadap masalah pasien terdiri dari awitan, lokasi dan penyebaran nyeri, parestesia, keterbatasan gerak dan keterbatasan fungsi leher, bahu dan ekstremitas atas. Pengkajian pada daerah spinal servikal meliputi palpasi yang bertujuan untuk mengkaji tonus otot dan kekakuannya.&lt;br /&gt;3. Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagnosa Keperawatan yang Muncul&lt;br /&gt;1. Nyeri b.d Kompresi saraf, spasme otot&lt;br /&gt;2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus&lt;br /&gt;3. Ansietas b.d tidak efektifnya koping individual&lt;br /&gt;4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis dan tindakan pengobatan.&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;1. Nyeri b.d kompresi saraf, spasme otot&lt;br /&gt;a. Kaji keluhan nyeri, lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus / yang memperberat. Tetapkan skala 0 – 10&lt;br /&gt;b. Pertahankan tirah baring, posisi semi fowler dengan tulang spinal, pinggang dan lutut dalam keadaan fleksi, posisi telentang&lt;br /&gt;c. Gunakan logroll (papan) selama melakukan perubahan posisi&lt;br /&gt;d. Bantu pemasangan brace / korset&lt;br /&gt;e. Batasi aktifitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan&lt;br /&gt;f. Ajarkan teknik relaksasi&lt;br /&gt;g. Kolaborasi : analgetik, traksi, fisioterapi&lt;br /&gt;2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus&lt;br /&gt;a. Berikan / bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif&lt;br /&gt;b. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif&lt;br /&gt;c. Berikan perawatan kulit dengan baik, masase titik yang tertekan setelah rehap perubahan posisi. Periksa keadaan kulit dibawah brace dengan periode waktu tertentu.&lt;br /&gt;d. Catat respon emosi / perilaku pada immobilisasi&lt;br /&gt;e. Demonstrasikan penggunaan alat penolong seperti tongkat.&lt;br /&gt;f. Kolaborasi : analgetik&lt;br /&gt;3. Ansietas b.d tidak efektifnya koping individual&lt;br /&gt;a. Kaji tingkat ansietas pasien&lt;br /&gt;b. Berikan informasi yang akurat&lt;br /&gt;c. Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalah seperti kemungkinan paralisis, pengaruh terhadap fungsi seksual, perubahan peran dan tanggung jawab.&lt;br /&gt;d. Kaji adanya masalah sekunder yang mungkin merintangi keinginan untuk sembuh dan mungkin menghalangi proses penyembuhannya.&lt;br /&gt;e. Libatkan keluarga&lt;br /&gt;4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis&lt;br /&gt;a. Jelaskan kembali proses penyakit dan prognosis dan pembatasan kegiatan&lt;br /&gt;b. Berikan informasi mengenai mekanika tubuh sendiri untuk berdiri, mengangkat dan menggunakan sepatu penyokong&lt;br /&gt;c. Diskusikan mengenai pengobatan dan efek sampingnya.&lt;br /&gt;d. Anjurkan untuk menggunakan papan / matras yang kuat, bantal kecil yang agak datar dibawah leher, tidur miring dengan lutut difleksikan, hindari posisi telungkup.&lt;br /&gt;e. Hindari pemakaian pemanas dalam waktu yang lama&lt;br /&gt;f. Berikan informasi mengenai tanda-tanda yang perlu diperhatikan seperti nyeri tusuk, kehilangan sensasi / kemampuan untuk berjalan.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Smeltzer, Suzane C, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &amp; Suddarth edisi 8 Vol 3, Jakarta : EGC, 2002&lt;br /&gt;2. Doengoes, ME, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 2, Jakarta : EGC, 2000.&lt;br /&gt;3. Tucker,Susan Martin,Standar Perawatan Pasien edisi 5, Jakarta : EGC, 1998.&lt;br /&gt;4. Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah, Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, 1996.&lt;br /&gt;5. Priguna Sidharta, Sakit Neuromuskuloskeletal dalam Praktek, Jakarta : Dian Rakyat, 1996.&lt;br /&gt;6. Chusid, IG, Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional, Yogyakarta : Gajahmada University Press, 1993&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-7894495758450406551?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/7894495758450406551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/hernia-nukleus-pulposus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/7894495758450406551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/7894495758450406551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/hernia-nukleus-pulposus.html' title='HERNIA NUKLEUS PULPOSUS'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-7939678149031164244</id><published>2009-06-22T06:51:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T06:52:38.069-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='askep ERITRODERMA'/><title type='text'>ERITRODERMA</title><content type='html'>ERITRODERMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. DEFINISI&lt;br /&gt;• Eritroderma ( dermatitis eksfoliativa ) adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema seluruh / hampir seluruh tubuh , biasanya disertai skuama ( Arief Mansjoer , 2000 : 121 ).&lt;br /&gt;• Eritroderma merupakan inflamasi kulit yang berupa eritema yang terdapat hampir atau di seluruh tubuh ( www. medicastore . com ).&lt;br /&gt;• Dermatitis eksfoliata generalisata adalah suatu kelainan peradangan yang ditandai dengan eritema dan skuam yang hampir mengenai seluruh tubuh ( Marwali Harahap , 2000 : 28 )&lt;br /&gt;• Dermatitis eksfoliata merupakan keadaan serius yang ditandai oleh inflamasi yang progesif dimana eritema dan pembentukan skuam terjadi dengan distribusi yang kurang lebih menyeluruh ( Brunner &amp; Suddarth vol 3 , 2002 : 1878 ).&lt;br /&gt;B. ETIOLOGI&lt;br /&gt;Berdasarkan penyebabnya , penyakit ini dapat dibagikan dalam 2 kelompok :&lt;br /&gt;1. Eritrodarma eksfoliativa primer&lt;br /&gt;Penyebabnya tidak diketahui. Termasuk dalam golongan ini eritroderma iksioformis konginetalis dan eritroderma eksfoliativa neonatorum(5–0 % ).&lt;br /&gt;2. Eritroderma eksfoliativa sekunder&lt;br /&gt;a. Akibat penggunaan obat secara sistemik yaitu penicillin dan derivatnya , sulfonamide , analgetik / antipiretik dan ttetrasiklin.&lt;br /&gt;b. Meluasnya dermatosis ke seluruh tubuh , dapat terjadi pada liken planus , psoriasis , pitiriasis rubra pilaris , pemflagus foliaseus , dermatitis seboroik dan dermatitis atopik.&lt;br /&gt;c. Penyakit sistemik seperti Limfoblastoma.&lt;br /&gt;( Arief Mansjoer , 2000 : 121 : Rusepno Hasan 2005 : 239 ) &lt;br /&gt;C. ANATOMI&lt;br /&gt;Kulit mepunyai tiga lapisan utama : Epidermis , Dermis dan Jaringan sub kutis. Epidermis ( lapisan luar ) tersusun dari beberapa lapisan tipis yang mengalami tahap diferensiasi pematangan.&lt;br /&gt;Kulit ini melapisi dan melindungi organ di bawahnya terhadap kehilangan air , cedera mekanik atau kimia dan mencegah masuknya mikroorganisme penyebab penyakit. Lapisan paling dalam epidermis membentuk sel – sel baru yang bermigrasi kearah permukaan luar kulit. Epidermis terdalam juga menutup luka dan mengembalikan integritas kulit sel – sel khusus yang disebut melanosit dapat ditemukan dalam epidermis. Mereka memproduksi melanin , pigmen gelap kulit. Orang berkulit lebih gelap mempunyai lebih banyak melanosit aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epidermis terdiri dari 5 lapisan yaitu :&lt;br /&gt;a. Stratum Korneum&lt;br /&gt;Selnya sudah mati , tidak mempunyai intisel , intiselnya sudah mati dan mengandung zat keratin.&lt;br /&gt;b. Stratum lusidum&lt;br /&gt;Selnya pipih , bedanya dengan stratum granulosum ialah sel – sel sudah banyak yang kehilangan inti dan butir – butir sel telah menjadi jernih sekali dan tembus sinar.&lt;br /&gt;Lapisan ini hanya terdapat pada telapak tangan dan telapak kaki.&lt;br /&gt;c. Stratum Granulosum&lt;br /&gt;Stratum ini terdiri dari sel – sel pipih. Dalam sitoplasma terdapat butir–butir yang disebut keratohialin yang merupakan fase dalam pembentukan keratin.&lt;br /&gt;d. Stratum Spinosum / Stratum Akantosum&lt;br /&gt;Lapisan yang paling tebal.&lt;br /&gt;e. Stratum Basal / Germinativum&lt;br /&gt;Stratum germinativum menggantikan sel – sel yang diatasnya dan merupakan sel – sel induk.&lt;br /&gt;Dermis terdiri dari 2 lapisan : &lt;br /&gt;a. Bagian atas , papilaris ( stratum papilaris )&lt;br /&gt;b. Bagian bawah , retikularis ( stratum retikularis )&lt;br /&gt;Kedua jaringan tersebut terdiri dari jaringan ikat lonngar yang tersusun dari serabut – serabut kolagen , serabut elastis dan serabut retikulus&lt;br /&gt;Serabut kolagen untuk memberikan kekuatan pada kulit. Serabut elastis memberikan kelenturan pada kulit.&lt;br /&gt;Retikulus terdapat terutama di sekitar kelenjar dan folikel rambut dan memberikan kekuatan pada alat tersebut.&lt;br /&gt;Subkutis&lt;br /&gt;Terdiri dari kumpulan – kumpulan sel – sel lemak dan diantara gerombolan ini berjalan serabut – serabut jaringan ikat dermis.&lt;br /&gt;Fungsi kulit :&lt;br /&gt;- Proteksi - Pengatur suhu&lt;br /&gt;- Absorbsi - Pembentukan pigmen &lt;br /&gt;- Eksresi - Keratinisasi &lt;br /&gt;- Sensasi - Pembentukan vit D&lt;br /&gt;( Syaifuddin , 1997 : 141 – 142 )&lt;br /&gt;D. PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Pada dermatitis eksfoliatif terjadi pelepasan stratum korneum ( lapisan kulit yang paling luar ) yang mencolok yang menyebabkan kebocoran kapiler , hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negatif . Karena dilatasi pembuluh darah kulit yang luas , sejumlah besar panas akan hilang jadi dermatitis eksfoliatifa memberikan efek yang nyata pada keseluruh tubuh.&lt;br /&gt;Pada eritroderma terjadi eritema dan skuama ( pelepasan lapisan tanduk dari permukaan kult sel – sel dalam lapisan basal kulit membagi diri terlalu cepat dan sel – sel yang baru terbentuk bergerak lebih cepat ke permukaan kulit sehingga tampak sebagai sisik / plak jaringan epidermis yang profus.&lt;br /&gt;Mekanisme terjadinya alergi obat seperti terjadi secara non imunologik dan imunologik ( alergik ) , tetapi sebagian besar merupakan reaksi imunologik. Pada mekanismee imunologik, alergi obat terjadi pada pemberian obat kepada pasien yang sudah tersensitasi dengan obat tersebut. Obat dengan berat molekul yang rendah awalnya berperan sebagai antigen yang tidak lengkap ( hapten ). Obat / metaboliknya yang berupa hapten ini harus berkojugasi dahulu dengan protein misalnya jaringan , serum / protein dari membran sel untuk membentuk antigen obat dengan berat molekul yang tinggi dapat berfungsi langsung sebagai antigen lengkap.&lt;br /&gt;( Brunner &amp; Suddarth vol 3 , 2002 : 1878 )&lt;br /&gt;E. PATHWAY &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. MANIFESTASSI KLINIS &lt;br /&gt;• Eritroderma akibat alergi obat , biasanya secara sistemik. Biasanya timbul secara akut dalam waktu 10 hari. Lesi awal berupa eritema menyeluruh , sedangkan skuama baru muncul saat penyembuhan. &lt;br /&gt;• Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit yang tersering addalah psoriasis dan dermatitis seboroik pada bayi ( Penyakit Leiner ).&lt;br /&gt;– Eritroderma karena psoriasis &lt;br /&gt;Ditemukan eritema yang tidak merata. Pada tempat predileksi psoriasis dapat ditemukan kelainan yang lebih eritematosa dan agak meninngi daripada sekitarnya dengan skuama yang lebih kebal. Dapat ditemukan pitting nail.&lt;br /&gt;– Penyakit leiner ( eritroderma deskuamativum )&lt;br /&gt;Usia pasien antara 4 -20 minggu keadaan umum baik biasanya tanpa keluhan. Kelainan kulit berupa eritama seluruh tubuh disertai skuama kasar.&lt;br /&gt;– Eritroderma akibat penyakit sistemik , termasuk keganasan. Dapat ditemukan adanya penyakit pada alat dalam , infeksi dalam dan infeksi fokal. ( Arif Masjoor , 2000 : 121 )&lt;br /&gt;G. KOMPLIKASI&lt;br /&gt;Komplikasi eritroderma eksfoliativa sekunder :&lt;br /&gt;- Abses - Limfadenopati&lt;br /&gt;- Furunkulosis - Hepatomegali&lt;br /&gt;- Konjungtivitis - Rinitis&lt;br /&gt;- Stomatitis - Kolitis&lt;br /&gt;- Bronkitis&lt;br /&gt;( Ruseppo Hasan , 2005 : 239 : Marwali Harhap , 2000 , 28 )&lt;br /&gt;H. PENGKAJIAN FOKUS&lt;br /&gt;Pengkajian keperawatan yang berkelanjutan dilaksanakan untuk mendeteksi infeksi. Kulit yang mengalami disrupsi , eritamatosus serta basah amat rentan terhadap infeksi dan dapat menjadi tempat kolonisasi mikroorganisme pathogen yang akan memperberat inflamasi antibiotik , yang diresepkan dokter jika terdapat infeksi , dipilih berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas.&lt;br /&gt;I. BIODATA &lt;br /&gt;a. Jenis Kelamin&lt;br /&gt;Biasnya laki – lak 2 -3 kali lebih banyak dari perempuan. &lt;br /&gt;b. Riwayat Kesehatan &lt;br /&gt;– Riwayat penyakit dahulu ( RPM )&lt;br /&gt;Meluasnya dermatosis keseluruh tubuh dapat terjadi pada klien planus , psoriasis , pitiasis rubra pilaris , pemfigus foliaseus , dermatitis. Seboroik dan dermatosiss atopik , limfoblastoma.&lt;br /&gt;– Riwayat Penyakit Sekarang&lt;br /&gt;Mengigil panas , lemah , toksisitas berat dan pembentukan skuama kulit.&lt;br /&gt;c. Pola Fungsi Gordon &lt;br /&gt;1. Pola Nutrisi dan metabolisme &lt;br /&gt;Terjadinya kebocoran kapiler , hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negative mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh pasien ( dehidrasi ).&lt;br /&gt;2. Pola persepsi dan konsep diri&lt;br /&gt;– Konsep diri&lt;br /&gt;Adanya eritema ,pengelupasan kulit , sisik halus berupa kepingan / lembaran zat tanduk yang besr – besar seperti keras selafon , pembentukan skuama sehingga mengganggu harga diri.&lt;br /&gt;3. Pemeriksaan fisik&lt;br /&gt;a. KU : lemah&lt;br /&gt;b. TTV : suhu naik atau turun.&lt;br /&gt;c. Kepala &lt;br /&gt;Bila kulit kepala sudah terkena dapat terjadi alopesia.&lt;br /&gt;d. Mulut&lt;br /&gt;Dapat juga mengenai membrane mukosa terutama yang disebabkan oleh obat. &lt;br /&gt;e. Abdomen &lt;br /&gt;Adanya limfadenopati dan hepatomegali.&lt;br /&gt;f. Ekstremitas &lt;br /&gt;Perubahan kuku dan kuku dapat lepas.&lt;br /&gt;g. Kulit&lt;br /&gt;Kulit periorbital mengalami inflamasi dan edema sehingga terjadi ekstropion pada keadaan kronis dapat terjadi gangguan pigmentasi. Adanya eritema , pengelupasan kulit , sisik halus dan skuama.&lt;br /&gt;( Marwali Harahap , 2000 : 28 – 29 : Rusepno Hasan , 2005 : 239 , Brunner &amp; Suddarth , 2002 : 1878 ).&lt;br /&gt;DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN FOKUS INTERVENSI&lt;br /&gt;1. Gangguan integritas kulit bd lesi dan respon peradangan &lt;br /&gt;Kriteria hasil : - menunjukkan peningkatan integritas kulit&lt;br /&gt;- menghindari cidera kulit&lt;br /&gt;Intervensi&lt;br /&gt;a. kaji keadaaan kulit secara umum&lt;br /&gt;b. anjurkan pasien untuk tidak mencubit atau menggaruk daerah kulit&lt;br /&gt;c. pertahankan kelembaban kulit&lt;br /&gt;d. kurangi pembentukan sisik dengan pemberian bath oil&lt;br /&gt;e. motivasi pasien untuk memakan nutrisi TKTP&lt;br /&gt;2. Gangguan rasa nyaman : gatal bd adanya bakteri / virus di kulit&lt;br /&gt;Tujuan : setelah dilakuakn asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi luka pada kulit karena gatal&lt;br /&gt;Kriteria hasil : - tidak terjadi lecet di kulit&lt;br /&gt;- pasien berkurang gatalnya&lt;br /&gt;Intervensi &lt;br /&gt;a. beritahu pasien untuk tidak meggaruk saat gatal &lt;br /&gt;b. mandikan seluruh badan pasien ddengan Nacl &lt;br /&gt;c. oleskan badan pasien dengan minyak dan salep setelah pakai Nacl&lt;br /&gt;d. jaga kebersihan kulit pasien&lt;br /&gt;e. kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat pengurang rasa gatal&lt;br /&gt;3. Resti infeksi bd hipoproteinemia &lt;br /&gt;Tujuan : setalah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi infeksi&lt;br /&gt;Kriteria hasil : - tidak ada tanda – tanda infeksi&lt;br /&gt;( rubor , kalor , dolor , fungsio laesa )&lt;br /&gt;- tidak timbul luka baru&lt;br /&gt;Intervensi &lt;br /&gt;a. monitor TTV&lt;br /&gt;b. kaji tanda – tanda infeksi &lt;br /&gt;c. motivasi pasien untuk meningkatkan nutrisi TKTP&lt;br /&gt;d. jaga kebersihan luka&lt;br /&gt;e. kolaborasi pemberian antibiotik&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;- Brunner 7 Suddarth vol 3 , 2002. KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH, Jakarta : EGG&lt;br /&gt;- Doenges M E. 1999. Rencana asuhan Keperawatan untuk perencanaan dan dokumentasi perawatan pasien edisi 3 , Jakarta : EGC&lt;br /&gt;- Harahap Marwali 2000 , Ilmu Penyakit Kulit , Jakarta : Hipokrates&lt;br /&gt;- Hasan Rusepno 2005 , Ilmu Keperawatan Anak , Jakarta : FKUI&lt;br /&gt;- Mansjoer , Arief , 2000 , Kapita Selekta Kedokteran , Jakarta : EGC&lt;br /&gt;- Syaifudin , 1997 , anatomi Fisiologi , Jakarta : EGC&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-7939678149031164244?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/7939678149031164244/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/eritroderma.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/7939678149031164244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/7939678149031164244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/eritroderma.html' title='ERITRODERMA'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-1681605900701396867</id><published>2009-06-22T06:49:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T06:50:52.963-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='askep DIARE'/><title type='text'>DIARE</title><content type='html'>DIARE&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;•  Pengertian &lt;br /&gt;Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja. &lt;br /&gt;Sedangkan menurut C.L Betz &amp; L.A Sowden (1996) diare merupakan suatu keadaan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus. &lt;br /&gt;Menurut Suradi &amp; Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair. &lt;br /&gt;Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau usus. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;•  Penyebab &lt;br /&gt;Menurut Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil (1998), ditinjau dari sudut patofisiologi, penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu: &lt;br /&gt;•  Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh: &lt;br /&gt;•  Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella, salmonela, E. Coli, golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings, stapylococus aureus, comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan (misalnya keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam), gangguan psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi dan sebagainya. &lt;br /&gt;•  Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida. &lt;br /&gt;1. Diare osmotik (osmotik diarrhoea) disebabkan oleh: &lt;br /&gt;•  malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan mineral. &lt;br /&gt;•  Kurang kalori protein. &lt;br /&gt;•  Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;•  Patofisiologi &lt;br /&gt;Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik, akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare. &lt;br /&gt;Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus. &lt;br /&gt;Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. &lt;br /&gt;Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare. &lt;br /&gt;Sedangkan akibat dari diare akan terjadi beberapa hal sebagai berikut: &lt;br /&gt;1. Kehilangan air (dehidrasi) &lt;br /&gt;Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan (input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare. Gangguan keseimbangan asam basa (metabik asidosis) &lt;br /&gt;Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh, terjadinya penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler. &lt;br /&gt;2. Hipoglikemia &lt;br /&gt;Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering pada anak yang sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena adanya gangguan penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi glukosa.Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada anak-anak. Gangguan gizi &lt;br /&gt;3. Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan oleh: &lt;br /&gt;•  Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang bertambah hebat. &lt;br /&gt;•  Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini diberikan terlalu lama. &lt;br /&gt;•  Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik. &lt;br /&gt;4. Gangguan sirkulasi &lt;br /&gt;Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi klien akan meninggal. &lt;br /&gt;•  Manifestasi Klinis Diare &lt;br /&gt;1. Mula-mula anak/bayi cengeng gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu makan berkurang. &lt;br /&gt;2. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer, kadang disertai wial dan wiata. &lt;br /&gt;3. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu. &lt;br /&gt;4. Anus dan sekitarnya lecet karena seringnya difekasi dan tinja menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat. &lt;br /&gt;5. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elistitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan disertai penurunan berat badan. &lt;br /&gt;6. Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun, denyut jantung cepat, pasien sangat lemas, kesadaran menurun (apatis, samnolen, sopora komatus) sebagai akibat hipovokanik. &lt;br /&gt;7. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria). &lt;br /&gt;8. Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat dan pernafasan cepat dan dalam. (Kusmaul). &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;•  Pemeriksaan diagnostik &lt;br /&gt;Pemeriksaan tinja &lt;br /&gt;•  Makroskopis dan mikroskopis &lt;br /&gt;•  PH dan kadar gula dalam tinja &lt;br /&gt;•  Bila perlu diadakan uji bakteri &lt;br /&gt;1. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah. &lt;br /&gt;2. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal. &lt;br /&gt;3. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;•  Komplikasi &lt;br /&gt;1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik). &lt;br /&gt;2. Renjatan hipovolemik. &lt;br /&gt;3. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi, perubahan pada elektro kardiagram). &lt;br /&gt;4. Hipoglikemia. &lt;br /&gt;5. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena kerusakan vili mukosa, usus halus. &lt;br /&gt;6. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik. &lt;br /&gt;7. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga mengalami kelaparan. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;•  Derajat dehidrasi &lt;br /&gt;Menurut banyaknya cairan yang hilang, derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan: &lt;br /&gt;•  Kehilangan berat badan &lt;br /&gt;•  Tidak ada dehidrasi, bila terjadi penurunan berat badan 2,5%. &lt;br /&gt;•  Dehidrasi ringan bila terjadi penurunan berat badan 2,5-5%. &lt;br /&gt;•  Dehidrasi berat bila terjadi penurunan berat badan 5-10%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•  Pentalaksanaan &lt;br /&gt;1. Medis &lt;br /&gt;Dasar pengobatan diare adalah: &lt;br /&gt;•  Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya. &lt;br /&gt;•  Cairan per oral &lt;br /&gt;Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa cairan yang bersifat NaCl dan NaHCO 3 dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90 mEg/l. Pada anak dibawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan-sedang kadar natrium 50-60 mEg/l. Formula lengkap disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan tajin disebut formula yang tidak lengkap karena banyak mengandung NaCl dan sukrosa. &lt;br /&gt;•  Cairan parentral &lt;br /&gt;Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian sebagai berikut: &lt;br /&gt;•  Untuk anak umur 1 bl-2 tahun berat badan 3-10 kg &lt;br /&gt;•  1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus set berukuran 1 ml=15 tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes). &lt;br /&gt;•  7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset berukuran 1 ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes). &lt;br /&gt;•  16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit &lt;br /&gt;•  Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg &lt;br /&gt;•  1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 10 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes). &lt;br /&gt;•  Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg &lt;br /&gt;•  1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 7 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes). &lt;br /&gt;•  7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 3 tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes). &lt;br /&gt;•  16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral. &lt;br /&gt;•  Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg &lt;br /&gt;•  Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO 3 1½ %. &lt;br /&gt;Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8 tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts). &lt;br /&gt;•  Untuk bayi berat badan lahir rendah &lt;br /&gt;Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO 3 1½ %). &lt;br /&gt;•  Pengobatan dietetik &lt;br /&gt;Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg, jenis makanan: &lt;br /&gt;•  Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak tak jenuh &lt;br /&gt;•  Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim) &lt;br /&gt;•  Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang berantai sedang atau tak jenuh. &lt;br /&gt;•  Obat-obatan &lt;br /&gt;Prinsip pengobatan menggantikan cairan yang hilang dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain. &lt;br /&gt;1. Keperawatan &lt;br /&gt;Masalah klien diare yang perlu diperhatikan ialah resiko terjadinya gangguan sirkulasi darah, kebutuhan nutrisi, resiko komplikasi, gangguan rasa aman dan nyaman, kurangnya pengetahuan orang tua mengenai proses penyakit. &lt;br /&gt;Mengingat diare sebagian besar menular, maka perlu dilakukan penataan lingkungan sehingga tidak terjadi penularan pada klien lain. &lt;br /&gt;•  Data fokus &lt;br /&gt;•  Hidrasi &lt;br /&gt;•  Turgor kulit &lt;br /&gt;•  Membran mukosa &lt;br /&gt;•  Asupan dan haluaran &lt;br /&gt;•  Abdomen &lt;br /&gt;•  Nyeri &lt;br /&gt;•  Kekauan &lt;br /&gt;•  Bising usus &lt;br /&gt;•  Muntah-jumlah, frekuensi dan karakteristik &lt;br /&gt;•  Feses-jumlah, frekuensi, dan karakteristik &lt;br /&gt;•  Kram &lt;br /&gt;•  Tenesmus &lt;br /&gt;•  Diagnosa keperawatan &lt;br /&gt;•  Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan ketidakseimbangan antara intake dan out put. &lt;br /&gt;•  Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kontaminasi usus dengan mikroorganisme. &lt;br /&gt;•  Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi yang disebabkan oleh peningkatan frekuensi BAB. &lt;br /&gt;•  Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, tidak mengenal lingkungan, prosedur yang dilaksanakan. &lt;br /&gt;•  Kecemasan keluarga berhubungan dengan krisis situasi atau kurangnya pengetahuan. &lt;br /&gt;•  Intervensi &lt;br /&gt;•  Tingkatkan dan pantau keseimbangan cairan dan elektrolit &lt;br /&gt;•  Pantau cairan IV &lt;br /&gt;•  Kaji asupan dan keluaran &lt;br /&gt;•  Kaji status hidrasi &lt;br /&gt;•  Pantau berat badan harian &lt;br /&gt;•  Pantau kemampuan anak untuk rehidrasi &lt;br /&gt;•  Melalui mulut &lt;br /&gt;•  Cegah iritabilitas saluran gastro intestinal lebih lanjut &lt;br /&gt;•  Kaji kemampuan anak untuk mengkonsumsi melalui mulut (misalnya: pertama diberi cairan rehidrasi oral, kemudian meningkat ke makanan biasa yang mudah dicerna seperti: pisang, nasi, roti atau asi. &lt;br /&gt;•  Hindari memberikan susu produk. &lt;br /&gt;•  Konsultasikan dengan ahli gizi tentang pemilihan makanan. &lt;br /&gt;•  Cegah iritasi dan kerusakan kulit &lt;br /&gt;•  Ganti popok dengan sering, kaji kondisi kulit setiap saat. &lt;br /&gt;•  Basuh perineum dengan sabun ringan dan air dan paparkan terhadap udara. &lt;br /&gt;•  Berikan salep pelumas pada rektum dan perineum (feses yang bersifat asam akan mengiritasi kulit). &lt;br /&gt;•  Ikuti tindakan pencegahan umum atau enterik untuk mencegah penularan infeksi (merujuk pada kebijakan dan prosedur institusi). &lt;br /&gt;•  Penuhi kebutuhan perkembangan anak selama hospitalisasi. &lt;br /&gt;•  Sediakan mainan sesuai usia. &lt;br /&gt;•  Masukan rutinitas di rumah selama hospitalisasi. &lt;br /&gt;•  Dorong pengungkapan perasaan dengan cara-cara yang sesuai usia. &lt;br /&gt;•  Berikan dukungan emosional keluarga. &lt;br /&gt;•  Dorong untuk mengekspresikan kekhawatirannya. &lt;br /&gt;•  Rujuk layanan sosial bila perlu. &lt;br /&gt;•  Beri kenyamanan fisik dan psikologis. &lt;br /&gt;•  Rencana pemulangan. &lt;br /&gt;•  Ajarkan orang tua dan anak tentang higiene personal dan lingkungan. &lt;br /&gt;•  Kuatkan informasi tentang diet. &lt;br /&gt;•  Beri informasi tentang tanda-tanda dehidrasi pada orang tua. &lt;br /&gt;•  Ajarkan orang tua tentang perjanjian pemeriksaan ulang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1. Betz Cecily L, Sowden Linda A. 2002. Buku Saku Keperawatan&lt;br /&gt;Pediatik, Jakarta, EGC&lt;br /&gt;2. Sachasin Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatik. Alih bahasa : &lt;br /&gt;Manulang R.F. Jakarta, EGC&lt;br /&gt;4. Arjatmo T. 2001. Keadaan Gawat yang mengancam jiwa, Jakarta gaya baru&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-1681605900701396867?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/1681605900701396867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/diare.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/1681605900701396867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/1681605900701396867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/diare.html' title='DIARE'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-8714492955055320423</id><published>2009-06-22T06:47:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T06:49:10.239-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIABETES MELLITUS'/><title type='text'>DIABETES MELLITUS</title><content type='html'>DIABETES MELLITUS&lt;br /&gt;A. Pengertian&lt;br /&gt;Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).&lt;br /&gt;Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).&lt;br /&gt;B. Klasifikasi&lt;br /&gt;Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)&lt;br /&gt;2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)&lt;br /&gt;3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya&lt;br /&gt;4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)&lt;br /&gt;C. Etiologi&lt;br /&gt;1. Diabetes tipe I:&lt;br /&gt;a. Faktor genetik&lt;br /&gt;Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.&lt;br /&gt;b. Faktor-faktor imunologi&lt;br /&gt;Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.&lt;br /&gt;c. Faktor lingkungan&lt;br /&gt;Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.&lt;br /&gt;2. Diabetes Tipe II&lt;br /&gt;Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.&lt;br /&gt;Faktor-faktor resiko :&lt;br /&gt;a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)&lt;br /&gt;b. Obesitas&lt;br /&gt;c. Riwayat keluarga&lt;br /&gt;D. Patofisiologi/Pathways&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;E. Tanda dan Gejala&lt;br /&gt;Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.&lt;br /&gt;Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :&lt;br /&gt;1. Katarak &lt;br /&gt;2. Glaukoma&lt;br /&gt;3. Retinopati&lt;br /&gt;4. Gatal seluruh badan&lt;br /&gt;5. Pruritus Vulvae&lt;br /&gt;6. Infeksi bakteri kulit&lt;br /&gt;7. Infeksi jamur di kulit&lt;br /&gt;8. Dermatopati&lt;br /&gt;9. Neuropati perifer&lt;br /&gt;10. Neuropati viseral&lt;br /&gt;11. Amiotropi&lt;br /&gt;12. Ulkus Neurotropik&lt;br /&gt;13. Penyakit ginjal&lt;br /&gt;14. Penyakit pembuluh darah perifer&lt;br /&gt;15. Penyakit koroner&lt;br /&gt;16. Penyakit pembuluh darah otak&lt;br /&gt;17. Hipertensi &lt;br /&gt;Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut.&lt;br /&gt;Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak.&lt;br /&gt;Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas.&lt;br /&gt;F. Pemeriksaan Penunjang&lt;br /&gt;1. Glukosa darah sewaktu&lt;br /&gt;2. Kadar glukosa darah puasa&lt;br /&gt;3. Tes toleransi glukosa&lt;br /&gt;Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl)&lt;br /&gt;Bukan DM Belum pasti DM DM&lt;br /&gt;Kadar glukosa darah sewaktu &lt;br /&gt;- Plasma vena&lt;br /&gt;- Darah kapiler&lt;br /&gt;Kadar glukosa darah puasa&lt;br /&gt;- Plasma vena&lt;br /&gt;- Darah kapiler &lt;br /&gt;&lt; 100&lt;br /&gt;&lt;80&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;110&lt;br /&gt;&lt;90 &lt;br /&gt;100-200&lt;br /&gt;80-200&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;110-120&lt;br /&gt;90-110 &lt;br /&gt;&gt;200&lt;br /&gt;&gt;200&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;126&lt;br /&gt;&gt;110&lt;br /&gt;Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :&lt;br /&gt;1. Glukosa plasma sewaktu &gt;200 mg/dl (11,1 mmol/L)&lt;br /&gt;2. Glukosa plasma puasa &gt;140 mg/dl (7,8 mmol/L)&lt;br /&gt;3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) &gt; 200 mg/dl&lt;br /&gt;G. Penatalaksanaan&lt;br /&gt;Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.&lt;br /&gt;Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :&lt;br /&gt;1. Diet&lt;br /&gt;2. Latihan&lt;br /&gt;3. Pemantauan&lt;br /&gt;4. Terapi (jika diperlukan)&lt;br /&gt;5. Pendidikan&lt;br /&gt;H. Pengkajian&lt;br /&gt;? Riwayat Kesehatan Keluarga&lt;br /&gt;Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?&lt;br /&gt;? Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya&lt;br /&gt;Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.&lt;br /&gt;? Aktivitas/ Istirahat :&lt;br /&gt;Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.&lt;br /&gt;? Sirkulasi&lt;br /&gt;Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah&lt;br /&gt;? Integritas Ego&lt;br /&gt;Stress, ansietas&lt;br /&gt;? Eliminasi&lt;br /&gt;Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare&lt;br /&gt;? Makanan / Cairan&lt;br /&gt;Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.&lt;br /&gt;? Neurosensori&lt;br /&gt;Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan.&lt;br /&gt;? Nyeri / Kenyamanan&lt;br /&gt;Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat)&lt;br /&gt;? Pernapasan&lt;br /&gt;Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)&lt;br /&gt;? Keamanan&lt;br /&gt;Kulit kering, gatal, ulkus kulit.&lt;br /&gt;I. Masalah Keperawatan&lt;br /&gt;1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan&lt;br /&gt;2. Kekurangan volume cairan &lt;br /&gt;3. Gangguan integritas kulit&lt;br /&gt;4. Resiko terjadi injury&lt;br /&gt;J. Intervensi&lt;br /&gt;1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak.&lt;br /&gt;Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;? Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat&lt;br /&gt;? Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;? Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.&lt;br /&gt;? Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.&lt;br /&gt;? Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi.&lt;br /&gt;? Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral.&lt;br /&gt;? Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi.&lt;br /&gt;? Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala.&lt;br /&gt;? Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah.&lt;br /&gt;? Kolaborasi pemberian pengobatan insulin.&lt;br /&gt;? Kolaborasi dengan ahli diet.&lt;br /&gt;2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.&lt;br /&gt;Tujuan : kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;? Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik&lt;br /&gt;? Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul&lt;br /&gt;? Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas&lt;br /&gt;? Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa&lt;br /&gt;? Pantau masukan dan pengeluaran&lt;br /&gt;? Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung&lt;br /&gt;? Catat hal-hal seperti mual, muntah dan distensi lambung.&lt;br /&gt;? Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur&lt;br /&gt;? Kolaborasi : berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau pemeriksaan laboratorium (Ht, BUN, Na, K)&lt;br /&gt;3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer).&lt;br /&gt;Tujuan : gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan penyembuhan.&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;? Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan discharge, frekuensi ganti balut.&lt;br /&gt;? Kaji tanda vital&lt;br /&gt;? Kaji adanya nyeri&lt;br /&gt;? Lakukan perawatan luka&lt;br /&gt;? Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi.&lt;br /&gt;? Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.&lt;br /&gt;4. Resiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan&lt;br /&gt;Tujuan : pasien tidak mengalami injury&lt;br /&gt;Kriteria Hasil : pasien dapat memenuhi kebutuhannya tanpa mengalami injury&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;? Hindarkan lantai yang licin.&lt;br /&gt;? Gunakan bed yang rendah.&lt;br /&gt;? Orientasikan klien dengan ruangan.&lt;br /&gt;? Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari&lt;br /&gt;? Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani, Jakarta:EGC, 1997.&lt;br /&gt;Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.&lt;br /&gt;Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997.&lt;br /&gt;Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &amp; Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.&lt;br /&gt;Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.&lt;br /&gt;Arjatmo Tjokronegoro. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Cet 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-8714492955055320423?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/8714492955055320423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/diabetes-mellitus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/8714492955055320423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/8714492955055320423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/diabetes-mellitus.html' title='DIABETES MELLITUS'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-2410186713244363896</id><published>2009-06-22T06:45:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T06:47:16.445-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GAGAL NAFAS'/><title type='text'>ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GAGAL NAFAS</title><content type='html'>ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GAGAL NAFAS&lt;br /&gt;I. PENGERTIAN&lt;br /&gt;• Gagal nafas adalah ketidakmampuan sistem pernafasan untuk mempertahankan oksigenasi darah normal (PaO2), eliminasi karbon dioksida (PaCO2) dan pH yang adekuat disebabkanoleh masalah ventilasi difusi atau perfusi (Susan Martin T, 1997)&lt;br /&gt;• Gagal nafas adalah kegagalan sistem pernafasan untuk mempertahankan pertukaran oksigen dankarbondioksida dalam jumlah yangdapat mengakibatkan gangguan pada kehidupan (RS Jantung “Harapan Kita”, 2001)&lt;br /&gt;• Gagal nafas terjadi bilamana pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju komsumsioksigen dan pembentukan karbon dioksida dalam sel-sel tubuh. Sehingga menyebabkan tegangan oksigen kurang dari 50 mmHg (Hipoksemia) dan peningkatan tekanan karbondioksida lebih besar dari 45 mmHg (hiperkapnia). (Brunner &amp; Sudarth, 2001)&lt;br /&gt;II. PATOFISIOLOGI&lt;br /&gt;Gagal nafas ada dua macam yaitu gagal nafas akut dan gagal nafas kronik dimana masing masing mempunyai pengertian yang bebrbeda. Gagal nafas akut adalah gagal nafas yang timbul pada pasien yang parunyanormal secara struktural maupun fungsional sebelum awitan penyakit timbul. Sedangkan gagal nafas kronik adalah terjadi pada pasien dengan penyakit paru kronik seperti bronkitis kronik, emfisema dan penyakit paru hitam (penyakit penambang batubara).Pasien mengalalmi toleransi terhadap hipoksia dan hiperkapnia yang memburuk secara bertahap. Setelah gagal nafas akut biasanya paru-paru kembali kekeasaan asalnya. Pada gagal nafas kronik struktur paru alami kerusakan yang ireversibel. &lt;br /&gt;Indikator gagal nafas telah frekuensi pernafasan dan kapasitas vital, frekuensi penapasan normal ialah 16-20 x/mnt. Bila lebih dari20x/mnt tindakan yang dilakukan memberi bantuan ventilator karena “kerja pernafasan” menjadi tinggi sehingga timbul kelelahan. Kapasitasvital adalah ukuran ventilasi (normal 10-20 ml/kg).&lt;br /&gt;Gagal nafas penyebab terpenting adalah ventilasi yang tidak adekuatdimana terjadi obstruksi jalan nafas atas. Pusat pernafasan yang mengendalikan pernapasan terletak di bawah batang otak (pons dan medulla). Pada kasus pasien dengan anestesi, cidera kepala, stroke, tumor otak, ensefalitis, meningitis, hipoksia dan hiperkapnia mempunyai kemampuan menekan pusat pernafasan. Sehingga pernafasan menjadi lambat dan dangkal. Pada periode postoperatif dengan anestesi bisa terjadi pernafasan tidak adekuat karena terdapat agen menekan pernafasan denganefek yang dikeluarkanatau dengan meningkatkan efek dari analgetik opiood. Pnemonia atau dengan penyakit paru-paru dapat mengarah ke gagal nafas akut.&lt;br /&gt;PATHWAYS&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;III. ETIOLOGI&lt;br /&gt;1. Depresi Sistem saraf pusat&lt;br /&gt;Mengakibatkan gagal nafas karena ventilasi tidak adekuat. Pusat pernafasan yang menngendalikan pernapasan, terletak dibawah batang otak (pons dan medulla) sehingga pernafasan lambat dan dangkal.&lt;br /&gt;2. Kelainan neurologis primer&lt;br /&gt;Akan memperngaruhi fungsi pernapasan. Impuls yang timbul dalam pusat pernafasan menjalar melalui saraf yang membentang dari batang otak terus ke saraf spinal ke reseptor pada otot-otot pernafasan. Penyakit pada saraf seperti gangguan medulla spinalis, otot-otot pernapasan atau pertemuan neuromuslular yang terjadi pada pernapasan akan sangatmempengaruhiventilasi.&lt;br /&gt;3. Efusi pleura, hemotoraks dan pneumothoraks&lt;br /&gt;Merupakan kondisi yang mengganggu ventilasi melalui penghambatan ekspansi paru. Kondisi ini biasanya diakibatkan penyakti paru yang mendasari, penyakit pleura atau trauma dan cedera dan dapat menyebabkan gagal nafas.&lt;br /&gt;4. Trauma&lt;br /&gt;Disebabkan oleh kendaraan bermotor dapat menjadi penyebab gagal nafas. Kecelakaan yang mengakibatkan cidera kepala, ketidaksadaran dan perdarahan dari hidung dan mulut dapat mnegarah pada obstruksi jalan nafas atas dan depresi pernapasan. Hemothoraks, pnemothoraks dan fraktur tulang iga dapat terjadi dan mungkin meyebabkan gagal nafas. Flail chest dapat terjadi dan dapat mengarah pada gagal nafas. Pengobatannya adalah untuk memperbaiki patologi yang mendasar&lt;br /&gt;5. Penyakit akut paru&lt;br /&gt;Pnemonia disebabkan oleh bakteri dan virus. Pnemonia kimiawi atau pnemonia diakibatkan oleh mengaspirasi uap yang mengritasi dan materi lambung yang bersifat asam. Asma bronkial, atelektasis, embolisme paru dan edema paru adalah beberapa kondisi lain yang menyababkan gagal nafas.&lt;br /&gt;IV. TANDA DAN GEJALA&lt;br /&gt;A. Tanda&lt;br /&gt;Gagal nafas total&lt;br /&gt;• Aliran udara di mulut, hidung tidak dapat didengar/dirasakan.&lt;br /&gt;• Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikuladan sela iga serta tidak ada pengembangan dada pada inspirasi&lt;br /&gt;• Adanya kesulitasn inflasi parudalam usaha memberikan ventilasi buatan&lt;br /&gt;Gagal nafas parsial&lt;br /&gt;• Terdenganr suara nafas tambahan gargling, snoring, Growing dan whizing.&lt;br /&gt;• Ada retraksi dada&lt;br /&gt;B. Gejala&lt;br /&gt;• Hiperkapnia yaitu penurunan kesadaran (PCO2)&lt;br /&gt;• Hipoksemia yaitu takikardia, gelisah, berkeringat atau sianosis (PO2 menurun)&lt;br /&gt;V. PEMERIKSAAN PENUNJANG&lt;br /&gt;• Pemerikasan gas-gas darah arteri&lt;br /&gt;Hipoksemia&lt;br /&gt;Ringan : PaO2 &lt; 80 mmHg&lt;br /&gt;Sedang : PaO2 &lt; 60 mmHg&lt;br /&gt;Berat : PaO2 &lt; 40 mmHg&lt;br /&gt;• Pemeriksaan rontgen dada&lt;br /&gt;Melihat keadaan patologik dan atau kemajuan proses penyakit yang tidak diketahui&lt;br /&gt;• Hemodinamik&lt;br /&gt;Tipe I : peningkatan PCWP&lt;br /&gt;• EKG&lt;br /&gt;Mungkin memperlihatkan bukti-bukti regangan jantung di sisi kanan&lt;br /&gt;Disritmia&lt;br /&gt;VI. PENGKAJIAN&lt;br /&gt;Pengkajian Primer&lt;br /&gt;1. Airway&lt;br /&gt;• Peningkatan sekresi pernapasan&lt;br /&gt;• Bunyi nafas krekels, ronki dan mengi&lt;br /&gt;2. Breathing&lt;br /&gt;• Distress pernapasan : pernapasan cuping hidung, takipneu/bradipneu, retraksi.&lt;br /&gt;• Menggunakan otot aksesori pernapasan&lt;br /&gt;• Kesulitan bernafas : lapar udara, diaforesis, sianosis&lt;br /&gt;3. Circulation&lt;br /&gt;• Penurunan curah jantung : gelisah, letargi, takikardia&lt;br /&gt;• Sakit kepala&lt;br /&gt;• Gangguan tingkat kesadaran : ansietas, gelisah, kacau mental, mengantuk&lt;br /&gt;• Papiledema&lt;br /&gt;• Penurunan haluaran urine&lt;br /&gt;VII. PENTALAKSANAAN MEDIS&lt;br /&gt;• Terapi oksigen&lt;br /&gt;Pemberian oksigen kecepatan rendah : masker Venturi atau nasal prong&lt;br /&gt;• Ventilator mekanik dengan tekanan jalan nafas positif kontinu (CPAP) atau PEEP&lt;br /&gt;• Inhalasi nebuliser&lt;br /&gt;• Fisioterapi dada&lt;br /&gt;• Pemantauan hemodinamik/jantung&lt;br /&gt;• Pengobatan&lt;br /&gt;Brokodilator&lt;br /&gt;Steroid&lt;br /&gt;• Dukungan nutrisi sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;VIII. DIAGNOSA KEPERAWATAN&lt;br /&gt;1. Pola nafas tidak efektif b.d. penurunan ekspansi paru&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien dapat mempertahankan pola pernapasan yang efektif&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;Pasien menunjukkan&lt;br /&gt;• Frekuensi, irama dan kedalaman pernapasan normal&lt;br /&gt;• Adanya penurunan dispneu&lt;br /&gt;• Gas-gas darah dalam batas normal&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;• Kaji frekuensi, kedalaman dan kualitas pernapasan serta pola pernapasan.&lt;br /&gt;• Kaji tanda vital dan tingkat kesasdaran setaiap jam dan prn&lt;br /&gt;• Monitor pemberian trakeostomi bila PaCo2 50 mmHg atau PaO2&lt; 60 mmHg&lt;br /&gt;• Berikan oksigen dalam bantuan ventilasi dan humidifier sesuai dengan pesanan&lt;br /&gt;• Pantau dan catat gas-gas darah sesuai indikasi : kaji kecenderungan kenaikan PaCO2 atau kecendurungan penurunan PaO2&lt;br /&gt;• Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi nafas setiap 1 jam&lt;br /&gt;• Pertahankan tirah baring dengan kepala tempat tidur ditinggikan 30 sampai 45 derajat untuk mengoptimalkan pernapasan&lt;br /&gt;• Berikan dorongan utnuk batuk dan napas dalam, bantu pasien untuk mebebat dada selama batuk&lt;br /&gt;• Instruksikan pasien untuk melakukan pernapasan diagpragma atau bibir&lt;br /&gt;• Berikan bantuan ventilasi mekanik bila PaCO &gt; 60 mmHg. PaO2 dan PCO2 meningkat dengan frekuensi 5 mmHg/jam. PaO2 tidak dapat dipertahankan pada 60 mmHg atau lebih, atau pasien memperlihatkan keletihan atau depresi mental atau sekresi menjadi sulit untuk diatasi.&lt;br /&gt;2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan abnormalitas ventilasi-perfusi sekunder terhadap hipoventilasi&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Setelah diberikan tindakan keperawatan pasien dapat mempertahankan pertukaran gas yang adekuat&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;Pasien mampu menunjukkan :&lt;br /&gt;• Bunyi paru bersih&lt;br /&gt;• Warna kulit normal&lt;br /&gt;• Gas-gas darah dalam batas normal untuk usia yang diperkirakan&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;• Kaji terhadap tanda dan gejala hipoksia dan hiperkapnia&lt;br /&gt;• Kaji TD, nadi apikal dan tingkat kesadaran setiap[ jam dan prn, laporkan perubahan tinmgkat kesadaran pada dokter.&lt;br /&gt;• Pantau dan catat pemeriksaan gas darah, kaji adanya kecenderungan kenaikan dalam PaCO2 atau penurunan dalam PaO2&lt;br /&gt;• Bantu dengan pemberian ventilasi mekanik sesuai indikasi, kaji perlunya CPAP atau PEEP.&lt;br /&gt;• Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi nafas setiap jam&lt;br /&gt;• Tinjau kembali pemeriksaan sinar X dada harian, perhatikan peningkatan atau penyimpangan&lt;br /&gt;• Pantau irama jantung&lt;br /&gt;• Berikan cairan parenteral sesuai pesanan&lt;br /&gt;• Berikan obat-obatan sesuai pesanan : bronkodilator, antibiotik, steroid.&lt;br /&gt;• Evaluasi AKS dalam hubungannya dengan penurunan kebutuhan oksigen.&lt;br /&gt;3. Kelebihan volume cairan b.d. edema pulmo&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Setelah diberikan tindakan perawatan pasien tidak terjadi kelebihan volume cairan&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;Pasien mampu menunjukkan:&lt;br /&gt;• TTV normal&lt;br /&gt;• Balance cairan dalam batas normal&lt;br /&gt;• Tidak terjadi edema&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;• Timbang BB tiap hari&lt;br /&gt;• Monitor input dan output pasien tiap 1 jam&lt;br /&gt;• Kaji tanda dan gejala penurunan curah jantung &lt;br /&gt;• Kaji tanda-tanda kelebihan volume : edema, BB , CVP &lt;br /&gt;• Monitor parameter hemodinamik&lt;br /&gt;• Kolaburasi untuk pemberian cairandan elektrolit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Gangguan perfusi jaringan b.d. penurunan curah jantung&lt;br /&gt;Tujuan :&lt;br /&gt;Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien mampu mempertahankan perfusi jaringan.&lt;br /&gt;Kriteria Hasil :&lt;br /&gt;Pasien mampu menunjukkan&lt;br /&gt;• Status hemodinamik dalam bata normal&lt;br /&gt;• TTV normal&lt;br /&gt;Intervensi :&lt;br /&gt;• Kaji tingkat kesadaran&lt;br /&gt;• Kaji penurunan perfusi jaringan&lt;br /&gt;• Kaji status hemodinamik&lt;br /&gt;• Kaji irama EKG&lt;br /&gt;• Kaji sistem gastrointestinal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar pustaka&lt;br /&gt;Hudak and Gallo, (1994), Critical Care Nursing, A Holistic Approach, JB Lippincott company, Philadelpia.&lt;br /&gt;Marilynn E Doengoes, et all, alih bahasa Kariasa IM, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, EGC, Jakarta.&lt;br /&gt;Reksoprodjo Soelarto, (1995), Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suddarth Doris Smith, (1991), The lippincott Manual of Nursing Practice, fifth edition, JB Lippincott Company, Philadelphia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-2410186713244363896?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/2410186713244363896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/2410186713244363896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/2410186713244363896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan.html' title='ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GAGAL NAFAS'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7557271371171681425.post-6915335266147254749</id><published>2009-06-22T06:34:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T06:44:57.395-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN FRAKTUR CRURIS'/><title type='text'>ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN FRAKTUR CRURIS</title><content type='html'>ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN FRAKTUR CRURIS&lt;br /&gt;I. PENGERTIAN&lt;br /&gt;Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner &amp;amp; Suddart, 2000)&lt;br /&gt;II. JENIS FRAKTUR&lt;br /&gt;a. Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran.&lt;br /&gt;b. Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang&lt;br /&gt;c. Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit&lt;br /&gt;d. Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.&lt;br /&gt;e. Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi lainnya membengkak.&lt;br /&gt;f. Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang&lt;br /&gt;g. Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen&lt;br /&gt;h. Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam&lt;br /&gt;i. Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)&lt;br /&gt;j. Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya.&lt;br /&gt;III. ETIOLOGI&lt;br /&gt;a. Trauma&lt;br /&gt;b. Gerakan pintir mendadak&lt;br /&gt;c. Kontraksi otot ekstem&lt;br /&gt;d. Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. MANIFESTASI KLINIS&lt;br /&gt;a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema&lt;br /&gt;b. Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah&lt;br /&gt;c. Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur&lt;br /&gt;d. Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya&lt;br /&gt;e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG&lt;br /&gt;a. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya&lt;br /&gt;b. Pemeriksaan jumlah darah lengkap&lt;br /&gt;c. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai&lt;br /&gt;d. Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal&lt;br /&gt;VII. PENATALAKSANAAN&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;a. Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak semula.&lt;br /&gt;b. Imobilisasi fraktur&lt;br /&gt;Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna&lt;br /&gt;c. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi&lt;br /&gt;? Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan&lt;br /&gt;? Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri&lt;br /&gt;? Status neurovaskuler (misal: peredarandarah, nyeri, perabaan gerakan) dipantau&lt;br /&gt;? Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalakan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VIII. KOMPLIKASI&lt;br /&gt;a. Malunion : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak seharusnya.&lt;br /&gt;b. Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.&lt;br /&gt;c. Non union : tulang yang tidak menyambung kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IX. PENGKAJIAN&lt;br /&gt;1. Pengkajian primer&lt;br /&gt;- Airway&lt;br /&gt;Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk&lt;br /&gt;- Breathing&lt;br /&gt;Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi&lt;br /&gt;- Circulation&lt;br /&gt;TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut&lt;br /&gt;2. Pengkajian sekunder&lt;br /&gt;a.Aktivitas/istirahat&lt;br /&gt;? kehilangan fungsi pada bagian yangterkena&lt;br /&gt;? Keterbatasan mobilitas&lt;br /&gt;b. Sirkulasi&lt;br /&gt;? Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)&lt;br /&gt;? Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)&lt;br /&gt;? Tachikardi&lt;br /&gt;? Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera&lt;br /&gt;? Cailary refil melambat&lt;br /&gt;? Pucat pada bagian yang terkena&lt;br /&gt;? Masa hematoma pada sisi cedera&lt;br /&gt;c. Neurosensori&lt;br /&gt;? Kesemutan&lt;br /&gt;? Deformitas, krepitasi, pemendekan&lt;br /&gt;? kelemahan&lt;br /&gt;d. Kenyamanan&lt;br /&gt;? nyeri tiba-tiba saat cidera&lt;br /&gt;? spasme/ kram otot&lt;br /&gt;e. Keamanan&lt;br /&gt;? laserasi kulit&lt;br /&gt;? perdarahan&lt;br /&gt;? perubahan warna&lt;br /&gt;? pembengkakan lokal&lt;br /&gt;X. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI&lt;br /&gt;a. Kerusakan mobilitas fisik b.d cedera jaringan sekitasr fraktur, kerusakan rangka neuromuskuler&lt;br /&gt;Tujuan : kerusakn mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperaawatan&lt;br /&gt;Kriteria hasil:&lt;br /&gt;? Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin&lt;br /&gt;? Mempertahankan posisi fungsinal&lt;br /&gt;? Meningkaatkan kekuatan /fungsi yang sakit&lt;br /&gt;? Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas&lt;br /&gt;Intervensi:&lt;br /&gt;a. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan&lt;br /&gt;b. Tinggikan ekstrimutas yang sakit&lt;br /&gt;c. Instruksikan klien/bantu dalam latian rentanng gerak pada ekstrimitas yang sakit dan tak sakit&lt;br /&gt;d. Beri penyangga pada ekstrimit yang sakit diatas dandibawah fraktur ketika bergerak&lt;br /&gt;e. Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas&lt;br /&gt;f. Berikan dorongan ada pasien untuk melakukan AKS dalam lngkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan’Awasi teanan daraaah, nadi dengan melakukan aktivitas&lt;br /&gt;g. Ubah psisi secara periodik&lt;br /&gt;h. Kolabirasi fisioterai/okuasi terapi&lt;br /&gt;b.Nyeri b.d spasme tot , pergeseran fragmen tulang&lt;br /&gt;Tujuan ; nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan&lt;br /&gt;Kriteria hasil:&lt;br /&gt;? Klien menyatajkan nyei berkurang&lt;br /&gt;? Tampak rileks, mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat&lt;br /&gt;? Tekanan darahnormal&lt;br /&gt;? Tidak ada eningkatan nadi dan RR&lt;br /&gt;Intervensi:&lt;br /&gt;a. Kaji ulang lokasi, intensitas dan tpe nyeri&lt;br /&gt;b. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring&lt;br /&gt;c. Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk melakukan aktivitas hiburan&lt;br /&gt;d. Ganti posisi dengan bantuan bila ditoleransi&lt;br /&gt;e. Jelaskanprosedu sebelum memulai&lt;br /&gt;f. Akukan danawasi latihan rentang gerak pasif/aktif&lt;br /&gt;g. Drong menggunakan tehnik manajemen stress, contoh : relasksasi, latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan&lt;br /&gt;h. Observasi tanda-tanda vital&lt;br /&gt;i. Kolaborasi : pemberian analgetik&lt;br /&gt;C. Kerusakan integritas jaringan b.d fraktur terbuka , bedah perbaikan&lt;br /&gt;Tujuan: kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan&lt;br /&gt;Kriteria hasil:&lt;br /&gt;? Penyembuhan luka sesuai waktu&lt;br /&gt;? Tidak ada laserasi, integritas kulit baik&lt;br /&gt;Intervensi:&lt;br /&gt;a. Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau drainae&lt;br /&gt;b. Monitor suhu tubuh&lt;br /&gt;c. Lakukan perawatan kulit, dengan sering pada patah tulang yang menonjol&lt;br /&gt;d. Lakukan alihposisi dengan sering, pertahankan kesejajaran tubuh&lt;br /&gt;e. Pertahankan sprei tempat tidur tetap kering dan bebas kerutan&lt;br /&gt;f. Masage kulit ssekitar akhir gips dengan alkohol&lt;br /&gt;g. Gunakan tenaat tidur busa atau kasur udara sesuai indikasi&lt;br /&gt;h. Kolaborasi emberian antibiotik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1. Tucker,Susan Martin (1993). Standar Perawatan Pasien, Edisi V, Vol 3.Jakarta. EGC&lt;br /&gt;2. Donges Marilynn, E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3,Jakarta. EGC&lt;br /&gt;3. Smeltzer Suzanne, C (1997). Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner &amp;amp; Suddart. Edisi 8. Vol 3.Jakarta. EGC&lt;br /&gt;4. Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4.Jakarta. EGC&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7557271371171681425-6915335266147254749?l=askep-den.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://askep-den.blogspot.com/feeds/6915335266147254749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/6915335266147254749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7557271371171681425/posts/default/6915335266147254749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://askep-den.blogspot.com/2009/06/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan.html' title='ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN FRAKTUR CRURIS'/><author><name>askep</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07845965792276315149</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://4.bp.blogspot.com/_TbGjqDX2HL4/SoBlp6XSAuI/AAAAAAAAABI/i43iyVkEE2U/S220/images.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
